Dr. Nurul Badriyah: Wanita Santri Harus Menjadi Agen Perubahan, Menjaga Tradisi dan Budaya Indonesia

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Wanita santri memiliki peran strategis sebagai agent of change atau agen perubahan dalam menjaga tradisi, melestarikan budaya Indonesia, serta membangun masyarakat yang berakhlak dan berkemajuan. Dengan bekal ilmu agama, karakter, kreativitas, dan kecintaan terhadap tanah air, santriwati diharapkan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan.

Hal tersebut disampaikan Dr. Nurul Badriyah, S.E., M.Pd., M.M., dalam refleksi Hari Santri Nasional 2026 bertema “Wanita Santri Agent of Change: Menjaga Tradisi dan Budaya Indonesia dalam Semarak Hari Santri.”

Menurutnya, Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober bukan sekadar seremoni, mengenakan busana muslim, mengikuti upacara, atau menyelenggarakan berbagai perlombaan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat atas perjuangan santri dan ulama dalam mempertahankan agama, memperjuangkan kemerdekaan, serta berkontribusi dalam membangun bangsa Indonesia.

“Semarak Hari Santri harus menjadi momentum untuk memperkuat tanggung jawab generasi santri dalam menjaga nilai-nilai keislaman, merawat kebudayaan, dan melanjutkan perjuangan demi kemajuan bangsa,” ujar Wakil Rektor Universitas Islam Lamongan ini

Ia menegaskan, perempuan santri tidak hanya berperan sebagai penjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga sebagai perempuan berdaya yang mampu menghadirkan perubahan positif di tengah masyarakat.

Dengan bekal ilmu, akhlak, dan semangat pengabdian, wanita santri dapat menjadi penghubung antara tradisi, budaya, dan modernitas. Peran tersebut semakin penting di tengah derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat.

Semarak Hari Santri sebagai Ruang Kreativitas

Nurul Badriyah menjelaskan, pesantren merupakan pusat pendidikan, pembentukan karakter, sekaligus ruang pengembangan kreativitas generasi muda. Karena itu, peringatan Hari Santri hendaknya diisi dengan kegiatan yang tidak hanya meriah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Santriwati dapat menginisiasi festival budaya pesantren, lomba pidato bertema kebangsaan, pertunjukan seni tradisional, pameran kerajinan lokal, bazar produk usaha santri, hingga diskusi tentang peran perempuan dalam melestarikan warisan budaya Indonesia.

Kegiatan tersebut dapat memperkuat kepercayaan diri santriwati, mengembangkan jiwa kepemimpinan, serta memperluas wawasan mereka mengenai kekayaan budaya bangsa.

Selain itu, wanita santri dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi dan promosi kebudayaan. Konten digital mengenai sejarah pesantren, filosofi batik, kesenian daerah, kuliner tradisional, hingga kisah tokoh perempuan inspiratif dapat dikemas secara kreatif untuk menjangkau generasi muda.

“Dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi, semangat Hari Santri tidak boleh berhenti ketika rangkaian acara selesai. Nilai-nilai yang diperjuangkan harus terus hidup melalui tindakan nyata di lingkungan pesantren maupun masyarakat,” ungkap anggota Dewan Pendidikan Lamongan ini

Menguasai Teknologi Tanpa Kehilangan Identitas

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa wanita santri masa kini menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas diri di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup.

Arus informasi yang begitu cepat dapat membawa manfaat, tetapi juga berpotensi menjauhkan generasi muda dari tradisi dan budaya daerahnya. Oleh karena itu, santriwati perlu memiliki kemampuan menyaring informasi, berpikir kritis, serta menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Menurutnya, menjadi santriwati modern tidak berarti harus meninggalkan tradisi. Sebaliknya, menjaga budaya juga tidak berarti menolak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Wanita santri dapat mendalami kitab kuning sekaligus menguasai teknologi digital, menjaga kesantunan sekaligus berani menyampaikan gagasan, serta mencintai budaya lokal sambil membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Perpaduan antara nilai-nilai keagamaan, kecakapan digital, dan kepedulian terhadap kebudayaan akan menjadikan santriwati sebagai generasi yang mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan akar identitasnya.

Menjadi Pelopor Perubahan di Masyarakat

Nurul Badriyah berharap wanita santri mampu mengambil peran lebih luas dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan pemberdayaan perempuan.

Santriwati perlu membangun keberanian untuk berinovasi, mengembangkan potensi diri, serta menghadirkan solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat. Semangat belajar, kemandirian, kepedulian sosial, dan keteladanan akhlak harus menjadi bekal utama dalam menjalankan peran tersebut.

Dalam semarak Hari Santri 2026, ia mengajak seluruh wanita santri menjadikan momentum ini sebagai titik tolak untuk memperkuat komitmen menjaga tradisi dan budaya Indonesia sekaligus membangun masa depan bangsa.

Wanita santri bukan hanya pewaris tradisi, melainkan juga pelaku perubahan yang mampu menghidupkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan modern.

“Dengan demikian, semangat Hari Santri tidak sekadar dikenang melalui perayaan, tetapi diwujudkan dalam karya, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi agama, masyarakat, dan Indonesia,” pungkasnya.

Reporter Fathurrahim Syuhadi