LAMONGAN lintasjatimnews — Momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan momentum reflektif untuk menilai kembali arah dan wajah pendidikan Indonesia. Dalam perspektif Dr. Abdul Ghofur, M.Pd, Direktur Universitas Adi Buana PSDKU Lamongan bahwa tema nasional tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” merupakan pesan kuat bahwa tanggung jawab pendidikan tidak dapat lagi dibebankan hanya kepada sekolah.
Menurutnya, semangat yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara melalui konsep Trilogi Pendidikan—keluarga, sekolah, dan masyarakat—masih sangat relevan di tengah dinamika zaman yang terus berubah. Bahkan, di era digital saat ini, konsep tersebut menjadi semakin krusial untuk memastikan pendidikan tidak kehilangan arah dan nilai dasarnya.
“Selama ini masih ada miskonsepsi yang cukup kuat di masyarakat bahwa pendidikan adalah sepenuhnya urusan sekolah. Padahal, tanpa keterlibatan keluarga dan masyarakat, pendidikan akan berjalan pincang,” ujar Ghofur.
Ia menilai bahwa realitas pendidikan saat ini menunjukkan adanya fragmentasi peran yang cukup serius. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan kepada sekolah, sementara lingkungan sosial belum sepenuhnya menjadi ruang yang kondusif bagi tumbuh kembang karakter anak. Akibatnya, terjadi ketidaksinambungan nilai yang diterima peserta didik di berbagai lingkungan.
“Di sekolah anak diajarkan tentang integritas dan kejujuran, tetapi di rumah atau masyarakat mereka bisa saja melihat praktik yang bertolak belakang. Ini yang menyebabkan pendidikan kehilangan makna substansialnya,” tegas Sekretaris PGRI Kabupaten Lamongan ini
Lebih lanjut, Ghofur menekankan bahwa keluarga harus kembali menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan. Ia menyebut keluarga sebagai “madrasah pertama” yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan nilai dasar anak.
“Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas. Ia dimulai dari rumah, dari interaksi sederhana seperti komunikasi antara orang tua dan anak. Tantangan hari ini bukan lagi sekadar literasi dasar, tetapi juga literasi digital dan kualitas perhatian orang tua,” jelas Bendahara Dewan Pendidikan Kabupaten Lamongan ini
Di sisi lain, sekolah juga dituntut untuk bertransformasi. Menurut Ghofur, sekolah tidak boleh lagi menjadi institusi yang eksklusif dan tertutup.
Sebaliknya, sekolah harus menjadi ruang terbuka yang menghubungkan peserta didik dengan realitas kehidupan yang lebih luas.
“Sekolah harus menjadi laboratorium inovasi. Guru tidak lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang menghubungkan siswa dengan berbagai sumber belajar, termasuk dari dunia industri, komunitas, dan masyarakat,” kata Doktor lulusan Universitas Negeri Malang ini.
Peran masyarakat sebagai pilar ketiga juga tidak kalah penting. Ghofur menilai bahwa masyarakat harus menjadi “sekolah kehidupan” yang memberikan pengalaman nyata bagi anak-anak dalam mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh.
“Masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang menyediakan ruang aman, mendukung literasi, dan memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk belajar dari kehidupan nyata. Dunia usaha, komunitas, dan lembaga sosial harus ikut bertanggung jawab dalam ekosistem pendidikan,” tambahnya
Dalam konteks tantangan global seperti perkembangan kecerdasan buatan dan perubahan sosial yang cepat, Ghofur menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada aspek kognitif. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang utuh—tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan memiliki ketahanan moral.
“Pendidikan bermutu adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Ia tidak hanya melahirkan individu yang pintar, tetapi juga benar dan tangguh dalam menghadapi tantangan zaman,” ujar aktifis di Lamongan ini
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Hardiknas 2026 sebagai titik balik dalam membangun kolaborasi yang lebih kuat. Menurutnya, pemerintah memang memiliki peran dalam regulasi dan pembiayaan, tetapi ruh pendidikan sejati terletak pada sinergi semua pihak.
“Ini adalah kerja peradaban. Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif yang membutuhkan partisipasi semesta,” tegas Abd Ghofur
Dalam pandangannya, Dr. Abdul Ghofur mengingatkan bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh sejauh mana seluruh elemen mampu bersinergi dalam membangun pendidikan yang bermutu dan berkeadilan.
“Hanya dengan kolaborasi yang kokoh antara keluarga, sekolah, dan masyarakat, kita dapat memastikan setiap anak Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang berdaya, bermartabat, dan memberi manfaat bagi sesama,” pungkasnya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









