Perkuat Solidaritas Global, PGRI Jawa Timur Sukses Gelar Seminar Internasional Lintas Budaya di Sidoarjo

Listen to this article

SIDOARJO lintasjatimnews – Biro Hubungan Dalam dan Luar Negeri PGRI Jawa Timur sukses menggelar perhelatan akbar bertaraf internasional pada hari ini, Jumat (10/07/ 2026). Bertempat secara hibrida di Gedung Graha Dwija PGRI Kabupaten Sidoarjo serta disiarkan langsung melalui platform daring Zoom Meeting, seminar internasional ini mengusung tema besar: “Cross-Cultural Understanding: Education and Teachers’ Union” dengan fokus utama “Teachers’ Unions as Partners in Improving Educational Quality”.

Acara strategis ini diinisiasi secara kolektif oleh jajaran Ketua Bidang Hubungan Dalam dan Luar Negeri PGRI se-Jawa Timur, termasuk di antaranya PGRI Kabupaten Sidoarjo, Lamongan, Kediri, Malang, Surabaya, serta berbagai kota/kabupaten lainnya di wilayah Jawa Timur.

Sinergi Pemimpin Besar PGRI
Seminar dibuka dengan sambutan dan pengarahan utama dari Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd. Dalam pandangannya, beliau menegaskan bahwa peran serikat guru di era modern tidak lagi sekadar menjadi wadah berkumpul, melainkan mitra strategis pemerintah dalam merumuskan dan mendongkrak mutu pendidikan nasional yang berdaya saing global.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Djoko Adi Walujo, S.T., M.M., DBA perwakilan dari PGRI Jawa Timur Indonesia, menyampaikan bahwa pemahaman lintas budaya sangat krusial bagi guru di era digital. Penguatan jaringan internasional antar-serikat pekerja akademik menjadi jembatan penting untuk saling mengadopsi praktik-praktik pendidikan terbaik dari negara sahabat.

Pemaparan Komprehensif Empat Delegasi Internasional

Memasuki sesi inti panelis, seminar ini menghadirkan empat narasumber hebat dari berbagai negara yang membedah transformasi pendidikan dari sudut pandang inovasi, harmoni sosial, ekuitas, dan kesejahteraan:

Fransisca Susilawati (PGRI Indonesia): Akselerasi AI dan Kepemimpinan Perempuan

PGRI Indonesia menyoroti pentingnya penguatan internal organisasi yang adaptif. Saat ini, keterwakilan perempuan di jajaran kepemimpinan provinsi PGRI telah mencapai angka signifikan sebesar 63%. Guna menyongsong masa depan, PGRI juga memasifkan gerakan literasi digital melalui program unggulan seperti 1M+Coding & AI yang telah mencetak 5.000 guru cakap digital, serta gerakan 500+ AI-Empowered Teachers untuk mengoptimalkan potensi guru perempuan di ruang kelas.

Norzah Muhamad (NUTP Malaysia): Guru Sebagi Jantung Harmoni Multikultural

Wakil Presiden NUTP Malaysia ini membagikan pengalaman penting dalam mengelola kelas multikultural yang kaya akan keragaman etnis dan agama. Norzah memaparkan keberhasilan program Pertukaran Budaya Virtual menggunakan Google Meet antara siswa Malaysia dan Brunei Darussalam, yang terbukti ampuh melatih kepercayaan diri berbahasa Inggris dan memupuk toleransi sejak dini.

Pansy Francis (KPSTA India): Pergeseran dari Kesetaraan Menuju Ekuitas

Delegasi dari India ini menggemakan pesan penting mengenai pemenuhan hak asasi manusia dalam pendidikan inklusif. Menurut Pansy, sistem pendidikan dunia harus bergeser dari sekadar kesetaraan (equality) menuju ekuitas (equity). Inklusi sejati berarti memberikan dukungan spesifik yang disesuaikan dengan kebutuhan unik setiap anak, khususnya anak-anak disabilitas dan komunitas adat marginal.

Steph Andaya (ACT Philippines): Kesejahteraan Guru Menentukan Mutu Pendidikan

Sebagai penutup, perwakilan dari Filipina ini mengingatkan seluruh peserta bahwa pendidikan yang berkeadilan tidak akan pernah terwujud selama kesejahteraan gurunya terabaikan. Melalui slogan “Educate, Create, Organize”, Steph memaparkan perjuangan serikat akademik Filipina dalam mengadvokasi upah layak dan jaminan sosial demi membebaskan guru dari beban finansial agar dapat fokus mengajar dengan maksimal.

Komitmen Bersama untuk Pendidikan Dunia

Melalui penyelenggaraan seminar internasional ini, PGRI Jawa Timur berhasil menarik perhatian dunia pendidikan internasional bahwa tantangan global—mulai dari adaptasi teknologi AI, pengelolaan keragaman budaya, hingga isu kesejahteraan pendidik—harus diselesaikan lewat kerja sama yang kokoh.

Acara yang berakhir pada sore hari ini meninggalkan pesan solidaritas yang kuat: guru yang sejahtera, berdaya, dan adaptif terhadap teknologi adalah fondasi utama dalam mencetak generasi masa depan dunia yang cerdas dan berkarakter.

Kintributor: M. Said