LAMONGAN lintasjatimnews.com – Setelah dua pekan lebih dilanda cuaca ekstrem di bulan Desember dan Januari, nelayan Pantura Lamongan mengenal dengan istilah Musim Barat atau Baratan. Musim ini ditandai dengan angin sangat kencang, gelombang besar, dan hujan sepanjang hari.
Pada Musim Barat nelayan kecil Pantura Lamongan libur total tidak melaut karena cuaca ekstrem yang berakibat pada keselamatan jiwanya. Memang nelayan kecil dalam melaut menggunakan armada berukuran kecil dan sedang sehingga tidak mampu menahan terjangan angin kencang dan ombak besar Musim Barat.
Kini kondisi cuaca sudah mulai reda (tedo) sejak Jumat (6/1/2023), sebagian nelayan kecil mulai melaut lagi. Namun demikian, ada juga nelayan kecil yang belum berani melaut, karena khawatir angin sangat kencang datang secara mendadak (angin kemaragan).
Nelayan kecil dari babakan Sidodadi, Sukunan, Paciran, Akhnaf, menceritakan, “Saya kemarin (Jumat) melaut tidak penuh, tetapi cepat-cepat karena masih was-was dan khawatir ada angin kemaragan tiba. Alhamdulillah mendapatkan hasil tangkapan rajungan 3,5 kilogram,” demikian ceritanya.
Imam Syafi’I, nelayan blok Musdama, mengatakan, “Musim Barat tahun ini lebih ekstrem dari pada tahun sebelumnya, 17 hari konco-konco nelayan kecil libur melaut dan menunggu musim tedo.
Alhamdulillah mulai hari ini banyak yang melaut, saya kemarin melaut mendapat rajungan 11 kilogram dan hari ini (Sabtu, 7/1/2023) dapat 3 kilogram rajungan,” pungkasnya.
Semua warga nelayan, keluarga, pelaku usaha perikanan berharap semoga Musim Barat segera berlalu sehingga nelayan bisa melaut semuanya dengan rasa aman dan nyaman. Awal musim tedo (reda) kali ini perolehan tangkapan rajungan dengan baik dan harganya juga sudah mulai membaik.
Informasi yang diperoleh di pasaran harga rajungan sudah mulai membaik, yaitu; kisaran Rp 50.000 sampai dengan Rp 60.000. Apabila dibandingkan dengan harga rajungan sebelum Musim Barat, yaitu sekitar Rp 30.000 sampai Rp 35.000.
Reporter: Efendi









