Kesaksian Putra dan Kader Aisyiyah tentang Sosok Dra. Hj. Sumu Zanarofah, M.Ag., Pemimpin yang Mengabdi Sepenuh Hati

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Kepergian Dra. Hj. Sumu Zanarofah, M.Ag., Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Lamongan selama tiga periode, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah dan Aisyiyah. Sosok yang dikenal sebagai pendidik, mubalighat, sekaligus pemimpin perempuan itu dikenang sebagai pribadi yang disiplin, tegas, tulus, dan memiliki semangat pengabdian yang luar biasa hingga akhir hayatnya.

Bagi keluarga, almarhumah yang akrab disapa Umik Summu bukan sekadar seorang ibu, melainkan teladan dalam menjalankan amanah dakwah dan organisasi. Hal itu disampaikan putra ketiganya, Rifma Ghulam Dzaljadd, yang mengenang ibundanya sebagai sosok yang tidak pernah mengenal lelah dalam mengabdi kepada umat.

Menurut Rifma, kedisiplinan Umik Summu tercermin dalam setiap aktivitas kesehariannya. Agenda dakwah, pengajian, dan kegiatan organisasi selalu dipandang sebagai bagian dari ibadah yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Karena itu, rasa lelah maupun kondisi kesehatan yang menurun tidak pernah dijadikan alasan untuk meninggalkan amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

“Beliau selalu menganggap dakwah dan organisasi sebagai amanah yang harus ditunaikan. Selama masih mampu, beliau akan tetap hadir memenuhi undangan pengajian maupun kegiatan Aisyiyah,” ungkap Rifma.

Ia menceritakan, beberapa kali dokter telah mengingatkan agar ibundanya mengurangi aktivitas karena mengalami gangguan pada lutut. Bahkan, beliau disarankan untuk tidak sering menaiki tangga maupun berjalan jauh. Namun, keterbatasan fisik itu tidak pernah memadamkan semangatnya dalam berdakwah.

Ketika kondisi kesehatan semakin menurun hingga harus menggunakan kursi roda, Umik Summu tetap berusaha menghadiri berbagai kegiatan organisasi. Di hadapan jamaah, beliau selalu tampil penuh semangat dan seolah tidak sedang menanggung rasa sakit. Namun sesampainya di rumah, kondisi fisiknya kembali melemah hingga harus beristirahat.

“Banyak yang mengira beliau sehat karena selalu tampak bersemangat saat berada di tengah jamaah. Padahal setelah pulang ke rumah, beliau sering kelelahan karena fisiknya sudah tidak sekuat dulu. Itulah bukti bahwa kecintaannya terhadap dakwah jauh lebih besar daripada rasa sakit yang beliau rasakan,” tutur Rifma.

Selain dikenal sebagai sosok pekerja keras, Umik Summu juga memiliki ketegasan dalam memegang prinsip. Menurut Rifma, ibundanya tidak pernah ragu menegur apabila melihat sesuatu yang dinilai kurang tepat, baik dalam keluarga maupun organisasi. Ketegasan itu juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya agar memiliki disiplin, rajin belajar, serta berani memiliki cita-cita besar.

Di balik sikap tegas tersebut, lanjut Rifma, tersimpan ketulusan yang luar biasa. Selama puluhan tahun mengabdi di Aisyiyah, beliau tidak pernah mengharapkan penghargaan ataupun balasan. Sebagian besar waktu, tenaga, dan pikirannya dicurahkan untuk membina umat, bahkan tidak jarang kepentingan organisasi lebih didahulukan daripada kepentingan pribadi.

Kepedulian sosialnya pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Umik Summu dikenal gemar berbagi kepada tetangga, jamaah, dan masyarakat yang membutuhkan. Beliau sering memberikan makanan, membagikan sembako, hingga membantu honor guru taman kanak-kanak dan guru mengaji menggunakan dana pribadi, meskipun kondisi ekonomi keluarganya tidak selalu berlebih.

Kesaksian serupa disampaikan Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kader PDA Lamongan, Eny Normawati, S.E. Menurut Eny, wafatnya Bu Summu merupakan kehilangan besar bagi keluarga besar Aisyiyah Lamongan. Ia mengaku merasakan secara langsung proses pembinaan dan kaderisasi yang diberikan almarhumah sejak aktif di Nasyiatul Aisyiyah.

“Beliau adalah sosok yang disiplin, tegas, tetapi sangat penyayang kepada kader-kader muda. Bu Summu tidak pernah sungkan menyampaikan kebenaran dan memberikan nasihat demi kemajuan organisasi,” kata Eny.

Eny menilai ketegasan Bu Summu bukanlah bentuk kekerasan dalam memimpin, melainkan wujud tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai perjuangan Aisyiyah. Karena itu, meski nasihat yang disampaikan terkadang terasa keras, semuanya dilakukan dengan niat membina dan mendidik.

“Beliau tegas dalam prinsip, tetapi sangat perhatian kepada kader-kadernya. Keteladanan, kedisiplinan, dan keberaniannya dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran menjadi inspirasi bagi kami semua,” ujarnya.

Menurut Eny, kepemimpinan Bu Summu berhasil melahirkan banyak kader yang kini tersebar mengabdi di berbagai bidang dan daerah. Semangat kaderisasi yang beliau tanamkan telah membentuk pribadi-pribadi yang tangguh, militan, dan memiliki komitmen tinggi terhadap dakwah Persyarikatan.

Baik Rifma maupun Eny sepakat bahwa warisan terbesar Umik Summu bukanlah jabatan yang pernah diemban, melainkan keteladanan hidup yang ditunjukkan melalui disiplin, keikhlasan, keberanian memegang prinsip, dan pengabdian tanpa pamrih.

Kepergian Dra. Hj. Sumu Zanarofah, M.Ag. (22/6/2026) di RSM Lamongan memang meninggalkan duka mendalam. Namun, nilai-nilai perjuangan yang beliau tanamkan akan terus hidup dalam keluarga, kader Aisyiyah, dan masyarakat. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai perempuan tangguh yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus melanjutkan estafet perjuangan dengan keikhlasan dan keteguhan hati.

Reporter Fathurrahim Syuhadi