Dosen UMLA Kenalkan Alat Ukur Tanah Pintar dan Formula Biologis Penggembur Tanah kepada Petani Wajik Lamongan

Listen to this article

LAMONGAN intasjatimnews — Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) memperkenalkan dua inovasi hasil riset di bidang pertanian kepada petani Desa Wajik, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan. Inovasi tersebut berupa Smart Soil Quality System (SSQS), alat pengukur kualitas tanah berbasis sensor, serta formulasi biologis penggembur tanah yang memanfaatkan mikroba dan bahan organik di sekitar lahan. Program ini merupakan Program Bestari Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi) tahun 2026 yang diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Dit. Minat Saintek), Kemdiktisaintek, dengan pendanaan dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dan melalui Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMLA.

Pengenalan teknologi dilakukan melalui kegiatan sosialisasi, diskusi terarah, dan uji coba awal SSQS di Balai Desa Wajik, Selasa malam (8/9/2026). Kegiatan ini melibatkan pengurus BUMDes Bangkit Desa Wajik beserta anggota dan tiga kelompok tani, yakni Kelompok Tani Subur 1, Subur 2, dan Gemah Ripah.

Dalam kegiatan tersebut, para petani tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai teknologi yang dikembangkan, tetapi juga diberi kesempatan mengoperasikan langsung SSQS. Petani dapat melihat hasil pengukuran kondisi tanah yang ditampilkan pada layar perangkat.

Ketua Tim Periset UMLA, Uswatun Chasanah, M.Si., menjelaskan bahwa riset tersebut berangkat dari persoalan yang dihadapi petani sawah-tambak, terutama dalam menentukan kebutuhan pemupukan secara tepat.

“Petani selama ini menentukan pemupukan berdasarkan perkiraan, karena tidak tersedia alat sederhana untuk mengetahui kondisi tanah sebelum tanam. Akibatnya pupuk bisa berlebih atau justru kurang, sementara biayanya terus naik,” ujarnya.

Menurutnya, karakteristik lahan sawah-tambak di Lamongan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Lahan yang digunakan secara bergantian untuk budidaya padi dan ikan dapat mengalami perubahan kondisi tanah dari satu musim ke musim berikutnya, termasuk tingkat keasaman dan kepadatan tanah.

SSQS, Alat Ukur Tanah yang Bisa Dibawa Langsung ke Lahan

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Smart Soil Quality System (SSQS). Perangkat tersebut dikembangkan untuk membantu petani memperoleh gambaran kondisi tanah secara langsung di lahan tanpa harus selalu membawa sampel ke laboratorium.

SSQS dapat membaca sejumlah parameter tanah, antara lain tingkat keasaman atau pH, kelembapan, daya hantar listrik, serta kandungan unsur hara nitrogen, fosfor, dan kalium.

Anggota tim periset yang menangani perakitan dan kalibrasi alat, Muhamad Azwar Annas, M.Si., mengatakan SSQS dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan penggunaan oleh petani.

“Hasil pembacaan ditampilkan pada layar sehingga dapat langsung dipahami. Alat ini sudah melewati tahap uji validitas dan kalibrasi sebelum diperkenalkan kepada petani,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, informasi kondisi tanah diharapkan dapat menjadi salah satu dasar bagi petani dalam menentukan tindakan pengelolaan lahan dan pemupukan secara lebih terukur.

Formula Biologis untuk Membantu Menggemburkan Tanah

Selain SSQS, tim UMLA juga memperkenalkan formulasi biologis penggembur tanah. Formula tersebut memanfaatkan mikroba pengurai dan bahan organik yang tersedia di sekitar lahan petani.

Formula dikembangkan dalam beberapa varian dan melalui pengulangan proses fermentasi. Selama proses tersebut, tim melakukan pemantauan suhu dan sejumlah parameter mutu dengan mengacu pada SNI 19-7030-2004.

Pengembangan formulasi ditangani oleh Dr. Rofiatun Solekha, M.Sc., dan Basuki, S.P., M.Sc. Rofi menjelaskan bahwa pendekatan biologis digunakan untuk membantu memperbaiki struktur tanah secara bertahap.

“Tanah yang padat tidak cukup diatasi dengan menambah pupuk kimia. Aktivitas mikroba dan bahan organik dibutuhkan agar tanah kembali gembur dan akar tanaman dapat berkembang,” ujar Rofi.

Pendekatan ini sekaligus diarahkan untuk memanfaatkan potensi bahan organik yang tersedia di sekitar petani sehingga teknologi yang dikembangkan dapat lebih mudah diterapkan pada tingkat kelompok tani.

BUMDes Siap Dukung Penerapan Teknologi

Direktur BUMDes Bangkit Desa Wajik, Drs. H. Ya’kub, M.T., menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menyatakan kesiapan BUMDes untuk mendampingi penerapan teknologi hasil riset UMLA di tingkat petani.

Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, BUMDes, dan kelompok tani dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat usaha tani masyarakat Desa Wajik.

Setelah tahap sosialisasi dan uji coba awal, tim peneliti UMLA akan melanjutkan kegiatan melalui uji lapang bersama petani pada musim tanam berikutnya. Tahapan tersebut juga akan disertai pendampingan penggunaan SSQS serta pembuatan formula biologis secara mandiri oleh kelompok tani.

Tim peneliti menegaskan bahwa kedua inovasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan. Karena itu, pengalaman dan masukan langsung dari petani menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan teknologi.

“Alat dan formula ini masih dalam tahap pengembangan, dan masukan petani justru menjadi bahan utama perbaikan kami,” kata Rofi.

Melalui kegiatan tersebut, UMLA tidak hanya memperkenalkan hasil riset kepada masyarakat, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan petani untuk mengembangkan teknologi pertanian yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lahan setempat.

Reporter: alfain