JOGJAKARTA lintasjatimnews.com – Bumi bukan sekadar tempat manusia berpijak, tetapi amanah yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Kekayaan alam yang melimpah di Indonesia harus dikelola secara bijaksana agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Aman Suyadi, Ketua Umum Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus memperhatikan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Hal tersebut sejalan dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”
Menurutnya, kekayaan alam bukanlah milik satu generasi. Sumber daya alam harus dikelola dengan prinsip keberlanjutan sehingga tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi sekarang sekaligus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam pengelolaan sumber daya alam, prinsip Lestari, Optimal, dan Seimbang (LOS) menjadi penting. Lestari berarti menjaga kuantitas, kualitas, dan fungsi ekologis sumber daya alam agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Optimal berarti mengelolanya secara rasional dengan mempertimbangkan manfaat jangka panjang, bukan sekadar mengejar keuntungan dalam waktu singkat.
Kerusakan Bumi Semakin Mengkhawatirkan
Bumi diperkirakan telah berusia sekitar 4,54 miliar tahun. Dalam perjalanan panjang tersebut, bumi mengalami berbagai perubahan. Namun, aktivitas manusia dalam beberapa dekade terakhir telah mempercepat tekanan terhadap lingkungan.
Pertumbuhan penduduk, industrialisasi, urbanisasi, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, penggunaan bahan bakar fosil, pengelolaan sampah yang buruk, serta rendahnya kepedulian terhadap lingkungan menjadi sejumlah faktor yang memperparah kerusakan bumi.
Dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari perubahan iklim, pencemaran tanah, air, dan udara, kerusakan ekosistem laut, penggundulan hutan, degradasi lahan, berkurangnya keanekaragaman hayati, hingga kerusakan daerah aliran sungai.
Kerusakan lingkungan juga berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat. Kekeringan dapat terjadi pada musim kemarau, sementara banjir mengancam ketika musim hujan. Produktivitas lahan menurun sehingga dapat berdampak pada ketersediaan pangan. Berbagai bencana lingkungan juga menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial.
Menjaga Tanah, Menjaga Kehidupan
Salah satu bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga adalah tanah. Tanah memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, terutama dalam mendukung pertumbuhan tanaman dan penyediaan pangan.
Tanah menyediakan unsur hara, air, dan udara yang dibutuhkan tanaman. Tanah juga menjadi tempat berkembangnya akar sekaligus habitat berbagai organisme yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Namun, fungsi tanah dapat menurun akibat erosi, hilangnya unsur hara dan bahan organik, pencemaran, serta akumulasi senyawa beracun. Erosi, misalnya, dapat menghilangkan lapisan tanah bagian atas yang subur. Dampaknya tidak hanya menurunkan produktivitas lahan, tetapi juga dapat menyebabkan pendangkalan sungai, waduk, dan saluran irigasi serta meningkatkan risiko banjir dan kekeringan.
Karena itu, konservasi tanah dan air harus menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan kehidupan.
Merawat Bumi sebagai Amanah
Merawat bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga lingkungan, tetapi merupakan tanggung jawab setiap manusia. Dalam Islam, menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi.
Allah Swt berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 56 “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”
Ayat tersebut mengingatkan manusia agar tidak melakukan tindakan yang merusak keseimbangan bumi. Alam harus dijaga, dipelihara, dan dimanfaatkan secara rasional agar kebermanfaatannya dapat dirasakan lintas generasi.
Merawat bumi memberikan banyak manfaat, antara lain mengurangi risiko bencana, meningkatkan produktivitas lahan, menjaga ketersediaan pangan, meningkatkan kualitas air dan udara, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta memastikan sumber daya alam tetap tersedia bagi generasi mendatang.
Upaya tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Tidak menebang pohon sembarangan, menanam tanaman di sekitar rumah, menghemat air dan listrik, menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan, menjaga kebersihan, mengurangi penggunaan plastik dan tisu, serta mendaur ulang barang yang masih dapat dimanfaatkan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap orang.
Merawat bumi tidak harus dimulai dengan tindakan besar. Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dan bersama-sama.
“Bumi semakin tua, tetapi tanggung jawab manusia tidak boleh semakin berkurang. Mari menjaga dan merawat bumi mulai dari hal kecil, mulai dari lingkungan terdekat, dan mulai dari sekarang. Sebab bumi yang kita rawat hari ini adalah bumi yang akan menjadi tempat hidup bagi generasi yang akan datang,” pungkas dosen UM Purwokerto ini
Reporter : Fathurrahim Syuhadi









