LAMONGAN lintasjatimnews – Pagi itu Aula H.M. Syukron Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan tampak berbeda. Wajah-wajah siswa kelas IX MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan memancarkan rasa bahagia sekaligus haru. Sebagian tersenyum lega, sebagian lain terlihat menahan perasaan yang sulit diucapkan.
Senin (25/5/2026) menjadi hari penting bagi mereka. Hari penetapan kelulusan. Hari yang dalam banyak tempat sering dirayakan dengan perpisahan meriah. Namun di Al Mizan, momen itu diberi nama lain: yudisium.
Bagi sebagian orang, mungkin hanya berbeda istilah. Tetapi bagi keluarga besar Al Mizan, maknanya jauh lebih dalam.
Di hadapan para santri, wali kelas, dan para guru, Mudir Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, Mujianto, M.Pd., berdiri menyampaikan sambutan. Suaranya tenang, tetapi penuh penekanan. Ia menjelaskan mengapa Al Mizan memilih menyebut acara itu yudisium, bukan perpisahan.
“Kalau hanya berganti nama tetapi tidak ada nilai yang lebih baik, itu sia-sia,” tuturnya.
Pilihan kata “yudisium”, menurutnya, bukan sekadar formalitas. Ada pesan pendidikan yang ingin ditanamkan. Bahwa kelulusan bukan identik dengan kebebasan tanpa batas. Bukan pula momentum meluapkan euforia secara berlebihan.
Al Mizan ingin para santri memaknai kelulusan dengan cara yang lebih dewasa: penuh syukur, penuh refleksi, dan tetap menjaga adab.
Sebab bagi Mujianto, santri tidak pernah benar-benar “berpisah” dengan tempat yang telah mendidiknya. Yang ada adalah melanjutkan perjalanan dengan membawa bekal nilai-nilai yang sudah ditanamkan.
Di tengah sambutannya, Mujianto melempar pertanyaan sederhana kepada para siswa. Pertanyaan yang membuat aula mendadak hening.
“Selama tiga tahun di Al Mizan… apa yang kalian dapat?”
Pertanyaan itu terdengar singkat. Tetapi jawabannya tentu panjang. Bahkan mungkin tidak selesai dijawab dalam satu hari.
Ada yang datang ke Al Mizan sebagai anak kecil yang masih menangis saat pertama mondok. Hari ini mereka berdiri lebih dewasa. Tubuh mereka bertambah tinggi. Cara berpikir mereka berubah. Cara berbicara pun lebih tertata.
Namun Al Mizan berharap yang tumbuh bukan hanya usia.
Yang lebih penting adalah akhlak. Cara memandang hidup. Cara membawa diri di tengah masyarakat.
Mujianto mengingatkan, kelulusan dari MTs bukan garis akhir. Bahkan bukan puncak.
Justru setelah ini akan datang ujian kehidupan yang lebih besar, ujian menjaga diri, menjaga prinsip, menjaga pergaulan, dan menjaga identitas sebagai muslim.
Ia berpesan kepada para santri agar tidak memaknai status “alumni” sebagai tiket kebebasan.
“Jangan sampai merasa sudah lulus lalu bebas semuanya. Justru setelah ini harus lebih bisa menjaga diri,” pesannya.
Bagi Al Mizan, pendidikan memang tidak berhenti di ruang kelas. Tidak selesai setelah ujian praktik, ujian madrasah, atau penilaian akhir.
Pendidikan di pesantren adalah proses panjang. Proses menumbuhkan manusia.
Di situlah para guru hadir mendampingi sejak pagi hingga malam, mengajar, menasihati, mengevaluasi, bahkan kadang menegur dengan penuh kasih. Sebuah proses yang tak selalu terlihat, tetapi perlahan membentuk karakter.
Seperti benih yang terus dirawat hingga tiba waktunya tumbuh.
Dan di Al Mizan, proses itu belum selesai di kelas IX.
Karena bagi pesantren, kelulusan bukan hanya tentang angka di rapor. Melainkan tentang seberapa jauh nilai-nilai itu hidup di dalam diri santri.
Yudisium pagi itu akhirnya bukan sekadar pengumuman kelulusan.
Ia menjadi ruang perenungan.
Tentang perjalanan tiga tahun yang telah dilalui.
Tentang ilmu yang sudah didapat.
Tentang adab yang harus terus dijaga.
Tentang identitas yang tidak boleh hilang meski suatu hari para santri keluar dari gerbang pesantren dan hidup di tengah masyarakat.
Pagi itu para siswa memang dinyatakan lulus.
Namun lebih dari itu, mereka sedang diingatkan bahwa perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.
Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan









