BANYUMAS lintasjatimnews – Setiap perjalanan kuliah memiliki ceritanya sendiri. Ada yang langsung menapaki jalan perguruan tinggi setelah lulus SMA, dan ada pula yang harus menunggu bertahun-tahun sebelum kesempatan itu datang.
Kisah Siswo, S.Kom, M.Pd., termasuk dalam kategori yang kedua. Sebuah perjalanan panjang yang membuktikan bahwa keterlambatan bukanlah kegagalan.
Setelah lulus SMA, keinginan Siswo untuk melanjutkan kuliah begitu besar. Namun, keterbatasan biaya membuat langkahnya terhenti sementara. Ia hanya bisa melihat teman-temannya melangkah lebih cepat, sementara dirinya harus menahan keinginan.
“Waktu itu ada rasa sedih dan iri, karena mimpi saya seakan tertahan,” kenang lelaki kelahiran 7 November 1981
Namun, di balik penundaan itu, Allah telah menyiapkan jalan yang lain. Selama bertahun-tahun, Siswo mendapat kesempatan menimba ilmu agama di beberapa pesantren. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga meneguhkan hati dan membentuk karakter.
“Hikmah dari penundaan itu, saya justru bisa mendalami ilmu agama. Dan itu menjadi bekal berharga yang tak ternilai,” ujar suami Rusmiyati ini
Meski demikian, semangat untuk kuliah tidak pernah padam. Keinginan itu tetap tersimpan rapi di dalam hati. Hingga akhirnya, setelah lebih dari 20 tahun, Allah memberinya kesempatan yang sangat dinanti.
Ia berhasil menyelesaikan program sarjana (S1), dan selanjutnya ia merasakan kebahagiaan luar biasa karena dapat diwisuda pada jenjang magister (S2) di Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.
Dibawa bimbingan Dr. Agus Irfan, SH.,M.PI dan Dr. Warsiyah, S.Pd.I,.M.S.I, Siswo mampu mempertahankan tugas akhir di hadapan para penguji dengan judul Analisis Perspektif Santri Terhadap Strategi Pengasih Dalam Memenuhi Kebutuhan Santri di Pesantren Islamic Centre Bin Baz 4 Wangon Banyumas : Tinjauan Teori Maslow.
Perjalanan panjang itu tentu tidak dijalani sendirian. Ayah 3 anak ini menyadari betul bahwa dukungan banyak pihak menjadi bagian penting dari langkahnya.
Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada kedua orang tuanya yang telah memberikan bekal pendidikan hingga SMA. Ucapan terima kasih juga ia sampaikan kepada Ust. Agung Abu Anas Al-Atsary yang terus memberi semangat dan motivasi agar tidak berhenti belajar.
Tak lupa, penghargaan tulus ia berikan kepada rekan-rekan guru di Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz Wangon dan Pondok Pesantren Daarus Sunnah Wangon. Kebersamaan dengan mereka menjadi energi tersendiri dalam menjalani perkuliahan di tengah aktivitas sehari-hari.
Bagi Siswo, pengalaman ini mengajarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus sesuai rencana. Terkadang, Allah memutar langkah manusia agar tiba di tujuan yang lebih indah, pada waktu yang paling tepat.
“Keterlambatan bukan berarti kegagalan. Kadang Allah menunda sesuatu bukan untuk menghancurkan mimpi kita, tetapi untuk mempersiapkan hati dan langkah kita agar lebih siap ketika waktunya tiba,” tegas guru di MA Bin Baz Wangon ini
Hari wisuda bagi Siswo bukanlah akhir, melainkan titik awal dari perjalanan baru. Gelar akademik hanyalah sebuah simbol pencapaian, sementara hakikatnya adalah proses panjang belajar, berjuang, dan bersyukur.
Dari pengalaman ini, ia ingin menginspirasi siapa pun yang pernah merasa mimpinya tertunda. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar, dan setiap langkah yang diatur oleh Allah selalu menyimpan hikmah.
Siswo adalah bukti nyata bahwa kesabaran, keteguhan, dan keyakinan mampu mengubah keterlambatan menjadi anugerah. Kini, di balik toga wisuda yang ia kenakan, tersimpan kisah panjang penuh pelajaran hidup : bahwa setiap mimpi, pada akhirnya, akan menemukan jalannya sendiri.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








