LAMONGAN lintasjatimnews – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kembali menjadi pengingat penting akan perjuangan perempuan Indonesia dalam meraih kesetaraan. Namun, menurut DR Hj Mu’ah, MM, M.Pd, Dosen ITB ADLA [Institut Tehno;ogi dan Bisnis] Ahmad Dahlan Lamongan makna Kartini tidak berhenti pada romantisme sejarah, melainkan terus hidup dalam dinamika kepemimpinan perempuan di era modern.
Ia menegaskan bahwa jika Raden Ajeng Kartini hidup di masa kini, perjuangannya akan tetap sama, meski bentuknya berbeda. Fokusnya tetap pada kesetaraan, akses pendidikan, serta keterlibatan perempuan dalam ruang publik, termasuk dalam kepemimpinan.
“Kartini masa kini adalah perempuan yang berani mengambil peran, memiliki visi, dan mampu memberi pengaruh positif bagi lingkungannya,” ujar mantan Rektor ITB ADLA ini
Di era modern, perempuan telah menunjukkan eksistensinya sebagai pemimpin di berbagai sektor, mulai dari politik, pendidikan, bisnis, hingga teknologi. Meski demikian, DR Mu’ah mengingatkan bahwa jalan menuju kesetaraan belum sepenuhnya mulus. Stereotip gender, bias sosial, serta hambatan struktural masih menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi perempuan.
“Perempuan sering kali harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan kapasitasnya sebagai pemimpin,” tegas perempuan kelahiran Lamongan 1968 ini
Menurutnya, kepemimpinan perempuan memiliki karakteristik khas yang justru menjadi kekuatan di tengah kompleksitas zaman. Pendekatan yang lebih empatik, inklusif, serta menjunjung tinggi kolaborasi dan integritas menjadikan perempuan mampu menghadirkan gaya kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Dalam konteks ini, pendidikan memegang peran strategis sebagai kunci utama dalam mencetak pemimpin perempuan masa depan. Akses pendidikan yang setara memungkinkan perempuan mengembangkan potensi diri secara maksimal, sekaligus membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis dan kepemimpinan yang matang.
“Perempuan yang berpendidikan memiliki kekuatan untuk melihat peluang, mengambil keputusan bijak, dan menciptakan solusi yang berdampak luas,” jelas Doktor Ilmu Ekonomi lulusan Unair Surabaya ini.
Namun, ia juga menekankan bahwa pendidikan saja tidak cukup tanpa diiringi dengan kepercayaan diri dan keberanian untuk melangkah. Banyak perempuan yang memiliki kemampuan, tetapi masih ragu mengambil peran kepemimpinan karena tekanan sosial atau minimnya representasi.
“Perempuan harus berani keluar dari keraguan. Bangun jaringan, saling mendukung, dan jadilah mentor bagi generasi berikutnya,” imbuh Pakar Kajian Manajemen Pemasaran ini.
Lebih jauh, DR Mu’ah menegaskan bahwa Kartini masa kini tidak selalu hadir dalam sosok besar. Peran kepemimpinan perempuan bisa dimulai dari ruang-ruang sederhana, seperti keluarga, sekolah, maupun komunitas.
“Ibu yang mendidik anak dengan nilai kesetaraan, guru yang menginspirasi, atau pemimpin komunitas yang membawa perubahan—semuanya adalah Kartini masa kini,” ungkap Dosen LLDIKTI Wilayah VII Jatim ini
Ia juga menyoroti pentingnya ketangguhan sebagai fondasi kepemimpinan perempuan. Menurutnya, perempuan tangguh bukanlah yang tidak pernah jatuh, tetapi yang mampu bangkit setiap kali menghadapi kesulitan.
“Ketangguhan lahir dari keberanian, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar,” ujar Pengampu Mata Kuliyah MSDM ini.
Di tengah berbagai tantangan, Hj Muah mengajak perempuan untuk terus berkembang dan tidak takut bermimpi besar. Ia menegaskan bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan.
“Menjadi pemimpin bukan soal jabatan, tetapi tentang bagaimana membawa perubahan dan memberi inspirasi,” tegas Doktor perempuan pertama di kampus ITB ADLA ini
Mengakhiri pandangannya, ia menegaskan bahwa semangat Kartini harus terus dihidupkan dalam setiap langkah perempuan Indonesia.
“Dengan pendidikan, ketangguhan, dan semangat juang, perempuan mampu menjadi pemimpin hebat yang membawa perubahan positif bagi masyarakat dan masa depan,” pungkas mantan Kepala LPPM ini
Reporter Fathurrahim Syuhadi









