Refleksi Hari Jadi Lamongan ke-457: Antara Pecel Lele-lele, Pesantren, dan Mental Ora Ngisin-Isini

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Suasana Kabupaten Lamongan pada Selasa (26/5/2026) tampak berbeda. Pendopo kabupaten dipenuhi masyarakat yang mengikuti Refleksi Hari Jadi Lamongan ke-457 bersama Bupati dan Wakil Bupati. Kirab drumband, tongklek, dan beragam pertunjukan budaya bergerak mengelilingi kota, menghadirkan perayaan yang meriah sekaligus penuh makna.

Di tengah semarak peringatan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang muncul: apa sebenarnya makna menjadi wong Lamongan?

Bagi Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I—pemerhati sosial budaya asal Moropelang Babat sekaligus dosen Sekolah Pascasarjana UMSurabaya—jawabannya terasa sangat personal.

“Saya wong Lamongan. Dan saya bangga,” ujarnya.

Baginya, kebanggaan menjadi wong Lamongan bukan sekadar karena lahir di tanah soto, kota dengan kuliner yang terkenal ke mana-mana. Lebih dari itu, Lamongan adalah warisan mental hidup: keras, religius, ulet, namun tetap hangat dalam persaudaraan.

“Kalau ada daerah yang warganya bisa hidup di mana saja, lalu tetap merasa paling nyaman saat bertemu sesama perantau sambil bertanya ‘Sampeyan asli ndi?’, mungkin itu wong Lamongan,” tuturnya.

Ia menggambarkan wong Lamongan seperti selalu hadir di banyak tempat: di warung pecel lele pinggir jalan Jakarta, kapal-kapal laut di Kalimantan, kampus-kampus di Surabaya, hingga pasar-pasar di Malaysia. Di mana pun berada, selalu ada senyum khas wong Lamongan: sederhana, ramah, tetapi tahan banting.

Lamongan, menurutnya, mungkin tidak seramai Surabaya, tidak seterkenal Yogyakarta, atau tidak sesering muncul di brosur wisata seperti Bali. Namun dari tanah yang tampak tenang itu justru lahir manusia-manusia yang tangguh menghadapi hidup.

“Wong Lamongan itu seperti ikan asin. Makin dijemur, makin kuat rasanya,” katanya sambil tersenyum.

Pendidikan Adalah Harga Diri

Salah satu hal yang paling ia banggakan dari Lamongan ialah tingginya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan.

Di desa-desa, pemandangan orang tua bekerja keras demi sekolah anak-anaknya bukanlah hal baru. Ada yang rela menjual sawah, sepeda motor, bahkan menunda kebutuhan pribadi demi satu tujuan: anak bisa sekolah setinggi mungkin.

Bagi banyak keluarga Lamongan, pendidikan bukan sekadar mencari ijazah. Pendidikan adalah jalan mengubah nasib keluarga.

“Di Lamongan, hidup boleh sederhana, tapi cita-cita tidak boleh kecil. Boleh melarat, tapi pikiran jangan miskin,” ungkapnya.

Tak heran jika banyak mahasiswa asal Lamongan hidup prihatin saat kuliah. Tinggal di kos sempit, makan seadanya, motor tua, tetapi menyimpan mimpi besar untuk masa depan.

Persaudaraan yang Tidak Putus oleh Jarak

Selain pendidikan, kekuatan Lamongan terletak pada persaudaraan warganya.

Ada rasa dekat yang sulit dijelaskan ketika sesama orang Lamongan bertemu di rantau. Belum lama berkenalan, obrolan sudah mengalir seperti saudara lama. Dari sekadar bertanya asal desa, berlanjut menyebut nama seseorang, lalu ternyata masih punya hubungan satu kecamatan, satu sekolah, atau bahkan satu jalur keluarga.

Budaya guyub seperti ini menjadi sesuatu yang berharga di tengah zaman yang semakin individual.

Tradisi sambatan, gotong royong, saling membantu saat ada yang sakit atau kesusahan masih hidup di tengah masyarakat Lamongan. Solidaritas itu sering kali bergerak cepat tanpa perlu banyak formalitas.

Pesantren, Nafas Religius Wong Lamongan

Lamongan juga tumbuh dengan akar religius yang kuat.

Di banyak wilayah seperti Babat, Paciran, Solokuro, hingga Karanggeneng, pesantren berdiri menjadi pusat pendidikan, dakwah, sekaligus pembinaan karakter masyarakat.

Pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu agama. Ia adalah ruang pembentukan akhlak, kedisiplinan, keilmuan, dan kepedulian sosial.

Belum lagi jejak dakwah Sunan Drajat yang begitu lekat dengan Lamongan. Nilai dakwah yang diwariskannya tidak hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kepedulian pada kaum kecil, pendidikan umat, dan pemberdayaan masyarakat.

Dari sinilah Lamongan memiliki modal sosial dan spiritual yang besar untuk melahirkan generasi unggul: generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, sehat mentalnya, dan kuat karakternya.

Etos Kerja Keras dan Mental “Ora Ngisin-Isini”

Wong Lamongan juga dikenal dengan etos kerja yang kuat.

Ada petani yang akrab dengan sawah dan musim. Ada nelayan yang bersahabat dengan ombak. Ada pelaut yang berbulan-bulan jauh dari rumah. Ada pedagang yang merintis dari warung kecil sampai membuka usaha di kota lain.

Semua hidup dalam ritme kerja keras.

Mungkin dari situ lahir karakter wong Lamongan yang terkenal ulet, tidak gampang menyerah, dan selalu punya cara bertahan menghadapi keadaan.

“Ora ngisin-isini,” kata Gus Sholik.

Kalimat sederhana, tetapi sarat makna; menjaga nama baik, bekerja sungguh-sungguh, dan tidak mudah menyerah pada keadaan.

Menjaga Arah Lamongan

Dosen kelahiran Lamongan ini menyadari Lamongan masih punya banyak pekerjaan rumah. Kemiskinan masih ada. Infrastruktur belum sepenuhnya merata. Anak-anak muda juga menghadapi tantangan baru: budaya instan, tekanan media sosial, dan gaya hidup serba pamer.

Namun ia percaya Lamongan tidak akan kehilangan arah selama empat hal tetap dijaga: pendidikan, persaudaraan, pesantren, dan etos kerja keras.

Di akhir refleksinya, Gus Sholikh menyampaikan ucapan selamat Hari Jadi Lamongan ke-457.

“Selamat Hari Jadi Lamongan ke-457. Tetaplah menjadi kota yang sederhana, tetapi melahirkan manusia-manusia kuat. Karena menjadi wong Lamongan bukan soal tinggal di mana, tetapi soal mental: kuat, nrimo, religius, dan tetap bisa tertawa meski hidup sedang ruwet.”

Dan mungkin di situlah makna sejati menjadi wong Lamongan:
tak harus selalu tampak di depan, tetapi selalu mampu bertahan;
tak selalu ramai dibicarakan, tetapi diam-diam melahirkan banyak orang hebat;
sederhana dalam wajahnya, kuat dalam jiwanya.

Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan