PEKALONGAN lintasjatimnews – Hari Pendidikan Nasional 2026 dengan tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” pada hakikatnya bukan sekadar ajakan administratif, melainkan seruan moral dan intelektual kepada seluruh komponen bangsa untuk menata ulang arah pendidikan kita. Dalam konteks kekinian, kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi variabel baru yang tidak dapat diabaikan, termasuk dalam pendidikan agama Islam.
Tri Suryo Hadi Wibowo, M.Pd., penulis dan pemerhati pendidikan Islam yang menaruh perhatian pada isu hubungan antara teknologi, pemikiran keislaman, dan kebijakan pendidikan mengungkapkan kita tidak dapat menutup mata bahwa AI telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Informasi kini hadir secara instan, cepat, dan nyaris tanpa batas.
Lanjut lulusan Magister Pendidikan Unissula Semarang ini. dalam pendidikan agama Islam, hal ini menghadirkan kemudahan yang luar biasa. Kitab tafsir, hadis, fikih, hingga khazanah pemikiran ulama klasik dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja. Bahkan, dengan dukungan AI, proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan individual peserta didik.
Namun demikian, ujar Tri Suryo Hadi Wibowo di balik kemudahan itu, terdapat persoalan mendasar yang tidak boleh diabaikan. Pendidikan agama Islam bukan semata-mata proses kognitif yang mentransfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan manusia seutuhnya—yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Di sinilah letak batas yang tidak dapat dilampaui oleh AI.
AI, betapapun canggihnya, bekerja atas dasar algoritma dan akumulasi data. Ia dapat menjelaskan makna keikhlasan, tetapi tidak dapat menghadirkan keikhlasan itu dalam diri manusia. Ia mampu mengurai hukum-hukum fikih secara sistematis, tetapi tidak memiliki kesadaran moral untuk mengamalkannya.
“Dengan kata lain, AI dapat menjadi instrumen pendidikan, tetapi tidak dapat menggantikan peran pendidik sebagai pembimbing ruhani dan teladan akhlak,” ujar penulis produktif ini
Lebih lanjut Tri Suryo Hadi Wibowo mengungkapkan dalam tradisi keilmuan Islam, kita mengenal konsep sanad—rantai transmisi ilmu yang menjamin otoritas dan keabsahan pengetahuan. Seorang murid tidak hanya belajar dari teks, tetapi juga dari sosok guru yang memiliki integritas keilmuan dan keteladanan moral. Jika pendidikan agama sepenuhnya diserahkan kepada AI, maka ada risiko terputusnya dimensi ruhani dalam proses pendidikan.
Sebagaimana ditegaskan oleh Tri Suryo Hadi Wibowo, “AI dapat mempercepat akses pengetahuan, tetapi tidak akan pernah mampu menggantikan keberkahan ilmu yang lahir dari keteladanan seorang guru,” tegasnya.
Di sisi lain, sikap menolak teknologi secara total juga bukan pilihan bijak. Sejarah peradaban Islam menunjukkan keterbukaan terhadap ilmu dan inovasi. Karena itu, pendekatan yang diperlukan adalah sikap proporsional: menerima AI sebagai alat bantu, tetapi tetap menempatkan manusia sebagai subjek utama pendidikan.
Guru Pendidikan Agama Islam harus mampu memanfaatkan AI untuk memperkaya metode pembelajaran, sekaligus menjaga orientasi pendidikan pada pembentukan akhlak dan karakter. Di saat yang sama, peserta didik perlu dibekali literasi kritis agar mampu memverifikasi informasi yang dihasilkan teknologi.
Tri Suryo Hadi Wibowo, juga menambahkan, “Tanpa literasi kritis yang kuat, AI berpotensi menjadi sumber kebingungan bahkan penyimpangan pemahaman keagamaan,” ungkapnya
Momentum Hardiknas 2026 harus menjadi ruang refleksi bersama bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menggerus nilai spiritual. Partisipasi semesta berarti keterlibatan semua pihak—pemerintah, ulama, pendidik, orang tua, dan masyarakat—dalam menjaga arah pendidikan.
Negara memiliki tanggung jawab konstitusional untuk memastikan pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk manusia berkarakter. Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak identik dengan kemajuan peradaban. Peradaban ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara akal dan moral.
Sebagaimana ditegaskan kembali oleh penulis, “AI boleh menjadi simbol kecanggihan zaman, tetapi tanpa nilai, ia akan kehilangan arah,” katanya.
Di sinilah pendidikan agama Islam menemukan relevansi terbesarnya: sebagai fondasi yang menjaga agar setiap kemajuan tetap berpijak pada nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
“Ikhtiar kita bukan menolak AI, tetapi menundukkannya dalam kerangka nilai agar ia memperkuat, bukan melemahkan, ruh pendidikan kita,” pungkas pria yang tinggal di Pekalongan ini
Reporter Fathurrahim Syuhadi









