SURABAYA lintasjatimnews – Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, masyarakat hidup dalam situasi yang serba cepat. Informasi datang tanpa henti melalui telepon pintar, media sosial, dan berbagai platform digital.
Dalam hitungan detik seseorang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain. Namun ironisnya, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu sejalan dengan meningkatnya kualitas literasi masyarakat.
Banyak orang hari ini gemar membaca judul, tetapi malas memahami isi. Tidak sedikit yang mudah menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.
Budaya membaca perlahan tergeser oleh budaya melihat sekilas dan menggulir layar tanpa arah. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan mendalam semakin melemah.
Di sinilah pentingnya literasi bagi sebuah generasi. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi kemampuan memahami, menganalisis, serta menggunakan informasi secara bijak dalam kehidupan. Literasi adalah fondasi peradaban. Bangsa yang kuat selalu ditopang oleh masyarakat yang mencintai ilmu pengetahuan dan budaya membaca.
Peringatan Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Apakah kita benar-benar telah menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup? Ataukah buku hanya menjadi pajangan di rak-rak perpustakaan dan sudut rumah?
Hari ini kita menghadapi tantangan besar. Anak-anak lebih akrab dengan gawai dibandingkan buku. Waktu berjam-jam habis untuk media sosial, permainan daring, atau video pendek, sementara membaca beberapa halaman buku terasa membosankan.
Padahal kebiasaan membaca memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir dan bersikap.
Orang yang gemar membaca biasanya memiliki wawasan lebih luas, kemampuan komunikasi yang baik, dan daya pikir yang lebih matang. Membaca melatih kesabaran, ketelitian, dan kemampuan memahami persoalan secara utuh. Sebaliknya, budaya instan sering membuat seseorang mudah terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.
Karena itu, budaya literasi harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Anak-anak yang tumbuh di rumah yang akrab dengan buku cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Orang tua perlu memberi teladan nyata. Sulit mengajak anak mencintai buku jika orang tua sendiri lebih sering sibuk dengan telepon genggam.
Sekolah juga memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi. Guru bukan hanya pengajar, tetapi penggerak peradaban membaca. Kehadiran perpustakaan yang nyaman, pojok baca di kelas, dan kegiatan diskusi buku dapat menjadi langkah sederhana menumbuhkan minat baca siswa. Membaca jangan diposisikan sebagai kewajiban yang membosankan, tetapi sebagai kebutuhan yang menyenangkan.
Selain itu, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan juga perlu mengambil peran dalam gerakan literasi. Masjid, misalnya, tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembelajaran umat. Tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi perlu terus dihidupkan agar masyarakat memiliki daya pikir yang kuat.
Di era digital, literasi juga berarti kemampuan menyaring informasi. Tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang ramai dibicarakan membawa manfaat. Generasi yang memiliki budaya literasi yang baik tidak akan mudah terprovokasi oleh hoaks, ujaran kebencian, maupun informasi menyesatkan. Mereka mampu berpikir jernih sebelum bertindak.
Slogan “Literasi Menguatkan Generasi” bukan sekadar rangkaian kata indah. Slogan ini mengandung pesan mendalam bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas literasinya. Generasi yang kuat bukan hanya generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi generasi yang mampu berpikir kritis, berakhlak baik, dan terus belajar sepanjang hayat.
Buku mungkin terlihat sederhana, tetapi dari lembaran-lembaran itulah lahir pemikiran besar yang mengubah dunia. Para tokoh besar dunia dikenal karena kedekatannya dengan ilmu pengetahuan dan tradisi membaca. Mereka memahami bahwa membaca bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperluas cara pandang terhadap kehidupan.
Karena itu, membangun budaya literasi bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ia memerlukan keteladanan, kesabaran, dan gerakan bersama. Keluarga, sekolah, masyarakat, organisasi, dan pemerintah harus berjalan seiring dalam menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Sudah saatnya kita mengembalikan buku ke tempat yang mulia. Sudah waktunya membaca menjadi budaya, bukan sekadar slogan. Sebab dari generasi yang gemar membaca akan lahir generasi yang kuat, cerdas, dan mampu membawa bangsa menuju masa depan yang lebih baik.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









