LAMONGAN lintasjatimnews – Ketua Pimpinan Cabang Fatayat NU Lamongan, Dewi Maslahatul Ummah MPd, mengajak masyarakat menjadikan momentum Idul Adha sebagai sarana refleksi diri untuk melepaskan sifat-sifat buruk dan nafsu kebinatangan dalam kehidupan sehari-hari, Rabu (27/5/2026)
Menurutnya, setiap Idul Adha umat Islam selalu menyaksikan pemandangan yang sama: hewan kurban disembelih, daging dibagikan kepada masyarakat, dan ucapan selamat Hari Raya bergema di berbagai tempat. Ritual tersebut telah berlangsung sejak kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS ribuan tahun lalu.
Namun, ada pertanyaan penting yang perlu direnungkan bersama, yakni apa yang sebenarnya berubah dari diri manusia setelah pelaksanaan kurban selesai.
“Dalam Al-Qur’an Allah Swt telah menegaskan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada-Nya. Yang sampai adalah ketakwaan manusia. Artinya, kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi simbol kesediaan manusia melepaskan sesuatu yang dicintai demi sesuatu yang lebih tinggi,” ujar mantan Komisioner KPUD Lamongan dua periode ini
Ia menjelaskan, makna terdalam Idul Adha sejatinya adalah upaya menyembelih nafsu kebinatangan dalam diri manusia. Nafsu tersebut dapat berupa amarah, keserakahan, iri hati, hingga sikap merasa paling benar. Sifat-sifat itu, menurutnya, membuat manusia kehilangan akal sehat dan hati nurani yang seharusnya menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya.
“Idul Adha harus menjadi pengingat bahwa manusia diberi akal dan hati nurani untuk mengendalikan hawa nafsu. Jangan sampai manusia hidup hanya mengikuti naluri seperti hewan, yang sekadar makan, mempertahankan wilayah, dan menyerang siapa saja yang dianggap mengancam,” kata mahasiswa Doktoral ini
Dewi juga mengajak masyarakat memahami kembali kisah Nabi Ibrahim AS dalam konteks kehidupan modern saat ini. Menurutnya, “Ismail” yang harus dikorbankan pada masa sekarang tidak selalu berbentuk sesuatu yang nyata, tetapi bisa berupa ego, gengsi, jabatan, maupun dendam yang dipelihara.
“Ismail kita hari ini bisa berupa gengsi yang membuat seseorang sulit meminta maaf, jabatan yang membuat lupa berlaku adil, atau dendam lama yang terus dipelihara. Melepaskan semua itu jauh lebih berat daripada menyembelih kambing,” tutur aktifis perempuan Lamongan ini
Selain makna spiritual, ia menekankan bahwa Idul Adha juga mengandung pesan sosial yang sangat kuat. Pembagian daging kurban kepada masyarakat, terutama fakir miskin dan mereka yang jarang menikmati makanan bergizi, merupakan bentuk nyata kepedulian sosial dalam Islam.
Menurutnya, ibadah kurban tidak boleh berhenti pada aspek teknis semata, seperti membeli hewan, menyembelih, lalu membagikan daging. Lebih dari itu, kurban harus melahirkan empati dan kepedulian terhadap sesama.
“Iman yang sehat tidak bisa dipisahkan dari kepedulian sosial. Orang yang rajin berkurban tetapi masih menutup mata terhadap tetangga yang lapar, sejatinya belum memahami makna kurban yang sesungguhnya,” tegas Wakil Direktur Kesantrian Ponpes An Nur Kembangbahu Lamongan ini
Di akhir pesannya, Dewi mengajak masyarakat menjadikan Idul Adha sebagai hari raya kesadaran, bukan sekadar perayaan konsumsi. Ia berharap umat Islam mampu merefleksikan diri dan bertanya tentang apa yang telah dikorbankan demi menjadi pribadi yang lebih baik.
“Selamat Idul Adha. Semoga kita semua menjadi manusia yang mampu mengendalikan diri, bukan dikendalikan oleh hawa nafsu,” pungkasnya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









