Transformasi Praktik Kinerja Guru melalui Coaching Berkelanjutan untuk Mewujudkan Pembelajaran Mendalam di SMP Negeri 3 Babat

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Transformasi kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh program dan kebijakan yang tertulis di atas kertas. Perubahan sesungguhnya terjadi di dalam ruang kelas, ketika guru berinteraksi dengan murid, membangun suasana belajar, mengajukan pertanyaan, memberikan kesempatan berpikir, hingga membantu murid menemukan makna dari apa yang dipelajarinya.

Pandangan tersebut menjadi dasar bagi Kepala SMP Negeri 3 Babat, Yuli Widdiyati, S.Pd., M.M.Pd., dalam melakukan transformasi praktik kinerja guru melalui pendekatan coaching berkelanjutan untuk mewujudkan pembelajaran mendalam.

Menurut Yuli Widdiyati, peningkatan kualitas pembelajaran merupakan salah satu tanggung jawab utama kepala sekolah. Kepala sekolah tidak hanya bertugas memastikan seluruh program sekolah berjalan, tetapi juga harus memastikan setiap murid memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

“Pada akhirnya, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam kelas. Bagaimana guru mengajar, bagaimana murid belajar, bagaimana interaksi dibangun, dan bagaimana pengalaman belajar tersebut memberikan makna bagi perkembangan murid,” ujarnya.

Berangkat dari kesadaran tersebut, SMP Negeri 3 Babat mulai mengubah cara pandang terhadap praktik kinerja guru. Observasi pembelajaran yang sebelumnya identik dengan kegiatan pemantauan dan penilaian, kini dikembangkan menjadi ruang belajar dan pengembangan profesional bagi guru.

Yuli menjelaskan, praktik kinerja guru dilakukan melalui observasi langsung di kelas. Kepala sekolah hadir untuk mengamati proses pembelajaran, mencatat berbagai peristiwa, serta melihat bagaimana guru melaksanakan pembelajaran. Namun, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pengamatan semata.

“Praktik kinerja tidak saya tempatkan sebagai kegiatan mencari kesalahan guru. Saya ingin kehadiran kepala sekolah di kelas menjadi bagian dari proses belajar guru,” katanya.

Pendekatan tersebut semakin penting ketika SMP Negeri 3 Babat mulai menguatkan implementasi pembelajaran mendalam. Pembelajaran mendalam dipahami bukan sebagai kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang menghadirkan proses belajar secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Melalui pembelajaran mendalam, murid tidak hanya diarahkan untuk mengetahui materi, tetapi juga memahami, menghubungkan, menerapkan, dan merefleksikan apa yang dipelajarinya. Guru pun tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, melainkan sebagai fasilitator yang menciptakan pengalaman belajar.

Meski pemahaman tentang konsep pembelajaran mendalam telah dibangun melalui berbagai pelatihan dan workshop, Yuli menyadari masih terdapat kesenjangan antara pemahaman konsep dan praktik nyata di kelas.

Sebagian pembelajaran masih berpusat pada guru. Aktivitas murid belum sepenuhnya aktif, sementara kesempatan untuk berpikir kritis, berdiskusi, berkolaborasi, memecahkan masalah, dan melakukan refleksi belum selalu muncul secara optimal.

Karena itu, coaching dipilih sebagai pendekatan dalam pelaksanaan praktik kinerja guru.

Bagi Yuli, coaching bukanlah kegiatan memberikan nasihat atau instruksi kepada guru. Coaching merupakan percakapan yang memberdayakan dan membantu guru menemukan sendiri kesadaran, kekuatan, potensi, serta langkah pengembangan yang diperlukan.

Perubahan dimulai sebelum observasi pembelajaran dilakukan. Guru terlebih dahulu diajak berdiskusi melalui coaching untuk menentukan target perilaku dan tujuan pengembangan yang ingin dicapai.

Dalam percakapan tersebut, guru diajak memikirkan tujuan pembelajaran, strategi yang akan digunakan, pengalaman belajar yang ingin diberikan kepada murid, hingga asesmen yang akan diterapkan.

Pertanyaan yang diajukan juga diarahkan pada perspektif murid. Bagaimana murid mengalami pembelajaran? Apa yang membuat mereka benar-benar memahami? Apakah kegiatan yang dirancang memiliki makna? Bagaimana guru mengetahui bahwa murid benar-benar belajar?

“Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat guru mulai melihat pembelajaran dari perspektif pengalaman murid,” ungkapnya.

Saat observasi berlangsung, kepala sekolah tidak hanya memperhatikan perilaku guru, tetapi juga mengamati keseluruhan proses pembelajaran. Mulai dari cara guru membuka pelajaran, memberikan pertanyaan, merespons murid, memberikan umpan balik, menggunakan asesmen formatif, hingga tingkat keterlibatan murid.

Setelah pembelajaran selesai, proses dilanjutkan dengan coaching pascaobservasi. Guru diberikan kesempatan untuk terlebih dahulu merefleksikan praktik pembelajaran yang baru dilakukan.

Pertanyaan seperti bagian mana yang sudah berjalan baik, bagaimana respons murid, serta bagian mana yang ingin dikembangkan apabila pembelajaran dilakukan kembali, menjadi pintu masuk refleksi.

Dari proses tersebut, guru mulai menemukan sendiri kekuatan maupun bagian pembelajaran yang perlu diperbaiki. Fokus pembicaraan pun tidak hanya tertuju pada apa yang dilakukan guru, tetapi terutama pada pengalaman belajar yang dialami murid.

Hasil coaching kemudian diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari. Ada guru yang mulai memperkuat pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning. Ada pula yang memperbaiki kualitas pertanyaan agar murid lebih banyak berpikir, memberikan ruang diskusi yang lebih luas, serta mengoptimalkan asesmen formatif.

Perjalanan transformasi tersebut tentu tidak selalu berjalan mudah. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kesiapan mental sebagian guru ketika diobservasi. Pada awalnya, kehadiran kepala sekolah masih dipersepsikan sebagai kegiatan penilaian yang dapat menghasilkan catatan negatif.

Karena itu, komunikasi terus dibangun agar guru memahami bahwa praktik kinerja merupakan ruang belajar, bukan ruang mencari kesalahan.

“Guru harus merasa aman untuk menunjukkan praktik pembelajaran yang sebenarnya. Tanpa keterbukaan, refleksi yang jujur tidak akan terjadi,” tegas Yuli.

Tantangan lain adalah menyamakan jadwal kepala sekolah dan guru serta membangun pemahaman tentang coaching. Yuli mengakui bahwa kepala sekolah juga harus terus belajar agar mampu menjalankan coaching secara konsisten.

Perlahan, perubahan mulai terlihat di SMP Negeri 3 Babat. Pembelajaran semakin memberikan ruang kepada murid untuk terlibat, berpikir, berdiskusi, bekerja sama, dan memecahkan masalah.

Asesmen formatif juga semakin dimanfaatkan sebagai sarana untuk memahami proses belajar murid dan menentukan langkah pembelajaran berikutnya, bukan sekadar menghasilkan nilai.

Dari sisi murid, mulai tumbuh budaya belajar yang berkesadaran, bermakna, memuliakan, serta mendorong tumbuhnya otonomi belajar. Dimensi profil lulusan seperti bernalar kritis, mandiri, dan gotong royong mulai tampak dalam berbagai aktivitas pembelajaran.

Ke depan, SMP Negeri 3 Babat terus memperkuat proses tersebut melalui refleksi individu murid, pembagian peran dalam kerja kelompok, pengembangan soal kontekstual berbasis HOTS, serta pemanfaatan hasil asesmen sebagai dasar perencanaan pembelajaran berikutnya.

Bagi Yuli Widdiyati, transformasi praktik pembelajaran tidak dapat dipaksakan hanya melalui instruksi. Guru perlu mengalami proses menyadari, mencoba, merefleksikan, dan memperbaiki.

Coaching berkelanjutan menjadi jembatan yang menghubungkan praktik kinerja dengan pembelajaran mendalam. Praktik kinerja menyediakan data nyata, coaching membantu guru memaknai data tersebut, tindak lanjut memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan, sedangkan refleksi memastikan perubahan terus berkembang.

“Transformasi dimulai dari sebuah observasi, berkembang melalui percakapan, diwujudkan melalui tindakan, dan dipelihara melalui refleksi,” pungkasnya.

Pada akhirnya, ketika guru terus belajar, cara guru mengajar akan berubah. Ketika cara guru mengajar berubah, pengalaman belajar murid pun berubah. Dan ketika pengalaman belajar murid berubah, pembelajaran mendalam mulai benar-benar hidup di sekolah.

Reporter Fathurrahim Syuhadi