Apik Eleke Manungso Tergantung Sapa Sing Crita

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Apik-eleke manungso iku sok gumantung sapa sing crita. Ungkapan Jawa ini sederhana, tetapi mengandung pelajaran yang dalam tentang kehidupan manusia.

Seseorang bisa dipandang baik oleh satu orang, tetapi dianggap kurang baik oleh orang lain. Seseorang bisa dipuji di satu tempat, tetapi dicela di tempat yang berbeda.

Mengapa demikian? Karena manusia sering melihat orang lain berdasarkan pengalaman, kepentingan, kedekatan, bahkan perasaan masing-masing.

Ada orang yang dikenal dermawan oleh tetangganya karena sering membantu ketika ada kesulitan. Namun, mungkin di mata orang lain ia dianggap pelit karena pernah menolak sebuah permintaan.

Ada seorang pemimpin yang dipandang tegas dan bertanggung jawab oleh sebagian orang, tetapi dianggap keras oleh sebagian lainnya. Padahal orangnya sama. Yang berbeda adalah sudut pandang orang yang menceritakan.

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika mendengar cerita tentang seseorang. Tidak semua cerita merupakan gambaran utuh tentang dirinya. Bisa jadi cerita tersebut hanya berasal dari satu pengalaman. Bisa juga sudah bercampur dengan rasa kecewa, sakit hati, kecemburuan, atau kepentingan tertentu.

Dalam kehidupan sehari-hari, betapa mudahnya kita membentuk penilaian hanya berdasarkan cerita orang lain. Kita belum pernah bertemu, belum pernah berinteraksi, bahkan belum mengetahui persoalannya secara langsung, tetapi sudah mengambil kesimpulan.

Padahal, Islam mengajarkan agar kita tidak mudah menerima berita tanpa melakukan pemeriksaan dan tabayun.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar orang-orang beriman memeriksa suatu berita yang datang dari seseorang, supaya tidak menimpakan musibah kepada orang lain karena ketidaktahuan dan akhirnya menyesal.

Pelajaran pentingnya adalah jangan terburu-buru menilai seseorang hanya dari cerita yang kita dengar. Dengarkan, tetapi jangan langsung percaya. Pahami, tetapi jangan buru-buru menghakimi. Jika memungkinkan, kenalilah seseorang dari sikap dan perbuatannya secara langsung.

Setiap manusia memiliki kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna. Orang yang hari ini diceritakan buruk mungkin memiliki banyak kebaikan yang tidak pernah diceritakan. Sebaliknya, orang yang selalu dipuji pun tetap memiliki kelemahan.

Maka, apik-eleke manungso ora mung gumantung sapa sing crita, nanging uga gumantung sepira jujur lan adil kita nalika menilai. Jangan menjadi penyambung cerita yang memperbesar keburukan.

Jadilah orang yang menjaga lisan, mencari kebenaran, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk dikenal melalui amal dan akhlaknya.

Sebab, terkadang seseorang bukan seburuk cerita tentang dirinya. Dan seseorang juga belum tentu sebaik pujian yang disampaikan kepadanya. Yang paling mengetahui hakikat manusia hanyalah Allah Swt.

Penulis Fathurrahim Syuhadi