Anis Ulfiyatin, S.Sos, M.Sosio :Literasi Berbasis Keluarga dan Komunitas Fondasi Strategis Lamongan Cerdas di Era Digital

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Dosen STIQSI (Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains) Lamongan, Anis Ulfiyatin, S.Sos, M.Sosio menegaskan bahwa penguatan literasi berbasis keluarga dan komunitas menjadi fondasi strategis dalam mewujudkan visi Lamongan Cerdas di tengah derasnya arus digitalisasi.

Hal tersebut disampaikan Anis menyikapi fenomena meningkatnya minat baca masyarakat yang diiringi dengan tingginya paparan penggunaan gawai pada anak-anak.

Berdasarkan data, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) di Kabupaten Lamongan mengalami peningkatan dari 66,21 pada tahun 2023 menjadi 70,4 pada tahun 2024. Namun di sisi lain, sekitar 80–90 persen anak telah terpapar gawai, dengan 40 persen di antaranya menggunakan lebih dari dua jam setiap hari.

“Ini menjadi paradoks yang harus disikapi secara bijak. Kemajuan digital bisa menjadi peluang, tetapi juga berpotensi menjadi ancaman bagi kualitas moral dan intelektual generasi jika tidak dikelola dengan baik,” ujar alumni Ponpes Al Ishlah Sendangagung Paciran ini

Menurutnya, pendekatan yang paling efektif dalam menghadapi tantangan tersebut adalah dengan memperkuat peran keluarga dan komunitas sebagai basis utama literasi. Ia menegaskan bahwa literasi di era digital tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak bijak.

Anis menjelaskan, keluarga merupakan benteng pertama dalam membangun karakter anak, khususnya dalam menghadapi dunia digital. Oleh karena itu, konsep parenting digital menjadi kebutuhan mendesak bagi orang tua saat ini.

“Literasi memang diperkuat di sekolah, tetapi fondasinya tetap dari rumah. Anak yang terbiasa melihat orang tuanya membaca dan menggunakan teknologi secara bijak akan meniru kebiasaan tersebut,” jelas penerima penghargaan the best 10 Finalis Duta LIterasi Lamongan (2025)

Ia mendorong adanya gerakan sederhana seperti “Silent Reading Keluarga” sebagai upaya membangun budaya membaca di lingkungan rumah. Selain itu, kontrol penggunaan gawai yang bersifat edukatif juga dinilai penting untuk membantu anak memahami batasan dalam berteknologi.

Lebih lanjut, Dosen Terbaik STIQSI Lamongan (2025) menilai bahwa peran komunitas tidak kalah penting dalam menguatkan ekosistem literasi. Menurutnya, Lamongan memiliki modal sosial yang besar, mulai dari masyarakat yang religius, keberadaan pesantren, hingga komunitas literasi yang aktif.

“Jika keluarga adalah fondasi, maka komunitas adalah penggerak. Literasi harus menjadi gerakan sosial kolektif, bukan hanya aktivitas individu,” tegas Penerima HIbah Penelitian STIQSI Lamongan (2025)

Ia mencontohkan program “Satu Komunitas Satu Karya” sebagai langkah konkret untuk mendorong masyarakat tidak hanya gemar membaca, tetapi juga produktif dalam menghasilkan karya. Dengan demikian, masyarakat dapat menjadi produsen pengetahuan sekaligus lebih tangguh menghadapi hoaks dan disinformasi.

Dalam upaya mewujudkan Lamongan Cerdas, Penulis buku ). Menjadi Wanita Berdayaguna juga memaparkan roadmap strategis yang dapat dilakukan secara bertahap. Pada jangka pendek, fokus diarahkan pada pembiasaan literasi di keluarga dan desa melalui gerakan membaca serta penguatan perpustakaan desa.

Sementara pada jangka menengah, upaya diarahkan pada peningkatan produktivitas melalui forum kepenulisan komunitas dan literasi digital kolaboratif. Adapun dalam jangka panjang, ia mendorong penguatan kualitas sumber daya manusia melalui program “Sekolah Literasi Keluarga”.

“Program ini tidak hanya membangun budaya literasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif berbasis potensi lokal yang bisa bersaing di tingkat global,” ungkap Sosiolog lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini

Sebagai akademisi di STIQSI, akademisi kelahiran Lamongan 8 Mei 1987 menekankan bahwa tantangan generasi Z dan Alpha di era digital harus dijawab dengan tiga pilar utama, yakni ilmu, iman, dan aksi.

Menurutnya, ketiga pilar tersebut menjadi kunci dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Lamongan Cerdas bukan sekadar angka statistik, tetapi terwujudnya masyarakat yang kritis, beretika dalam bermedia sosial, dan produktif dalam berkarya,” ujar ibu dari Abdullah Mujahid, Rayya Mujahidah, dan Ahlam Khaulah.

Ia pun mengajak seluruh elemen, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas untuk memperkuat sinergi dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.

“Pada akhirnya, keluarga adalah fondasi, komunitas adalah penggerak, dan kolaborasi adalah kekuatan utama. Dari sinilah masa depan Lamongan yang cerdas dan berdaya saing global dapat terwujud,” pungkas Founder Sekolah Perempuan Hebat (SPH) yang didirikan pada tahun 2023.

Reporter Fathurrahim Syuhadi