LAMONGAN lintasjatimnews – Setiap 22 Oktober, kita kembali mengulang narasi besar Resolusi Jihad 1945. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari memfatwakan bahwa melawan penjajah adalah fardhu ‘ain. Para santri mengorbankan nyawa, sarung digulung, bambu runcing diacungkan. Hari Santri memang harus heroik, tetapi jika peringatan hanya berhenti pada upacara, ziarah, dan lomba baca kitab kuning, maka kita sedang memuseumkan santri. Padahal musuh hari ini tidak lagi memakai seragam tentara Belanda.
Demikian disampaikan Abd. Ghofur – Katib Syuriah MWC NU Lamongan, dalam refleksi memperingati Hari Santri 2026 ini, Rabu [22/10/2026]
Dikatakan Abd Ghofur, dulu penjajah itu jelas: datang dengan senjata, ingin menguasai tanah. Hari ini penjajah itu abstrak, tapi merusak lebih dalam. Ia bersemayam di gawai anak-anak kita. Ia bernama kebodohan yang dinormalisasi, kemiskinan yang diwariskan, dan kebohongan yang dianggap kebenaran. Maka pertanyaan kuncinya di 2026: jika dulu santri memanggul senjata, hari ini santri harus memanggul apa?
“Lihatlah di sekitar kita di Lamongan dan hampir di semua desa di Jawa Timur. Mushala ramai saat maghrib, tapi grup WhatsApp warga lebih ramai oleh hoaks politik dan ujaran kebencian. Seorang ibu menjual sawah bukan karena gagal panen, tapi karena suaminya terjerat judi online. Remaja hafal gerakan TikTok, tapi gagap membaca niat wudhu. Inilah medan jihad baru yang sering luput dari khutbah kita,” ujar Dosen di Universitas Adi Buana Surabaya_
Lanjutnya, contoh paling konkrit dan menyakitkan adalah judi online dan pinjaman online (pinjol). Data PPATK 2024-2025 menyebut perputaran judi online tembus ratusan triliun, dan korbannya bukan orang kota saja. Di warung kopi pinggir sawah, petani tambak yang habis panen justru menghabiskan uang di situs slot. Santri tidak bisa hanya berfatwa “haram”. Santri 2026 harus jadi penyuluh literasi keuangan syariah, membentuk Lumbung Santri untuk simpan pinjam tanpa riba, dan berani masuk ke balai desa menjelaskan cara memblokir situs dan melapor.
Berikutnya diungkapkan Abd Ghofur bahwa krisis akal sehat dan adab digital. Kita saksikan bagaimana orang yang baru bisa baca Al-Qur’an dua ayat berani mengkafirkan kiai sepuh di kolom komentar Facebook. Santri yang menguasai tradisi bahsul masail, dengan kultur tabayyun dan tawadhu, justru minder bersuara di ruang digital. Akibatnya, ruang publik dikuasai oleh penceramah instan yang menjual agama dengan marah-marah. Jika santri diam, maka umat akan belajar Islam dari algoritma, bukan dari sanad.
“Maka peran santri 2026 harus bergeser dari sekadar penjaga tradisi menjadi produsen solusi. Bentuk jihadnya tidak lagi angkat senjata, tetapi angkat data dan karya. Saya menyebutnya sebagai Tri Resolusi Jihad Baru,” ujar Kepala Bidang TNL Pondok Pesantren Annuur Lopang Kembangbahu ini
Resolusi pertama adalah Resolusi Literasi. Santri harus keluar dari pagar pesantren dengan papan tulis. Buat pojok literasi digital di setiap MWC NU, di setiap ranting. Ajari emak-emak cara membedakan berita hoaks, ajari bapak-bapak cara cek fakta sebelum share. Seorang santri yang menjadi admin grup PKK atau Karang Taruna jauh lebih strategis daripada santri yang hanya menunggu dipanggil ceramah Maulid.
Resolusi kedua adalah Resolusi Ekonomi. Jangan biarkan santri hanya jago sorogan, tapi lemah dalam berwirausaha. Kita butuh santri yang mengerti marketplace, mengerti sertifikasi halal, dan mengerti koperasi. Contoh kecil: di Tikung, banyak anak muda punya produk bandeng asap yang enak, tapi tidak punya foto produk yang bagus dan tidak tahu cara masuk Shopee. Di sinilah santri dengan HP dan sedikit ilmu desain bisa menjadi jembatan. Ini dakwah bil hal, bukan sekadar bil lisan.
Resolusi ketiga adalah Resolusi Sosial-Ekologi. Santri harus menjadi penjaga akal sehat desa. Ketika ada keluarga yang bertengkar karena warisan, santri dengan ilmu faraidh hadir sebagai mediator. Ketika ada kasus stunting yang tinggi karena ibu hamil lebih banyak makan mie instan daripada protein, santri putri dengan bekal fikih kesehatan dan posyandu harus turun. Ketika sungai kotor, santri bersama IPNU-IPPNU membuat gerakan resik-resik kali.
Ini semua membutuhkan perubahan cara kita mendidik santri. Jangan hanya bangga santri khatam Alfiyah 1000 bait, tapi gagap membaca regulasi desa. Pesantren harus berani membuka kelas critical thinking, kelas public speaking, kelas pengelolaan sampah, dan kelas keuangan digital. Identitas santri sebagai penjaga tradisi harus diperkaya dengan keterampilan sebagai pemecah masalah zaman.
Jika dulu para pendahulu kita mengorbankan nyawa agar merah putih tetap berkibar, maka tugas santri 2026 adalah mengorbankan rasa nyaman, mengorbankan ego sektarian, agar akal sehat, keadilan sosial, dan kelestarian alam tetap hidup di Republik ini. Musuh kita bukan lagi meriam, tapi kemalasan berpikir.
“Akhirnya, Hari Santri bukan tentang siapa yang paling NU, tapi siapa yang paling memberi manfaat. Selamat Hari Santri 2026. Saatnya sarung tidak hanya dipakai untuk shalat, tapi juga untuk membersihkan sungai, untuk ke pasar, dan untuk mengajar literasi di warung kopi. Karena di situlah, di warung, di sawah, di grup WhatsApp itulah, Indonesia dipertaruhkan,” pungkasnya
Reporter Fathurrahim Syuhadi









