LAMONGAN lintasjatimnews – Setiap tanggal 2 Mei, upacara bendera dan balutan baju adat kembali menjadi pemandangan yang lazim di seluruh penjuru negeri. Suasana haru dan penuh penghormatan terhadap para “pahlawan tanpa tanda jasa” seakan menjadi narasi utama dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional. Sebuah sebutan yang simbolik, namun ironis, bagi profesi guru yang sejatinya memegang peran fundamental dalam menentukan arah masa depan bangsa.
Namun, di balik kemeriahan seremonial tersebut, peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini semestinya membawa pesan yang jauh lebih mendesak. Pendidikan hari ini tidak lagi sekadar berbicara tentang akses literasi, angka kelulusan, atau capaian administratif lainnya. Pendidikan telah menjelma menjadi medan pertarungan budaya yang menentukan eksistensi bangsa Indonesia di tengah arus global yang kian kompleks dan kompetitif.
Menurut Dr. Dra. Ida Sukowati, M.Hum, mantan Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, pendidikan tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah semata. Tanpa mengurangi penghormatan terhadap perjuangan Ki Hadjar Dewantara, dunia pendidikan saat ini dituntut untuk melampaui nostalgia historis dan bergerak menuju pendekatan yang lebih komprehensif. Pendidikan harus dilihat sebagai ekosistem yang utuh—mencakup karakter, kompetensi, dan identitas kebangsaan.
Sebagai doktor filsafat lulusan UGM dan doktor pendidikan bahasa dari UNESA, Ida Sukowati menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi mesin utama dalam membentuk cara manusia berpikir, merasa, dan bertindak. Sayangnya, realitas menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih sering terjebak dalam formalitas administratif, sementara dunia di luar bergerak cepat dalam arus transformasi digital yang radikal.
Pengalaman beliau sebagai dosen tamu lintas negara memperlihatkan bahwa digitalisasi telah menghapus batas-batas geografis dan kultural. Pendidikan kini berada tepat di tengah pertarungan budaya global. Nilai-nilai asing—baik yang progresif maupun destruktif—masuk tanpa filter ke dalam kehidupan peserta didik melalui genggaman teknologi.
Dalam konteks tersebut, Ida Sukowati menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap munculnya narasi penghapusan jurusan pendidikan. Menurutnya, gagasan ini merupakan bentuk penyempitan makna pendidikan yang hanya dipandang sebagai alat produksi tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan pasar global. Perspektif tersebut mengabaikan fungsi utama pendidikan sebagai sarana pembebasan manusia dan pembentukan peradaban.
Sebagai alumni TOT Lemhanas RI Angkatan II-tahun 2021 dan sekaligus menjadi bendahara nasional alumni TOT Lemhanas RI 2021, ia menegaskan bahwa pendidikan memiliki dimensi strategis dalam menjaga kedaulatan bangsa. Ia menyoroti dua persoalan mendasar yang tengah dihadapi dunia pendidikan saat ini. Pertama, masifnya gempuran budaya global yang berpotensi mengikis identitas kebangsaan. Kedua, kuatnya perang narasi di ruang digital yang secara tidak langsung menentukan arah pemikiran generasi muda.
“Dalam situasi ini, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan individu yang menjadi pengikut arus global. Sebaliknya, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang menjadi pelaku aktif dalam membentuk peradaban dunia, dengan tetap berakar pada nilai-nilai luhur lokal,” ujar peraih penghargaan Silverr Award, The Fourth International Competition On Sustainable Education 2025, category Innovation in Theaching and Learning di Malasyia.
Oleh karena itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan yang megah namun kosong makna. Momentum ini harus menjadi titik awal untuk membangun kesadaran baru bahwa pendidikan adalah strategi kebudayaan. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan teknokratis, tetapi juga membangun ruang-ruang pemikiran yang kritis, reflektif, dan berkarakter.
“Jika pendidikan gagal menjalankan fungsi tersebut, maka bangsa Indonesia berisiko menjadi sekadar penonton dalam sejarah yang ditulis oleh bangsa lain. Pendidikan harus hadir sebagai penyaring sekaligus pemantik daya kritis agar generasi muda mampu menavigasi kompleksitas dunia global tanpa kehilangan jati dirinya,” ungkap penulis buku Hybridization Sparks of Tarnsformativ Thingking: Linguistic Hybridization a Innovation and Creativity in Indonesian Language Practices
Sebagai penutup, Ida Sukowati menegaskan bahwa sudah saatnya kita berhenti melihat pendidikan hanya sebagai urusan sekolah dan guru. Pendidikan adalah strategi kebudayaan. Tanpa kesadaran ini, peringatan tahunan hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna, sementara bangsa ini perlahan kehilangan identitasnya dalam pusaran dunia yang terus bergerak tanpa batas.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









