SURABAYA lintasjatimnews – Persahabatan merupakan salah satu nikmat yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Kehadiran seorang sahabat bukan hanya untuk menemani saat senang, tetapi juga mengingatkan ketika kita mulai melangkah ke jalan yang keliru.
Dalam Islam, sahabat sejati adalah mereka yang saling menguatkan dalam kebaikan dan saling menasihati agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah.
Rasulullah Saw bersabda, “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa nasihat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam. Menasihati bukanlah bentuk kebencian atau mencari-cari kesalahan orang lain, melainkan wujud kasih sayang dan kepedulian agar saudaranya tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan maupun kesalahan.
Karena itu, ketika ada seseorang yang menasihati kita dengan niat yang baik, hendaknya kita menerimanya dengan lapang dada. Jangan buru-buru tersinggung atau merasa direndahkan. Bisa jadi melalui lisannya, Allah sedang menegur kita, mengingatkan kita, dan membuka jalan menuju perubahan yang lebih baik.
Tidak semua orang berani menyampaikan kebenaran. Hanya mereka yang benar-benar peduli yang rela mengambil risiko demi melihat sahabatnya menjadi pribadi yang lebih baik.
Allah Swt. juga berfirman dalam Surah Al-‘Ashr bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini menegaskan bahwa saling memberi nasihat merupakan ciri orang-orang yang beruntung di sisi Allah.
Imam Syafi’i rahimahullah memberikan pesan yang sangat berharga, “Jika engkau mempunyai teman yang selalu membantumu untuk taat kepada Allah, maka peganglah dia erat-erat dan jangan engkau lepaskan.” Nasihat ini mengajarkan bahwa sahabat yang mengajak kepada ketaatan adalah karunia yang sangat mahal nilainya. Di zaman ketika banyak orang lebih suka membenarkan kesalahan daripada mengingatkan, menemukan sahabat seperti itu bukanlah perkara mudah.
Beliau juga berkata, “Mencari teman yang baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah.”
Kalimat ini mengandung makna mendalam bahwa persahabatan yang dibangun di atas iman harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai ego, gengsi, atau rasa tersinggung membuat kita menjauh dari orang-orang yang sebenarnya ingin menyelamatkan kita.
Sebaliknya, kita pun hendaknya menjadi sahabat yang berani menyampaikan nasihat dengan cara yang santun, penuh hikmah, dan dilandasi kasih sayang. Nasihat yang baik tidak bertujuan mempermalukan, melainkan membimbing dan menguatkan.
Semoga Allah mempertemukan kita dengan sahabat-sahabat saleh yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan, mendoakan dalam diam, serta menggandeng tangan kita menuju ridha-Nya. Sebab, persahabatan yang dibangun karena Allah tidak hanya menghadirkan kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadi jalan untuk berkumpul kembali di surga-Nya. Aamiin.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









