LAMONGAN LintasJatimNews – Ratusan siswa kelas 9 SMP Negeri 1 Pucuk mendapatkan pembekalan intensif mengenai kesehatan remaja. Pihak sekolah bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kecamatan Pucuk sukses menggelar Penyuluhan Kesehatan Reproduksi (Kespro), Rabu (10/6/2026) di Aula Lantai 2 gedung sekolah tersebut.
Hadir empat orang dari DP3AKB dipimpin langsung oleh Korwil DP3AKB Kecamatan Pucuk, Dra. Istisdah, M.M. Mereka yang akan memberikan penyuluhan kepada murid-murid kelas 9, SMP Negeri 1 Pucuk
Memasuki sesi materi, narasumber utama Dwi Trisana Wardanis, S.KM bersama tim ahli DP3AKB menjelaskan bahwa saat ini 27,94% populasi Indonesia didominasi oleh Gen Z yang berada di usia muda dan remaja awal. Oleh karena itu, pemahaman kesehatan reproduksi menjadi sangat mendesak. Para murid diajak memahami fase pubertas secara ilmiah agar tidak cemas menghadapi perubahan biologis.
Bagi Remaja Perempuan, dijelaskan mengenai fase ovulasi, penebalan dinding rahim, hingga proses terjadinya menstruasi dalam siklus normal 21–35 hari
Bagi Remaja Laki-Laki, dipaparkan mengenai perubahan fisik seperti dada melebar hingga terjadinya mimpi basah pada usia 12–14 tahun.
Narasumber menegaskan bahwa mimpi basah adalah proses biologis matangnya sperma, bukan mengompol biasa.
Tidak hanya membahas masalah biologis, narasumber juga menyoroti berbagai tantangan riil remaja modern, mulai dari bahaya pornografi, penyalahgunaan NAPZA (Narkoba), merokok, bullying, hingga tawuran. Remaja diingatkan untuk tegas menunda hubungan seksual selama berpacaran karena berisiko tinggi memicu Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dan penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Sifilis, Gonore, hingga HIV/AIDS.
KTD pada usia remaja membawa dampak yang sangat fatal, di antaranya:
- Dampak Medis: Risiko eklampsia pada ibu hamil, keguguran (abortus), perdarahan hebat saat persalinan, hingga bayi lahir prematur dengan berat badan rendah.
- Dampak Sosial & Psikologis: Pendidikan yang terganggu (putus sekolah), memicu pernikahan usia dini, hingga risiko terkena Baby Blues Syndrome akibat ketidaksiapan mental dan ekonomi.
Mengenai ancaman narkoba, tim narasumber mengedukasi siswa tentang efek destruktif zat Stimulan, Halusinogen, dan Depresan. Murid diajarkan cara menghindarinya, yakni dengan membangun ketahanan diri dan memilih lingkungan pertemanan yang positif.
Di akhir sesi, narasumber mengajak murid untuk mulai merancang masa depan dengan memanfaatkan momentum Bonus Demografi. Remaja diharapkan mampu mengoptimalkan potensi diri melalui dua aspek:
- Hard Skill: Penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis.
- Soft Skill: Mengasah komunikasi, kemandirian, kemampuan memecahkan masalah, serta integritas diri.
Program GenRe juga menyarankan agar pernikahan hanya dilakukan jika sudah memasuki usia ideal, yaitu 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki, demi kesiapan fisik, mental, dan ekonomi yang matang.
Kegiatan diakhiri dengan gemuruh Salam GenRe: Sehat, Cerdas, Ceria!
Kontributor: M. Said









