Pelatihan Batik Sritanjung Berbasis Relief Candi Penataran, Lestarikan Sejarah Lewat Keterampilan Membatik di Banyuwangi

Listen to this article

BANYUWANGI lintasjatimnews – Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bekerja sama dengan Universitas PGRI Banyuwangi, PKBM Mamba’ul Huda, PKBM Alfatih, dan PKBM Pusaka sukses menyelenggarakan pelatihan batik bertajuk “Sritanjung dalam Sehelai Kain: Inovasi Seni Batik Berbasis Relief Canti Penataram sebagai Representasi Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Banyuwangi.” Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara Tahun 2026 ini berlangsung pada 12 hingga 18 Juli 2026 di Kabupaten Banyuwangi.19/07/26

​Program ini bertujuan untuk mengembangkan inovasi motif batik yang berakar pada kekayaan sejarah dan budaya nusantara, khususnya kisah Sri Tanjung yang dipahat pada relief Canti Penataram. Melalui pendekatan berbasis riset sejarah, para peserta tidak hanya dibekali dengan keterampilan membatik, tetapi juga diajak memahami batik sebagai media pelestarian sejarah, penguatan identitas budaya, sekaligus pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.

​Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan Batik Muktiyasa sebagai mitra industri kreatif yang mendampingi proses produksi batik. Sementara itu, PKBM Mamba’ul Huda, PKBM Alfatih, dan PKBM Pusaka berperan sebagai mitra pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan warga belajar sebagai peserta pelatihan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pelaku industri, dan lembaga pendidikan masyarakat ini menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan inovasi seni yang berbasis potensi budaya lokal.

​Rangkaian kegiatan diawali dengan penyampaian materi secara interaktif oleh tim pelaksana mengenai sejarah Sri Tanjung, nilai-nilai budaya pada relief Canti Penataram, serta proses transformasi unsur visual relief menjadi motif batik kontemporer. Setelah sesi teori, para peserta yang terdiri dari warga belajar PKBM, perwakilan mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Banyuwangi, serta mahasiswa yang terlibat dalam program—mengikuti praktik membatik yang didampingi langsung oleh tim pengrajin Batik Muktiyasa. Tahapan praktik meliputi penyusunan desain motif, pemindahan pola ke atas kain, mencanting, pewarnaan, pelorodan, hingga tahap finishing.

​Ketua Pelaksana kegiatan, Agus Hermawan, M.Pd., menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk implementasi hasil riset sejarah ke dalam karya seni yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.

​”Melalui program ini kami ingin menghadirkan sejarah dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Relief Sri Tanjung di Canti Penataram tidak hanya menjadi objek kajian sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi lahirnya motif batik baru yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi. Kami berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, mitra industri, dan masyarakat seperti ini dapat terus berkembang sehingga warisan budaya dapat dilestarikan melalui inovasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

​Sambut baik juga datang dari Owner Batik Muktiyasa. Menurutnya, pendekatan penciptaan motif berbasis kajian sejarah memberikan perspektif baru dalam pengembangan batik Banyuwangi. Kehadiran motif Batik Sritanjung diharapkan mampu memperkaya khazanah batik daerah sekaligus meningkatkan nilai jual produk melalui cerita sejarah yang melekat pada setiap motif.

​Di sisi lain, para peserta mengaku memperoleh pengalaman berharga. Selain menguasai teknik membatik dari hulu ke hilir, mereka juga mendapatkan pemahaman mendalam mengenai sejarah Sri Tanjung dan kaitannya dengan identitas budaya Banyuwangi. Pengetahuan ini menjadi motivasi kuat bagi peserta untuk terus mengembangkan keterampilan membatik sekaligus turut melestarikan budaya lokal.

​Melalui pelatihan ini, sejumlah karya Batik Sritanjung yang mengadaptasi unsur-unsur visual relief Canti Penataram ke dalam komposisi motif khas Banyuwangi berhasil diciptakan. Karya-karya tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat identitas batik berbasis sejarah, memperluas literasi budaya masyarakat, serta mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

​Program ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi solid antara Universitas Nahdlatul Ulama Blitar, Universitas PGRI Banyuwangi, Batik Muktiyasa, dan mitra PKBM mampu menghadirkan inovasi yang menghubungkan dunia akademik, pelaku industri kreatif, dan masyarakat. Melalui kolaborasi ini, warisan budaya tidak hanya dijaga sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dihidupkan kembali menjadi karya yang bernilai edukatif, artistik, dan ekonomis bagi generasi masa kini dan mendatang.

Reporter : Rio