Maulid dan Inovasi: Muhammadiyah Mengantar Anak Sukses di Era AI tanpa Kehilangan Ahklak

Listen to this article

LAMONGAN lintajatimnews – etiap bulan Rabi’ul Awal, kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini bukan sekadar seremonial sholawat dan ceramah. Lebih dari itu, Maulid adalah momentum untuk bertanya: “Sudah sejauh mana kita meneladani Nabi dalam kehidupan, termasuk dalam mendidik anak?”

Pertanyaan itu menjadi semakin penting hari ini. Kita hidup di era Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence. Anak-anak kita belajar dengan ChatGPT. Guru membuat soal dengan AI. Sekolah mengelola data dengan sistem digital. Dunia berubah sangat cepat.

Lalu di mana posisi pendidikan Islam, khususnya sekolah Muhammadiyah, di tengah pusaran teknologi ini?

  1. ERA AI: PELUANG DAN UJIAN

Kita tidak boleh anti teknologi. AI adalah nikmat. Dengan AI, pembelajaran bisa personal. Anak yang lemah matematika bisa dapat tutor 24 jam. Guru bisa fokus pada pembinaan karakter karena administrasi diringankan AI.

Namun AI juga ujian. UNESCO mengingatkan bahwa AI berpotensi menimbulkan plagiasi, ketergantungan, dan melemahkan berpikir kritis jika tidak diimbangi literasi karakter.

Jika pendidikan hanya mengejar “pintar” tanpa “benar”, maka kita sedang mencetak generasi yang cerdas otaknya tapi kosong jiwanya.

Di sinilah Maulid Nabi hadir sebagai kompas.

  1. TELADAN NABI: 3 PRINSIP PENDIDIKAN ANTI-RAPUH

Rasulullah SAW tidak pernah kenal AI. Tapi prinsip mendidik beliau sangat relevan hari ini.
Pertama: Pendidikan dengan Keteladanan
Nabi tidak hanya menyuruh sholat. Beliau sholat di depan para sahabat. Di era AI, anak tidak butuh guru yang hanya bisa perintah “matikan HP”. Anak butuh guru dan orang tua yang memberi teladan: bagaimana menggunakan HP untuk dakwah, bukan maksiat.

Kedua: Pendidikan dengan Dialog
Nabi selalu berdialog, bertanya, dan mendengarkan. Padahal beliau bisa saja otoriter. AI bisa menjawab, tapi AI tidak bisa “merasa”. Tugas guru dan orang tua adalah menjadi tempat pulang saat anak bingung dengan banjir informasi dari AI. Satu Frekuensi, Satu Hati dimulai dari mau mendengar.

Ketiga: Pendidikan dengan Kasih Sayang
Nabi bersabda: “Sayangilah yang di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu”. Pendidikan tanpa cinta akan melahirkan robot. Sekolah lebih khusus sekolah/madrasah Sekolah Muhammadiyah harus jadi sekolah yang paling manusiawi di tengah gempuran mesin.

Allah berfirman: (Wa innaka la’alaa khuluqil ‘adhiim)
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”
Ini standar kita. Bukan hanya nilai 100, tapi akhlak 100.

  1. PERAN MUHAMMADIYAH: MELEK AI, KOKOH IMAN

Sebagai Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PD Muhammadiyah Lamonngan, penulis meyakini sekolah Muhammadiyah harus menjadi yang terdepan dalam inovasi, tapi tidak boleh meninggalkan identitasnya. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang berkemajuan.

Muktamar Muhammadiyah ke-48 telah merekomendasikan penguatan pendidikan berbasis digital dan karakter. Karena itu kita dorong 3 langkah:

  1. Guru Upgrade: Guru wajib melek AI untuk pembelajaran. Tapi juga wajib menguatkan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
  2. Sekolah Berkemajuan: Gunakan AI untuk administrasi dan pembelajaran diferensiasi. Tapi jadikan Masjid dan Mushola sebagai pusat peradaban sekolah.
  3. Sinergi Orang Tua-Sekolah: Allah memerintahkan “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Orang tua tidak bisa menyerahkan pendidikan sepenuhnya ke sekolah atau ke AI. Di rumah harus ada waktu ngaji, sholat berjamaah, dan ngobrol.

Tiga pilar pendidikan yang digagas Ki Hajar Dewantara dengan sebutan tripusat Pendidikan dan kemudian ditambah satu lagi oleh Mendikadsmen RI., Prof Dr. Abdul Mukti, M.Ed. menjadi catur pusat Pendidikan, yaitu keluarga (orang tua) sekolah (guru), Masyarakat, dan media sosial, sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak. Oleh katena itu keluarga (orang tua) dan sekolah harus satu frekuwensi. “Satu Frekuensi, Satu Hati: Sinergi Orang Tua dan Sekolah Mengantar Anak Sukses Masa Depan” lahir dari kesadaran ini. Allah juga berfirman bahwa perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri.

Ingat pesan KH. Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Pesan tersebut terkandung maksud agar insan Muhammadiyah bekerja keras dan cerdas serta berjuang dengan ikhlas.

PENUTUP

Maulid Nabi mengingatkan kita bahewa teknologi boleh berubah, tapi tujuan pendidikan tidak boleh berubah: mencetak insan kamil.

AI bisa membantu anak menghitung cepat. Tapi hanya akhlak Nabi yang bisa mengajarkan anak kapan harus berhenti menghitung dan mulai bersedekah.
AI bisa membuat presentasi indah. Tapi hanya teladan Nabi yang bisa mengajarkan anak tentang kejujuran.

Mari kita rayakan Maulid dengan aksi. Jadikan sekolah Muhammadiyah sebagai sekolah yang paling inovatif dalam teknologi, dan sekaligus paling kokoh dalam iman dan akhlak.

Karena anak yang sukses masa depan bukan hanya yang bisa mengoperasikan AI. Tapi anak yang bisa mengendalikan AI dengan hati yang bertakwa.

DAFTAR PUSTAKA / CATATAN KAKI

  1. Raghib As-Sirjani. Muhammad Sang Guru. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2019.
  2. OECD. Education in the Age of Artificial Intelligence. Paris: OECD Publishing, 2023.
  3. UNESCO. Guidance for Generative AI in Education and Research. Paris: UNESCO, 2023.
  4. Ibnu Hisyam. As-Sirah An-Nabawiyah. Beirut: Darul Fikr, tt.
  5. At-Tirmidzi. Sunan At-Tirmidzi, No. 1924.
  6. Al-Qur’an, QS. Al-Qalam: 4.
  7. Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Yogyakarta: PP Muhammadiyah, 2010.
  8. Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-48. Surakarta, 2022.
  9. Al-Qur’an, QS. At-Tahrim: 6.
  10. Al-Qur’an, QS. Ar-Ra’d: 11.
  11. Abdurrahman. KH. Ahmad Dahlan: Pemikiran dan Teladan. Yogyakarta: UMM Press, 2015

Penulis / Kontributor : M. Said