Menjemput Gerbang Sarjana, 38 Mahasiswa STIT Muhammadiyah Paciran Ikuti Munaqosah Skripsi Serempak

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews — Bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, sebanyak 38 mahasiswa STIT Muhammadiyah Paciran mengikuti Ujian Munaqosah Skripsi secara serempak di Lantai III Gedung STIT Muhammadiyah Paciran Kampus II,

Mereka terdiri atas 22 mahasiswa kelas Reguler dan 16 mahasiswa kelas Akselerasi. Bagi para peserta, munaqosah bukan sekadar tahapan akhir perkuliahan, tetapi menjadi momentum penting untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitian sekaligus menjemput gerbang kelulusan.

Di balik setiap skripsi yang dipresentasikan, tersimpan perjalanan akademik yang panjang. Mulai dari proses menentukan tema penelitian, menyusun proposal, melakukan penelitian, berkonsultasi dengan dosen pembimbing, hingga menjalani berbagai tahap revisi. Semua proses tersebut menjadi bagian dari perjuangan sebelum akhirnya sampai pada meja munaqosah.

Pelaksanaan ujian dibagi menjadi tiga ruang. Pembagian tersebut dilakukan agar proses munaqosah berjalan tertib, efektif, dan memberikan kesempatan kepada setiap mahasiswa untuk mempresentasikan serta mempertanggungjawabkan hasil penelitian di hadapan para penguji.

Di Ruang I, munaqosah dipimpin Idzi’ Layyinnati, M.Pd. sebagai Ketua Penguji. Bertindak sebagai Penguji I Drs. H. Moh. Hasan Rasidi, M.Pd.I., sedangkan Penguji II Drs. Agus Thoha, M.Si.

Kemudian di Ruang II, Ketua Penguji adalah Dr. Maftuhah, M.Pd., dengan Dr. Hasan Al Banna, S.Hi., M.IRKH. sebagai Penguji I dan Zainal Aqib, M.Pd. sebagai Penguji II.

Sementara di Ruang III, munaqosah diketuai Himmatul Husniyah, M.Pd., dengan Suntari, M.Pd. sebagai Penguji I dan Suharsono, M.Pd. sebagai Penguji II.

Ketiga ruang tersebut menjadi panggung akademik bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan intelektual yang telah dibangun selama menjalani proses pendidikan. Bukan hanya kemampuan menyampaikan hasil penelitian yang diuji, melainkan juga keberanian mempertahankan gagasan, ketajaman dalam berpikir, kemampuan menjawab pertanyaan, serta kesungguhan dalam mempertanggungjawabkan karya ilmiah.

Ketua STIT Muhammadiyah Paciran Idzi’ Layyinnati, M.Pd mengungkapkan munaqosah pada hakikatnya bukan sekadar ujian akhir. Momen tersebut menjadi ruang refleksi untuk mengukur sejauh mana mahasiswa mampu mengubah rasa ingin tahu menjadi penelitian, persoalan menjadi rumusan masalah, serta teori dan data menjadi sebuah karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lanjutnya, setiap peserta memiliki perjalanan yang berbeda. Mahasiswa Reguler menjalani pendidikan sesuai jalur perkuliahan yang ditempuh, sedangkan mahasiswa Akselerasi memilih jalur penyelesaian pendidikan yang lebih cepat. Namun dalam ruang munaqosah, seluruh perbedaan tersebut bertemu dalam satu tujuan, yakni menyelesaikan tahap akhir perjalanan akademik.

Ditambahkan Idzi’ Layyinnati, M.Pd, momentum munaqosah semakin bermakna karena berlangsung pada 17 Agustus, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Jika para pahlawan dahulu berjuang merebut kemerdekaan dengan keberanian dan pengorbanan, maka generasi muda saat ini memiliki medan perjuangan yang berbeda, yakni melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, kreativitas, integritas, dan pengabdian.

“Semangat kemerdekaan pun menemukan makna tersendiri di ruang-ruang munaqosah. Merdeka bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka dalam berpikir, mengembangkan ilmu, menyampaikan gagasan, dan mengambil peran dalam memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya

Sementara itu Dr Maftuhah MPd mengungkapkan skripsi yang selama ini terasa berat akhirnya menemukan titik terang. Lembar demi lembar yang dipenuhi catatan dan revisi menjadi bukti bahwa perjuangan yang dijalani dengan tekun tidak pernah sia-sia.

“Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang selembar ijazah. Pendidikan adalah perjalanan untuk mengasah pikiran, membangun keberanian, membentuk karakter, serta mempersiapkan generasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Doktor lulusan UMM ini

Dr Maftuhah MPd menambahkan, di hari kemerdekaan itu, para mahasiswa kembali diingatkan bahwa setiap cita-cita membutuhkan perjuangan. Dan perjuangan yang dijalani dengan kesungguhan akan menemukan waktunya untuk berbuah.

“Selamat menempuh tahap akhir perjalanan akademik. Semoga dari ruang munaqosah lahir generasi sarjana yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga rendah hati dalam mengabdi,” pungkasnya

Reporter Fathurrahim Syuhadi