LAMONGAN lintasjatimnews – Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei kembali menjadi momentum refleksi bagi seluruh elemen bangsa dalam menilai arah dan capaian dunia pendidikan. Di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang semakin cepat, pendidikan tidak lagi bisa diposisikan sebagai tanggung jawab pemerintah semata, melainkan harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan semua pihak.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Dekan bidang SDM Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Darul Ulum Lamongan, Dr. Hj. Siti Amiroch, S.Si., M.Si. Menurutnya, konsep partisipasi semesta dalam pendidikan menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pendidikan yang adil, inklusif, dan berkualitas bagi seluruh masyarakat.
“Partisipasi semesta mencakup keterlibatan aktif pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, dunia usaha, komunitas, hingga individu. Semua memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem pendidikan yang kuat,” ujar peraih Dosen Berprestasi di bidang Penelitian UNISDA Lamongan ini
Ia menjelaskan, pemerintah tetap memegang peran utama dalam merumuskan kebijakan yang inklusif, menjamin pemerataan akses pendidikan, serta meningkatkan kualitas guru dan sarana prasarana. Namun demikian, kebijakan yang baik tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan nyata dari masyarakat.
Dalam konteks keluarga, Siti Amiroch menekankan bahwa orang tua merupakan aktor utama dalam pendidikan anak. Keluarga tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan materiil, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, menanamkan nilai disiplin, serta mendukung pengembangan minat dan bakat anak.
“Di era digital saat ini, orang tua dituntut lebih adaptif. Mereka harus mampu memahami perkembangan teknologi agar dapat mendampingi dan memaksimalkan potensi anak secara optimal,” ungkap anggota IndoMS (Indonesian Mathematical Society)
Di sisi lain, satuan pendidikan juga diharapkan mampu bertransformasi menjadi ruang belajar yang inklusif dan terbuka terhadap kolaborasi. Sekolah tidak boleh bersifat eksklusif, tetapi harus menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan industri.
Program seperti magang, pelatihan berbasis proyek, serta penguatan keterampilan abad ke-21 dinilai penting untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Selain itu, peran komunitas dan organisasi masyarakat juga dinilai sangat signifikan. Berbagai gerakan seperti literasi, kelas belajar gratis, hingga program pendampingan bagi anak-anak dari kelompok rentan menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki kontribusi nyata dalam memperluas akses pendidikan.
“Ini adalah wujud nyata semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa Indonesia,” tegas peraih penghargaan Reviewer Certificate, in recognition of their contribution to 1 manuscript in 2024 for BMC Infectious Diseases dari Springer Nature, Berlin, Jerman
Meski demikian, ia mengakui bahwa tantangan dalam mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua masih cukup besar. Ketimpangan akses antara wilayah perkotaan dan pedesaan, keterbatasan infrastruktur, serta kesenjangan kualitas guru masih menjadi persoalan yang harus segera diatasi.
Di samping itu, transformasi digital dalam dunia pendidikan juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait kesiapan sumber daya manusia dan pemerataan akses teknologi.
Oleh karena itu, Siti Amiroch menegaskan bahwa memperkuat partisipasi semesta tidak hanya berarti meningkatkan keterlibatan, tetapi juga memastikan setiap pihak memiliki kapasitas dan kesempatan yang setara untuk berkontribusi.
Pemerintah, lanjutnya, perlu memperluas program pemberdayaan masyarakat, meningkatkan pelatihan bagi guru, serta memperkuat sistem monitoring dan evaluasi pendidikan. Sementara itu, masyarakat diharapkan terus berperan aktif dalam mendukung berbagai inisiatif pendidikan.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan masa depan bangsa. Momentum Hari Pendidikan Nasional harus menjadi titik tolak untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor,” pungkas penulis buku BIOINFORMATIKA : Perspektif Matematika pada Analisis Sekuen dan Filogenetika.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









