Sembilan AHWA Terpilih Dalam Muktamar NU ke 35

Listen to this article

JOMBANG lintasjatimnews – Sembilan anggota AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi ) yang telah resmi terpilih dalam Muktamat NU ke 35 Ahad (30/8/2026) adalah KH Nurul Huda Djazuli, KH Tgk Nuruzzahri Yahya, AGH Baharuddin HS, KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, KH Said Aqil Siroj, dan KH Abun Bunyamin. Mereka mendapat mandat untuk bermusyawarah menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU 2026–2031.

Dalam Sidang Pleno III, peserta Muktamar menyepakati bahwa Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 dipilih melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Hasil voting:
• 401 suara memilih AHWA
• 150 suara memilih sistem one man one vote
• 1 suara tidak sah
• Total DPT: 552 suara

Berikut Profil Sembilan AHWA Terpilih Dalam Muktamar NU ke 35

  1. KH Miftachul Akhyar
    Posisinya sangat strategis. Ia kembali terpilih sebagai AHWA dan sebelumnya pernah menjadi Rais Aam PBNU. Latar keilmuannya kuat dari berbagai pesantren Jawa Timur dan ia memiliki pengalaman panjang di struktur Syuriyah NU. Kiai Miftach merupakan figur yang relatif mudah diposisikan sebagai penjaga kesinambungan tradisi keulamaan NU. Jika AHWA mengutamakan stabilitas dan kesinambungan, pengaruhnya dalam musyawarah akan sangat penting.
  2. KH Nurul Huda Djazuli
    Pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, dan berasal dari keluarga pendiri pesantren tersebut. Basis pesantren dan tradisi keilmuan Jawa Timur menjadi modal sosial yang sangat kuat. Kehadirannya memperkuat bobot arus pesantren tradisional Jawa Timur di dalam AHWA.
  3. KH Afifuddin Muhajir
    Kiai Afifuddin dikenal sebagai ulama pesantren dengan kapasitas keilmuan fikih dan usul fikih yang sangat kuat. Ia merupakan tokoh Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Figur seperti ini kemungkinan akan sangat memperhatikan persyaratan syar’i, AD/ART, tradisi NU, dan kualitas kepemimpinan, bukan sekadar popularitas kandidat.
  4. KH Anwar Iskandar
    Ia merupakan Wakil Rais Aam PBNU periode sebelumnya dan mempunyai pengalaman panjang dalam struktur NU. Ia juga berasal dari lingkungan pesantren Banyuwangi dan pernah belajar di Lirboyo. Karena pengalaman strukturalnya sangat panjang, ia berpotensi menjadi salah satu figur yang memahami dengan baik kebutuhan organisasi sekaligus dinamika internal PBNU.
  5. KH Anwar Manshur
    Kiai Anwar Manshur adalah salah satu ulama sepuh yang mempunyai posisi sangat kuat dalam tradisi pesantren NU. Bobotnya lebih berada pada otoritas keulamaan dan moral, bukan kontestasi politik praktis. Dalam sistem AHWA, karakter seperti ini justru sangat penting.
  6. KH Said Aqil Siroj
    Mantan Ketua Umum PBNU ini memiliki pengalaman kepemimpinan nasional yang sangat panjang. Beliau memahami secara langsung dinamika PBNU, pemerintah, masyarakat sipil, dan hubungan internasional. Kehadirannya membuat AHWA memiliki perspektif yang lebih luas daripada sekadar perspektif pesantren.
  7. KH Abun Bunyamin
    Ulama NU asal Jawa Barat ini memperkuat representasi wilayah di luar Jawa Timur dalam AHWA.Ini penting karena keputusan AHWA idealnya tidak hanya mencerminkan satu kawasan, tetapi kepentingan NU secara nasional.
  8. Tgk KH Nuruzzahri Yahya
    Tokoh NU dari Aceh ini memiliki pengalaman pendidikan pesantren sekaligus organisasi NU yang panjang. Ia pernah menjadi Rais Syuriyah PWNU Aceh dan memiliki perhatian terhadap peran santri di ruang publik. Kehadirannya memberikan perspektif NU luar Jawa, terutama tradisi keulamaan Aceh dan hubungan antara pesantren dengan kehidupan publik.
  9. AGH Baharuddin HS
    Tokoh ulama Sulawesi Selatan ini merupakan Mustasyar PBNU dan Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan. Ia juga memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan dan pengajaran kitab. Ia menjadi salah satu representasi kuat NU kawasan Indonesia Timur.

Mereka mendapatkan mandat untuk bermusyawarah menentukan Rais Aam, kemudian proses penentuan Ketua Umum PBNU 2026–2031.

Reporter Fathurrahim Syuhadi