JOMBANG lintasjatimnews – Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi perhatian warga Nahdliyin. Momentum lima tahunan tersebut juga diwarnai kehadiran Muhammadiyah yang ikut memberikan pelayanan kepada para peserta dan masyarakat di sekitar arena Muktamar, Kamis-Senin (27-31/8/2026).
Jika di dalam arena Muktamar perhatian tertuju pada dinamika persidangan dan proses penentuan kepemimpinan PBNU periode 2026–2031, Muhammadiyah memilih mengambil peran berbeda.
Bukan datang untuk menentukan siapa Ketua Umum PBNU. Muhammadiyah datang untuk melayani.
Melalui posko pelayanan yang didirikan di sekitar lokasi Muktamar, Muhammadiyah menyediakan sejumlah layanan gratis bagi masyarakat dan para muktamirin, mulai dari makanan dan minuman hingga pelayanan kesehatan.
Salah satu yang menarik perhatian adalah penyediaan ribuan porsi bakso, kopi, telur, dan makanan ringan bagi warga yang datang ke kawasan Muktamar.
Kehadiran tersebut menjadi bagian dari semangat silaturahmi dan ukhuwah antara dua organisasi Islam besar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir juga datang mengunjungi posko pelayanan Muhammadiyah di sekitar arena Muktamar. Begitua juga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jawa Timur Sukadiono
Kehadiran Haedar dan Sukadiono sekaligus menunjukkan dukungan Muhammadiyah terhadap kelancaran pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Bukan Ikut Campur Urusan Muktamar
Kehadiran Muhammadiyah di arena Muktamar bukan dalam rangka mencampuri proses internal organisasi NU.
Agenda pemilihan Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU sepenuhnya menjadi bagian dari mekanisme Muktamar NU.
Muhammadiyah justru mengambil posisi sebagai bagian dari masyarakat yang ikut memberikan dukungan melalui pelayanan.
Sikap tersebut menjadi pesan tersendiri di tengah dinamika organisasi yang sedang berlangsung.
Ketika ribuan warga Nahdliyin berkumpul di Tambakberas, Muhammadiyah hadir memberikan ruang pelayanan bagi siapa saja yang membutuhkan.
Bakso dan Kopi Jadi Simbol Persaudaraan
Semangkuk bakso mungkin terlihat sederhana. Begitu pula secangkir kopi yang diberikan secara cuma-cuma.
Namun dalam konteks hubungan NU dan Muhammadiyah, pelayanan tersebut memiliki makna yang lebih luas.
Ada pesan bahwa perbedaan tradisi, metode dakwah maupun organisasi tidak harus menjadi penghalang untuk saling membantu. Semangat persaudaraan tersebut dapat diwujudkan melalui banyak cara. Tidak selalu harus melalui forum resmi atau pertemuan tokoh.
Terkadang persaudaraan justru terasa melalui hal-hal sederhana, seperti menyediakan makanan bagi orang yang lapar, minuman bagi orang yang haus, atau layanan kesehatan bagi mereka yang membutuhkan.
Siapkan Ribuan Porsi Makanan
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jombang menyiapkan pelayanan konsumsi dalam jumlah besar selama pelaksanaan Muktamar.
Sekitar 10.000 porsi bakso, 10.000 kopi, dan 10.000 telur disiapkan untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat dan muktamirin.
Selain konsumsi, Muhammadiyah juga menyediakan pelayanan kesehatan dan ambulans.
Posko tersebut berada tidak jauh dari arena utama Muktamar sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat dan peserta yang membutuhkan pelayanan.
Pelayanan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi Muhammadiyah dalam menyambut pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang.
Haedar Nashir: Merawat Silaturahmi dan Ukhuwah
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi dan ukhuwah di antara berbagai komponen umat Islam.
Kehadiran Muhammadiyah di Muktamar NU menjadi salah satu contoh bahwa dua organisasi Islam besar tersebut dapat saling memberikan dukungan dalam ruang sosial dan kemanusiaan.
NU dan Muhammadiyah memang mempunyai karakter gerakan dan tradisi yang berbeda.
Namun keduanya mempunyai sejarah panjang dalam memberikan kontribusi bagi umat dan bangsa, terutama melalui pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
Bukan Soal Siapa yang Lebih Besar
Kehadiran Muhammadiyah di Muktamar NU juga memberikan pesan bahwa hubungan dua organisasi besar Islam tersebut tidak harus selalu dilihat dari sisi perbedaan.
Ada ruang yang jauh lebih luas untuk bekerja bersama.
Keduanya dapat saling menghormati dalam persoalan khilafiyah, tetapi tetap bergandengan tangan dalam persoalan kemanusiaan dan kebangsaan.
Di tengah masyarakat yang semakin kompleks, energi umat akan jauh lebih bermanfaat apabila diarahkan untuk memperkuat pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, bantuan kemanusiaan dan dakwah yang menyejukkan.
Dan di Tambakberas, pesan tersebut hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Muhammadiyah tidak datang untuk memilih Ketua NU. Muhammadiyah datang membawa bakso. Membawa kopi. Membawa layanan kesehatan.
Membawa ambulans. Dan yang tidak kalah penting: membawa pesan persaudaraan.
Sebuah pesan bahwa NU dan Muhammadiyah boleh berbeda dalam organisasi, tetapi tetap dapat bertemu dalam satu semangat: berkhidmat untuk umat dan berbuat baik bagi bangsa.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









