SURABAYA lintasjatimnews – Ada begitu banyak orang yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Sebagian datang hanya untuk sementara, menyapa, berbincang, lalu perlahan menghilang dari ingatan. Sebagian lainnya tinggal lebih lama, menjadi sahabat, keluarga, atau rekan dalam berbagai perjalanan kehidupan. Namun, di antara begitu banyak orang yang pernah kita jumpai, hanya sedikit yang mampu meninggalkan jejak yang bertahan melampaui waktu.
Mereka mungkin tidak selalu kita ingat setiap hari. Kita mungkin tidak lagi mengetahui di mana mereka tinggal, bagaimana kehidupan mereka sekarang, atau bahkan kapan terakhir kali kita bertemu. Jarak dan kesibukan kehidupan sering membuat hubungan yang dahulu begitu dekat menjadi renggang. Tahun demi tahun berlalu, kehidupan berubah, dan kita tumbuh menjadi pribadi yang berbeda.
Namun, ada sesuatu yang tidak ikut hilang bersama berlalunya waktu. Sebuah nasihat sederhana. Sebuah teguran. Sebuah senyuman. Sebuah cara memperlakukan orang lain. Sebuah pelajaran yang dahulu terasa biasa saja, tetapi ternyata baru kita pahami maknanya setelah bertahun-tahun kemudian. Bahkan mungkin hanya sebuah kalimat pendek yang pernah diucapkan kepada kita pada masa kanak-kanak atau remaja, tetapi tanpa kita sadari kalimat itu ikut menentukan cara kita memandang kehidupan.
Di antara sosok-sosok yang meninggalkan jejak seperti itu, guru memiliki tempat yang istimewa.
Guru hadir pada bagian penting dalam kehidupan manusia: masa ketika seseorang sedang belajar mengenal dunia. Ketika seorang anak pertama kali mengenal huruf, membaca kata, menulis kalimat, menghitung angka, memahami aturan, mengenal tanggung jawab, dan belajar hidup bersama orang lain, di sana ada guru yang mendampingi.
Guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi ikut membentuk cara seorang anak memandang dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya.
Guru adalah bagian dari perjalanan pembentukan manusia.
Seorang guru mungkin datang ke kelas dengan membawa buku pelajaran, papan tulis penuh tulisan, dan berbagai tugas yang harus diselesaikan. Namun, apa yang sesungguhnya dibawa pulang oleh seorang murid sering kali jauh lebih besar daripada isi buku pelajaran. Ada nilai tentang kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, keberanian, kerja keras, tanggung jawab, dan penghormatan kepada sesama.
Ada guru yang mengajarkan kita membaca. Ada guru yang membuat kita memahami angka dan berhitung. Ada guru yang memperkenalkan ilmu pengetahuan dan membuat kita bertanya tentang dunia. Ada guru yang mengajarkan bahwa datang tepat waktu adalah bentuk penghargaan terhadap orang lain. Ada guru yang mengingatkan pentingnya mengucapkan salam, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, dan menghormati orang yang lebih tua.
Ada pula guru yang mengajarkan sesuatu yang tidak tertulis dalam buku pelajaran: keberanian untuk berdiri di depan kelas, keberanian mengemukakan pendapat, keberanian menerima kekalahan, dan keberanian untuk mencoba kembali setelah gagal.
Tidak jarang seorang guru melihat potensi dalam diri murid sebelum murid itu sendiri menyadarinya.
“Cobalah.”
“Kamu bisa.”
“Jangan takut salah.”
“Belajarlah lebih giat.”
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan. Tetapi bagi seorang anak, kalimat tersebut dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti. Ada anak yang menjadi percaya diri karena gurunya memberikan kesempatan. Ada anak yang kembali bersemangat karena gurunya tidak menyerah membimbingnya. Ada pula seseorang yang bertahun-tahun kemudian masih mengingat seorang guru hanya karena dahulu guru tersebut pernah percaya kepadanya.
Kekuatan Seorang Guru
Guru, Jejak Tak Lekang Waktu lahir dari kesadaran bahwa perjalanan pendidikan seseorang sesungguhnya merupakan rangkaian perjumpaan dengan banyak guru. Setiap jenjang pendidikan mempunyai suasana, tantangan, dan perannya masing-masing. Setiap guru datang pada waktu yang berbeda, tetapi masing-masing membawa sesuatu yang mungkin kita perlukan pada masa itu.
Ketika kita masih duduk di sekolah dasar, dunia kita masih sederhana. Sekolah adalah tempat untuk belajar mengenal banyak hal untuk pertama kalinya. Guru sekolah dasar menjadi sosok yang membuka pintu pertama menuju dunia ilmu pengetahuan sekaligus kehidupan sosial.
Mereka mengajarkan dasar-dasar yang kelak menjadi fondasi perjalanan kita. Dari mengenal huruf menjadi mampu membaca. Dari mengenal angka menjadi mampu berhitung. Dari belajar menulis menjadi mampu menuangkan pikiran. Dari belajar mengikuti aturan menjadi memahami arti disiplin. Dari belajar menyapa dan menghormati orang lain menjadi memahami pentingnya sopan santun.
Tetapi yang tidak kalah penting, guru Sekolah Dasar juga sering menjadi orang pertama yang bertanya kepada kita tentang cita-cita.
“Kalau sudah besar ingin menjadi apa?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun, bagi seorang anak, pertanyaan tersebut membuka pintu imajinasi.
Kita mulai membayangkan diri menjadi dokter, guru, tentara, polisi, insinyur, pedagang, pilot, petani, atau berbagai profesi lainnya. Tidak
semua cita-cita masa kecil itu akhirnya terwujud. Bahkan mungkin sebagian besar berubah seiring perjalanan hidup. Tetapi guru telah mengajarkan satu hal penting: bahwa masa depan boleh dibayangkan.
Kemudian kita memasuki sekolah menengah pertama.
Masa SMP adalah masa peralihan. Kita mulai meninggalkan dunia kanak-kanak dan perlahan memasuki masa remaja. Pada masa ini, pertanyaan tentang diri sendiri mulai muncul. Kita mulai bertanya: siapa saya, apa yang saya sukai, apa yang saya mampu, apa yang ingin saya lakukan, dan bagaimana saya ingin dipandang oleh orang lain?
Pada masa inilah guru mempunyai peran yang semakin luas. Mereka bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi juga pembimbing bagi seorang remaja yang sedang belajar memahami dirinya.
Ada guru yang mengenalkan organisasi. Ada yang mendorong kita mengikuti kegiatan sekolah. Ada yang membuka ruang untuk berdiskusi dan berpendapat. Ada yang mengajarkan bahwa berbeda pendapat bukan berarti harus bermusuhan. Ada yang memperkenalkan arti kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, dan keberanian mengambil keputusan.
Mungkin pada masa itu kita belum memahami mengapa semua pengalaman tersebut penting. Tetapi bertahun-tahun kemudian, ketika kita harus berbicara dalam sebuah rapat, memimpin sebuah kelompok, bekerja sama dengan orang lain, atau mengambil keputusan dalam kehidupan, kita baru menyadari bahwa sebagian keberanian itu pernah tumbuh di bangku SMP.
Lalu tibalah masa SLTA
Masa ketika dunia mulai terasa lebih luas dan masa depan mulai tampak lebih dekat. Pertanyaan tentang cita-cita tidak lagi sekadar permainan imajinasi. Pilihan tentang perguruan tinggi, pekerjaan, organisasi, dan kehidupan setelah sekolah mulai menjadi sesuatu yang nyata.
Guru SLTA hadir pada masa yang sangat menentukan ini. Mereka membantu memperluas wawasan, mengasah kemampuan berpikir, dan mempersiapkan murid menghadapi kehidupan yang lebih kompleks. Mereka mendorong kita untuk belajar lebih mandiri, bertanggung jawab terhadap pilihan, dan berani menghadapi konsekuensi.
Ada guru yang mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh ketekunan. Ada yang menanamkan pentingnya integritas. Ada yang mengingatkan bahwa ilmu harus digunakan untuk memberikan manfaat. Ada pula yang mengajarkan bahwa menjadi dewasa berarti mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri sekaligus peduli terhadap kehidupan orang lain.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









