PEKALONGAN lintasjatimnews – Setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Ada yang lurus, ada yang berliku. Bagi Tri Suryo Hadi Wibowo, S.Pd., M.Pd., jalan itu penuh peluh, kerja keras, dan doa.
Lahir di Pekalongan pada 5 Oktober 1994, Tri tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah tangga yang harus terus dinaiki. Meski untuk mencapainya ia harus berjuang lebih keras dari orang lain.
Ketika menempuh studi S1 di IAIN Pekalongan, jurusan Pendidikan Agama Islam, hidupnya tidaklah mudah. Untuk bisa kuliah, ia harus bekerja sejak pagi. Barulah sore hingga malam ia duduk di bangku kuliah. Hari-harinya diisi oleh rutinitas yang melelahkan, tetapi itulah satu-satunya cara untuk membiayai pendidikannya.
“Kalau mau berhasil, jangan takut lelah. Karena lelah itu yang akan membentuk kita jadi kuat,” begitu ia sering berpesan kepada mahasiswa atau siswa yang curhat tentang beratnya belajar.
Kerja keras itu berbuah manis. Tri berhasil meraih gelar sarjana. Tidak berhenti di sana, ia melanjutkan studi S2 di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. Tantangannya lebih besar, ia sudah menjadi guru dan aktif berorganisasi, tapi tetap mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Judul tesisnya sangat relevan dengan zaman: “Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Menciptakan Joyful Learning pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.” Ia ingin menunjukkan bahwa teknologi bisa berjalan seiring dengan nilai-nilai agama, bukan sebaliknya.
Dari DPRD, Digital Marketing, hingga Guru
Sebelum benar-benar menambatkan diri di dunia pendidikan, Tri sempat menjajal berbagai pengalaman. Ia pernah menjadi staf ahli DPRD Kota Pekalongan, lalu beralih ke dunia digital marketing. Namun, ternyata hatinya tak pernah bisa jauh dari pendidikan. Akhirnya, ia kembali ke panggilan jiwanya yakni menjadi guru.
Kini, ia mengajar Pendidikan Agama Islam dan Informatika di SMK Muhammadiyah Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Bagi para siswanya, Tri bukan sekadar guru. Ia adalah teman diskusi, motivator, sekaligus inspirator. Cara mengajarnya yang komunikatif dan penuh semangat membuat siswa betah di kelas.
“Bagi saya, mengajar bukan sekadar menyampaikan ilmu, tapi bagaimana bisa menyalakan api semangat di hati anak-anak,” ucapnya
Selain di kelas, Tri juga berkiprah di Hizbul Wathan (HW), organisasi kepanduan yang menjadi kawah candradimuka kader Muhammadiyah. Ia adalah pembina HW di sekolahnya dan juga aktif di Kwartir Daerah HW Kabupaten Pekalongan.
Lewat HW, ia ingin mendidik siswa menjadi pribadi yang disiplin, berani, dan berjiwa pemimpin. Ia percaya, pendidikan karakter butuh wadah yang nyata. “Saya yakin, anak-anak HW ini adalah calon pemimpin masa depan. Mereka butuh bimbingan dengan teladan, bukan sekadar kata-kata,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Sosok Inspiratif dari Pekalongan
Di balik aktivitas padatnya, Tri adalah seorang suami dan ayah yang penuh perhatian. Ia menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Baginya, keluarga adalah pelabuhan tempat ia kembali setelah seharian mengabdi. Bersama istri dan anaknya, ia belajar arti keseimbangan hidup yakni bekerja keras di luar, namun tetap hadir penuh cinta di rumah.
Kisah hidup Tri adalah cermin bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja. Ia lahir dari kerja keras, konsistensi, dan keyakinan bahwa setiap perjuangan akan membuahkan hasil. Dari siang bekerja malam kuliah, dari DPRD hingga digital marketing, lalu berlabuh di dunia pendidikan, semua pengalaman itu menempa dirinya hingga kini menjadi guru yang disegani dan disayangi.
“Jangan pernah berhenti belajar dan berjuang. Karena dari situlah keberkahan hidup akan datang,” pesannya yang sederhana namun dalam.
Dari Pekalongan, Tri Suryo Hadi Wibowo terus menebar inspirasi. Ia membuktikan bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa untuk membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









