SURABAYA lintasjatimnews.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui UPT Taman Budaya Jawa Timur akan menyelenggarakan pagelaran Ludruk Angling Dharma Bojonegoro dengan lakon PENDEKAR LOR KALI Sarip Tambak Oso bersama Sutradara Suyanto, S.Pd.
Pagelaran Ludruk berlangsung pada hari Jum’at, 8 September 2023, Pukul 20:00 WIB, di Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya,
Sanggar Ludruk Angling Dharma dari Bojonegoro ini di Pimpinan oleh Kadarminto S.H. yang selalu memberikan motivasi dalam membina anggotanya.
Acara ini di buka langsung oleh Ali Ma’rup, S.Sos., MM. selaku Kepala UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur dan dihadiri juga oleh beberapa tamu undangan :
Antusias pengunjung yang melihat pergelaran ini lebih dari 300 orang, bahkan ada yang dari kalangan orang tua, anak-anak, pelajar dan Mahasiswa.
Dalam sambutannya Ali Ma’ruf menginginkan kesenian Ludruk ini harus selalu dilestarikan bersama, sebagai wujud dari jati diri bangsa.
Harapan saya, kita sebagai generasi muda orang Jawa jangan sampai melupakan budaya dan adat kita sebagai orang Jawa yang merupan warisan luhur, ada sebuah pepatah Wong Jowo Ojo Ilang Jawane, yang mempunyai makna bahwa kita sebagai orang Jawa jangan meninggalkan adat dan budaya Jawa, tegas Ali Ma’ruf.
Tamu VIP Ludruk Angling Darmo Bojonegoro
- ANTHONY CLARK dari Konsulat Australia.
- Dr. H. JARIANTO, M.Si. dari Ketua STKW Surabaya.
- SINARTO, S.Kar., MM. dari Ketua PEPADI Jatim.
- Bapak dan Ibu Dosen STKW Surabaya.
- Bapak dan Ibu Dosen dan Mahasiswa UNAIR Surabaya.
- Para Komunitas Budaya di Surabaya Raya.
- Bapak dan Ibu serta Siswa SMP, SMA, dan SMK di Surabaya.
Sutradara menceritakan kisah ini berawal dari Penjajahan Kolonial Belanda, sejak jaman politik dagang VOC, hingga usaha penguasaan di wilayah Pemerintahan Negeri ini selalu mendapatkan perlawanan, baik itu secara individu maupun terorganisir.
Seperti seorang pendekar legendaris Lor Kali Porong adalah salah satu contoh pembangkang, pembayaran pajak pada Gouverment Belanda.
Dia berjuang bagaikan Robin Hood mencuri dan merampas harta milik penjajah, tuan tanah, antek-antek Belanda, rentenir pencekik leher rakyat cilik, untuk kembali dibagikan kepada kaum miskin dan tertindas.
Sedikitpun tak ada yang dia nikmati sendiri beserta keluarganya. Perjalanan hidup sang Pendekar Lor Kali pun penuh misteri.
Pertunjukan ludruk dengan lakon Pendekar Lor kali ini memberikan warna lain yang berbeda, dengan penggabungan dari dua masa yaitu, saat Sarip masih kecil sebagai anak berkisar umur 7 tahun, dan saat Sarip masih dalam usia bayi dalam gendongan. Cerita inilah yang nantinya Sarip mengetahui dan memahami siapa dirinya.
Dalam konsep garap kali ini kami ingin menyingkap dan menyampaikan kesan cerita ini sebagai tontonan, tuntunan, tatanan, serta titian kreatifitas.
Edukasi muatan cerita yang mudah dan indah untuk ditonton melalui alur cerita yang tersajikan.
Flashback atau kilas balik akan tersajikan melalui konsep yang mungguh realistis bahkan terkonsepkan dua masa kilas balik.
Sejak kecil sudah dalam masa sulit, masa kolonial dan terdzolimi oleh ketamakan sang ridwan pamannya. Gejolak jiwa Sarip saat dewasa diwarnai oleh masalah-masalah kecil. jiwa mudanya akhirnya bergejolak melawan ketamakan, kesewenang-wenangan dan penjajahan serta ingin membela, menolong orang kecil dalam kemiskinan.
Reporter: Cak Bas









