Cerdas Pikirnya, Luhur Akhlaknya, Besar Karyanya : Meneladani Semangat Kartini dalam Gerakan Hizbul Wathan

Listen to this article

MAKASAR lintasjatimnews — Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali mengenang Raden Ajeng Kartini sebagai simbol kebangkitan perempuan dan pelopor pemikiran maju di Indonesia. Namun, lebih dari sekadar peringatan seremonial, semangat Kartini terus hidup sebagai inspirasi bagi generasi muda dalam membangun peradaban yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna.

Semangat itu pula yang kini dihidupkan dalam gerakan kepanduan Hizbul Wathan melalui tema besar “Cerdas Pikirnya, Luhur Akhlaknya, Besar Karyanya”. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan nilai dasar pembentukan karakter kader yang siap menghadapi tantangan zaman.

Ketua Kwartir Pusat Hizbul Wathan Heryanti Alamsyah menegaskan bahwa Kartini adalah inspirasi yang sangat relevan dengan misi kepanduan saat ini.

“Kartini telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berpikir. Dalam Hizbul Wathan, kami menegaskan bahwa kader harus cerdas, berani berpikir maju, dan mampu membaca perubahan zaman,” tegas kandidat Doktor ini

Menurutnya, kecerdasan dalam Hizbul Wathan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari ketajaman analisis, kemampuan problem solving, serta kepekaan sosial.

“Cerdas itu bukan hanya tahu, tetapi mampu memahami dan bertindak dengan tepat di tengah masyarakat,” jelas Ketua Kwartir Pusat HW yang Membidangi Pustaka dan Literasi ini

Lanjutnya, nilai yang diwariskan Kartini sangat sejalan dengan konsep pendidikan karakter dalam kepanduan.
Ia menekankan bahwa kecerdasan harus berjalan beriringan dengan akhlak.

“Kartini bukan hanya tokoh pemikir, tetapi juga pribadi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Inilah yang disebut sebagai kecerdasan yang beradab,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, Hizbul Wathan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.

“Kalau hanya pintar tanpa akhlak, maka akan lahir generasi yang rapuh. Tapi jika cerdas dan berakhlak, maka akan lahir pemimpin masa depan yang kuat dan amanah,” jelasnya

Dari sisi pembinaan kader, Heryanti Alamsyah menyampaikan bahwa semangat Kartini juga harus diwujudkan dalam karya nyata.
Ia menyebut bahwa setiap kader Hizbul Wathan dituntut untuk tidak berhenti pada wacana, tetapi harus hadir dalam aksi.

“Kartini telah memberi teladan bahwa gagasan harus diwujudkan dalam tindakan. Maka kader HW harus berkarya, sekecil apa pun itu, selama memberi manfaat bagi lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, karya dalam konteks Hizbul Wathan tidak selalu besar secara materi, tetapi besar dalam dampak sosial.
“Besar karya bukan berarti besar bentuknya, tetapi besar manfaatnya bagi umat dan masyarakat,” tegasnya.

“Kartini hari ini bukan hanya tentang perempuan, tetapi tentang siapa saja yang mau berpikir maju, menjaga akhlak, dan menghasilkan karya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Hizbul Wathan menjadi salah satu wadah penting dalam menyiapkan generasi tersebut.
“Gerakan kepanduan seperti Hizbul Wathan adalah laboratorium karakter. Di sinilah nilai Kartini harus benar-benar dihidupkan,” jelasnya.

Momentum Hari Kartini ini kemudian menjadi ajakan moral bagi seluruh kader dan generasi muda untuk melakukan refleksi diri. Apakah kecerdasan sudah digunakan untuk kebaikan? Apakah akhlak sudah menjadi dasar dalam bertindak? Dan apakah karya sudah benar-benar memberi manfaat?

“Kartini bukan hanya dikenang, tetapi dilanjutkan perjuangannya. Hizbul Wathan harus menjadi ruang lahirnya generasi yang cerdas pikirnya, luhur akhlaknya, dan besar karyanya,” pungkasnya

Reporter Fathurrahim Syuhadi