LAMONGAN lintasjatimnews – Dunia pendidikan saat ini tengah mengalami dinamika yang cukup signifikan seiring munculnya berbagai kebijakan dan perkembangan teknologi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta konsep deep learning menjadi dua isu yang ramai diperbincangkan karena dinilai memiliki pengaruh besar terhadap arah pendidikan ke depan. Hal ini disampaikan Guru Bimbingan dan Konseling di MTs Muhammadiyah 2 Pondok Karangasem Paciran.
Lanjutnya, MBG sebagai kebijakan sosial dinilai membawa dampak positif terhadap kesiapan belajar peserta didik. Program ini menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari pemenuhan kebutuhan dasar siswa. Kondisi fisik yang sehat dan tercukupi menjadi faktor penting dalam menunjang konsentrasi dan keaktifan belajar di kelas.
“Sulit mengharapkan siswa fokus jika kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Anak yang sehat dan kenyang memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal,” ungkap alumni Muallimat Yogyakarta
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa MBG dapat menjadi fondasi penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan merata. Namun demikian, pemenuhan kebutuhan fisik saja belum cukup untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini.
Dalam konteks pembelajaran, konsep deep learning mulai mendapat perhatian sebagai pendekatan yang dinilai mampu meningkatkan kualitas pemahaman siswa. Pendekatan ini menekankan pentingnya pemahaman mendalam, kemampuan mengaitkan konsep, serta penguatan keterampilan berpikir kritis.
“Pendidikan perlu bergeser dari sekadar hafalan menuju pemahaman yang lebih mendalam. Siswa tidak hanya mengetahui apa, tetapi juga memahami mengapa dan bagaimana,” tambah penulis produktif ini
Di sisi lain, istilah deep learning juga berkembang dalam dunia teknologi, khususnya dalam ranah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Kehadiran teknologi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan.
Teknologi berbasis AI dinilai mampu membantu proses pembelajaran melalui personalisasi materi dan kemudahan akses informasi. Namun tanpa diimbangi kemampuan berpikir kritis, siswa berpotensi menjadi pasif dan terlalu bergantung pada teknologi.
Selain itu, isu pendidikan karakter kembali mengemuka sebagai aspek yang tidak kalah penting. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan akademik saja dinilai belum cukup tanpa diimbangi dengan nilai-nilai karakter.
Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati menjadi fondasi penting dalam membentuk individu yang mampu berkontribusi positif di tengah masyarakat. Pendidikan karakter diharapkan mampu menjadi penyeimbang di tengah arus perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Menurut Zulfatus Salima, pendidikan ideal saat ini harus mampu memadukan berbagai aspek secara menyeluruh. MBG berperan dalam memastikan kesiapan fisik siswa, deep learning meningkatkan kualitas pembelajaran, sementara pendidikan karakter membentuk kepribadian yang utuh.
Ia menegaskan bahwa ketiga aspek tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Jika hanya mengandalkan MBG tanpa perubahan metode pembelajaran, siswa memang sehat tetapi berpotensi tetap terjebak dalam pola hafalan. Sebaliknya, penerapan deep learning tanpa memperhatikan kondisi dasar siswa juga tidak akan berjalan optimal.
“Begitu pula pendidikan karakter, tanpa kesiapan menghadapi perkembangan teknologi, siswa bisa tertinggal. Semua harus berjalan beriringan,” jelas ujar alumni Magister Studi Islam, konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam
Pada akhirnya, pendidikan yang baik tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan di dalam kelas, tetapi juga bagaimana sistem pendidikan mampu mendukung siswa secara menyeluruh, baik dari aspek fisik, mental, maupun intelektual.
Dengan mengintegrasikan program MBG, pendekatan deep learning, dan penguatan pendidikan karakter, diharapkan dunia pendidikan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









