Yudisium Kelas IX MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan Berlangsung Khidmat dan Penuh Haru

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews — Pagi itu Aula HM Syukron di lingkungan Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan terasa berbeda. Deretan kursi tertata rapi. Wajah-wajah cerah para siswa kelas IX bercampur dengan tatapan haru para guru yang telah membersamai perjalanan mereka selama tiga tahun terakhir.

Di ruangan itu, Senin pagi (25/5/2026), MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan menggelar yudisium kelulusan siswa kelas IX. Sebuah momen sederhana, tetapi sarat makna—bukan sekadar penanda berakhirnya masa belajar di bangku madrasah tsanawiyah, melainkan juga penutup dari perjalanan tumbuh, belajar, dan berproses sebagai santri.

Turut hadir Mudir Al Mizan Mujianto M.Pd beserta jajaran wakil mudir, Kepala Madrasah Alimah M.Pd, wali kelas, dewan guru, serta seluruh siswa kelas IX yang menjadi pusat kebahagiaan hari itu.

Namun di balik senyum yang mengembang dan ucapan selamat yang saling bersahutan, terselip rasa haru yang sulit disembunyikan.

Dalam sambutannya, Kepala MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Alimah M.Pd menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya yudisium sekaligus menyampaikan pesan mendalam kepada seluruh siswa yang akan melangkah menuju fase pendidikan berikutnya.

“Alhamdulillah, hari ini anak-anak telah sampai pada satu titik penting dalam perjalanan belajarnya. Saya ucapkan selamat kepada seluruh siswa kelas IX. Ini adalah akhir dari pembelajaran di tingkat MTs, tetapi bukan akhir dari proses belajar,” tuturnya.

Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam.

Alimah mengenang kembali hari-hari ketika para siswa pertama kali datang sebagai santri baru di kelas VII. Sebagian masih canggung, sebagian belum betah tinggal di pondok, bahkan tak sedikit yang masih menangis karena rindu rumah. Kini, tiga tahun telah berlalu. Anak-anak yang dulu datang dengan wajah polos itu telah tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang lebih matang.

“Dulu saat pertama datang masih banyak yang menangis, belum betah, penuh cerita. Sekarang saya melihat kalian sudah tumbuh menjadi lebih dewasa. Semua proses itu sangat berharga,” ujarnya.

Sebagai seorang pendidik, Alimah mengakui perjalanan mendampingi siswa kelas IX bukanlah perjalanan yang ringan. Ada dinamika, ada kenakalan khas remaja, ada kegelisahan menjelang ujian, juga beragam cerita yang kerap menguras tenaga dan pikiran para guru. Namun justru dari situlah lahir kenangan yang tak mudah dilupakan.

Di hadapan para siswa, ia menitipkan pesan yang menjadi inti dari pendidikan di Al Mizan: ilmu penting, prestasi membanggakan, tetapi akhlak harus tetap menjadi yang utama.

Menurutnya, dunia luar kelak akan menguji banyak hal. Bukan hanya kecerdasan berpikir, tetapi juga sikap, adab, dan cara membawa diri di tengah masyarakat.

“Yang paling penting bukan hanya prestasi atau nilai yang kalian dapatkan, tetapi karakter dan akhlak. Tunjukkan kepada masyarakat bahwa kalian adalah santri lulusan Al Mizan yang memiliki adab, akhlak baik, dan siap memberi manfaat di mana pun berada,” pesannya.

Pesan itu seolah menjadi penegas bahwa pendidikan di pesantren bukan hanya soal angka di rapor atau capaian akademik, tetapi tentang membentuk manusia yang utuh—berilmu sekaligus beradab.

Alimah juga berharap para lulusan tetap melanjutkan pendidikan dengan sungguh-sungguh, menjaga nama baik almamater, dan terus membawa nilai-nilai pesantren dalam kehidupan sehari-hari.

Yudisium pagi itu akhirnya bukan hanya seremoni kelulusan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara kenangan, rasa syukur, harapan, dan doa-doa yang diam-diam dipanjatkan oleh para guru kepada anak didiknya.

Di akhir acara, haru kian terasa. Senyum bahagia para siswa berbaur dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sebagian guru menatap anak-anak didiknya dengan bangga, menyadari bahwa mereka akan segera melangkah menuju perjalanan yang lebih jauh.

Tiga tahun mungkin telah selesai. Tetapi bagi keluarga besar MTs Mulimas Al Mizan, ikatan itu tak pernah benar-benar usai.

Sebab dari aula itu, bukan hanya siswa yang dilepas menuju masa depan. Tetapi juga kenangan, doa, dan harapan yang ikut mengiringi langkah mereka ke mana pun kehidupan akan membawa.

Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan