LAMONGAN lintasjatimnews – Langit sore di Desa Godog, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jumat (29/5/2026), terasa lebih hidup dari biasanya. Jalan di samping Ma’had Al-Hidayah dipenuhi santri berseragam rapi, para ustadz-ustadzah, serta wali santri yang hadir dengan wajah penuh kebahagiaan.
Di tempat itulah Ma’had Al-Hidayah menggelar akhirussanah tahun pelajaran 2025/2026, sebuah momen yang bukan sekadar penutupan tahun ajaran, tetapi juga ruang perjumpaan antara pendidikan, keluarga, dan nilai-nilai keislaman yang terus ditanamkan sejak dini.
Sejak sebelum acara dimulai, suasana sudah terasa semarak. Berbagai penampilan pra acara disuguhkan oleh para santri. Ada paduan suara, lantunan Asmaul Husna yang menggema syahdu, hingga tari yang ditampilkan penuh percaya diri. Tepuk tangan para wali santri pun beberapa kali pecah, menyambut penampilan putra-putri mereka.
Bagi banyak orang tua yang hadir, itu bukan sekadar hiburan. Ada rasa haru menyaksikan anak-anak tumbuh, belajar, dan berani tampil di depan banyak orang.
Momentum akhirussanah kali ini juga menghadirkan Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Lamongan Arika Karim, S.H.I sebagai narasumber dalam kajian parenting bersama wali santri.
Dalam tausiyahnya, Arika Karim menegaskan bahwa pendidikan anak sejatinya berawal dari rumah. Orang tua, terutama ibu, menjadi sekolah pertama bagi anak-anak sebelum mereka mengenal ruang kelas dan lingkungan belajar yang lebih luas.
“Menjadi orang tua harus bisa memberikan contoh dan figur yang baik untuk putra-putrinya. Karena anak-anak itu peniru yang sangat baik. Mereka melihat apa yang kita lakukan di rumah, lalu menirunya dalam keseharian,” tuturnya di hadapan wali santri.
Ia mengingatkan bahwa apa yang diajarkan di rumah perlu berjalan seiring dengan pendidikan yang diterima anak di TPQ, madrasah, maupun lembaga pendidikan lainnya.
“Madrasah pertama anak adalah ibu. Ketika pendidikan di rumah sejalan dengan pendidikan di lembaga, insyaallah anak akan tumbuh dengan keseimbangan akhlak dan ilmu,” lanjutnya.
Tak hanya keluarga, lingkungan pertemanan juga menjadi perhatian penting dalam membentuk karakter anak. Menurut Arika, anak-anak perlu tumbuh bersama teman yang saleh dan salehah, santun, serta berbudi pekerti baik.
Dengan lingkungan yang baik, orang tua akan lebih mudah mengarahkan anak menuju akhlak mulia.
Di Ma’had Al-Hidayah, nilai-nilai itu tidak hanya disampaikan lewat ceramah, tetapi dibiasakan dalam keseharian. Mulai dari praktik shalat berjamaah, hafalan ayat-ayat pilihan, doa-doa harian, hingga pembelajaran bahasa Arab menjadi bagian dari proses pembentukan karakter santri.
Semua itu menjadi ikhtiar sederhana namun bermakna: menanamkan agama bukan hanya untuk dihafal, tetapi dihidupkan dalam keseharian.
Kegiatan akhirussanah dan wisuda purna santri ini pun diikuti seluruh ustadz-ustadzah, santriwan-santriwati, serta para wali santri. Kebersamaan mereka menjadi penutup indah tahun pelajaran 2025/2026.
Di tengah suasana penuh syukur itu, pesan tentang pentingnya mendidik anak dengan nilai-nilai Islam terasa begitu kuat bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika anak mampu membaca dan menghafal, tetapi ketika nilai keimanan tumbuh dalam hati, menjadi akhlak dalam perilaku, dan menjadi bekal menjalani kehidupan.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Adh-Dhariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Dari Ma’had Al-Hidayah Godog, nilai itu kembali diteguhkan: bahwa mendidik anak dengan agama adalah menyiapkan generasi yang tak hanya cerdas, tetapi juga dekat dengan Allah, berakhlak mulia, dan kelak menjadi penyejuk hati bagi orang tuanya.
Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan









