LAMONGAN lintasjatimnews – Lebih dari satu abad lalu, R.A. Kartini menuliskan keresahannya dalam lembar-lembar surat. Dari balik dinding Jepara, ia melihat dunia yang lebih luas: dunia di mana perempuan boleh bermimpi, boleh berpikir, dan boleh menentukan arah hidupnya. Hal ini disampaikan Arika Karim, S,HI, S.Pdi Ketua PD Nasyiatul Aisyiyah Lamongan, Selasa (21/4/2026)
Menurutnya, Kartini tidak hanya mengeluh pada gelap. Ia belajar. Dengan buku-buku dan pena, ia membuka cakrawala yang saat itu tertutup bagi perempuan. Dari belajar, lahirlah kesadaran. Dari kesadaran, lahirlah keberanian untuk bergerak.
“Gerak Kartini sederhana tapi menggetarkan: mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan, menyuarakan pentingnya pendidikan, dan menolak tunduk pada batas yang dibuat zaman. Ia tahu, perubahan tidak datang jika hanya ditunggu,” ujar alumni UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda
Hari ini, kita adalah penerus obor Kartini. Belajar menjadi kewajiban, bukan pilihan. Karena hanya dengan ilmu kita bisa berdiri sama tinggi,meningkatkan kualitas hidup, ketenangan jiwa, dan sarana ibadah yang benar. Ilmu mengangkat derajat seseorang, memudahkan jalan ke surga, serta menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Selain itu, ilmu membantu membedakan hak dan batil, memecahkan masalah, serta membimbing perilaku agar lebih bijak.
“Bergerak menjadi keharusan, karena diam berarti membiarkan keadaan tetap sama. Dan ketika kita belajar lalu bergerak dengan tindakan nyata, sekecil apapun, yang dilakukan dengan konsisten insyaallah memberikan dampak positif dan kita akan menginspirasi menjadi Kartini-Kartini baru di rumah, di sekolah, di kantor, di masyarakat,” ungkap alumni Ponpes Yayasan Taman Pengetahuan Kertosono ini
Aktifis perempuan Lamongan ini menambahkan bahwa Kartini telah tiada, tapi semangatnya hidup dalam setiap perempuan yang berani melangkah. Dalam setiap anak gadis yang tidak takut bermimpi besar. Dalam setiap ibu yang mendidik anaknya untuk berani dan adil.
“Selamat Hari Kartini. Mari terus belajar, terus bergerak, dan terus menjadi inspirasi. Karena habis gelap, terbitlah terang. Dan terang itu adalah kita,” pungkas ibu dari
3 putraAhmad Aqil Al Kayyis, Ahmad Azza Al Haqqy dan Ahmad Cleo Azfar
Reporter Fathurrahim Syuhadi









