LAMONGAN lintasjatimnews – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kembali menjadi momentum penting untuk merefleksikan peran perempuan dalam perjalanan bangsa. Namun bagi Dewi Mashlahatul Ummah, Ketua PC Fatayat NU Lamongan, peringatan ini tidak boleh berhenti pada seremoni simbolik semata seperti berkebaya atau bersanggul.
Menurutnya, Hari Kartini harus menjadi alarm kesadaran bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Jika di masa lalu perempuan berjuang membuka akses pendidikan, maka hari ini tantangannya telah bergeser : bagaimana perempuan memanfaatkan peluang yang sudah terbuka.
“Dulu perempuan tidak diberi ruang untuk belajar. Sekarang ruang itu terbuka lebar. Pertanyaannya, sudah sejauh mana kita melangkah dan apa yang kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki?” ujar Dewi yang terpilih melalui Konferensi Cabang (Konfercab) XVII
Dewi menilai tema “Perempuan Belajar, Bergerak, dan Berdampak” sangat relevan untuk Kartini masa kini. Tiga kata tersebut, katanya, bukan sekadar slogan, melainkan tahapan perjuangan yang tidak bisa dipisahkan.
Pada tahap pertama, belajar menjadi fondasi utama yang tidak bisa ditawar. Ia menegaskan bahwa ilmu adalah kekuatan utama perempuan dalam menghadapi perubahan zaman. Namun, persoalan hari ini bukan lagi soal boleh atau tidak perempuan mengenyam pendidikan, melainkan arah dan tujuan dari pendidikan itu sendiri.
“Belajar bukan untuk menumpuk ijazah, tetapi untuk membangun nilai tawar. Tanpa ilmu, perempuan hanya akan menjadi penonton, bahkan bisa menjadi korban kepentingan,” tegas penerima penghargaan perempuan inspiratif kab Lamongan tahun 2025 ini.
Ia juga mendorong perempuan untuk berani masuk ke ruang-ruang strategis yang selama ini masih didominasi laki-laki, seperti sains, teknologi, ekonomi, hingga politik.
Menurutnya, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh peran perempuan hari ini, terutama dalam mendidik anak-anak dengan nilai toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman.
Memasuki tahap kedua, Dewi menekankan pentingnya bergerak. Ia mengingatkan bahwa ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi wacana tanpa makna.
“Ilmu tanpa gerakan itu mandul. Perempuan harus berani keluar dari zona nyaman, mengambil peran, dan tidak sekadar menjadi penonton,” ungkap mantan aktifis PMII ini
Bentuk gerakan tersebut bisa beragam, mulai dari memimpin forum, mengembangkan usaha kecil, menyusun kebijakan, hingga berkontribusi dalam lingkungan keluarga. Lebih dari itu, ia juga menekankan pentingnya solidaritas antarperempuan.
“Perempuan harus saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Kompetisi sehat dan kolaborasi kuat adalah kunci,” tambah aktifis yang tinggal di Kecamatan Babat ini.
Tahap ketiga adalah berdampak. Dewi menegaskan bahwa ukuran keberhasilan gerakan perempuan tidak harus besar atau viral, tetapi nyata dirasakan.
“Dampak itu sederhana. Bisa dari perubahan pola asuh di rumah, membuka peluang kerja, atau memastikan anak perempuan tetap sekolah. Yang penting ada perubahan,” jelas pemimpin perempuan muda NU di Lamongan ini
Ia juga mengingatkan bahwa gerakan perempuan harus terarah dan berbasis kebutuhan nyata, bukan sekadar formalitas atau ajang pencitraan.
Menutup pernyataannya, Dewi mengajak seluruh perempuan untuk melanjutkan perjuangan Kartini dengan cara yang lebih konkret.
“Kalau ingin menghormati Kartini, jangan hanya mengenang. Ambil semangatnya. Belajar dengan sungguh-sungguh, bergerak dengan berani, dan pastikan memberi dampak,” pungkasnya mantan Komisioner KPUD Lamongan dua periode ini
Reporter Fathurrahim Syuhadi









