BANYUWANGI lintasjatimnews – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Perikanan menegaskan komitmen strategis dalam memperkuat posisi nelayan sebagai aktor utama dalam pembangunan ekonomi biru (Blue Economy). Dalam agenda konsolidasi dan silaturahmi yang dihadiri oleh berbagai Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, SP., M.Si., menekankan pentingnya reorientasi peran nelayan dari sekadar unit produksi perikanan menjadi garda terdepan pelestarian lingkungan pesisir.
Dalam sambutannya, Suryono Bintang Samudra memaparkan bahwa nelayan merupakan pilar fundamental dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan stabilitas ekonomi daerah. Namun, pemerintah juga menggarisbawahi peran krusial nelayan dalam kerangka konservasi laut yang mencakup:
Preventif terhadap Destructive Fishing: Menjaga sumber daya ikan dari praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan.
Restorasi Ekosistem: Berperan aktif dalam transplantasi terumbu karang dan rehabilitasi kawasan mangrove sebagai benteng alami pesisir.
Mitigasi Perlindungan Biota: Menjadi subjek aktif dalam perlindungan spesies laut terancam punah, seperti penyu.
”Saudara-saudara bukan sekadar pencari ikan, melainkan mata dan telinga negara melalui Pokmaswas. Ini adalah manifestasi dari tata kelola perikanan berbasis masyarakat (community-based management) yang mulia,” ujar Suryono.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengapresiasi keberhasilan nelayan dalam mengadopsi semangat ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Inovasi program Fishing for Litter di mana nelayan secara proaktif mengambil sampah dari laut saat melaut.
Lingkungan pesisir yang bersih secara linier akan meningkatkan daya tarik wisatawan, yang pada akhirnya memicu multiplier effect terhadap pendapatan ekonomi masyarakat pesisir.
Menghadapi tantangan anomali iklim dan fenomena El Nino pada periode April hingga Oktober, Dinas Perikanan mengimbau nelayan untuk meningkatkan kapasitas adaptasi. Peningkatan suhu laut dan perubahan pola angin timuran menuntut nelayan untuk lebih literat terhadap data cuaca dan teknologi navigasi.
Pemerintah terus mendorong nelayan untuk memprioritaskan keselamatan di laut (safety at sea) dan menggunakan alat tangkap yang selektif serta ramah lingkungan guna menjaga keberlanjutan stok ikan di tengah fluktuasi kondisi alam.
Terkait dukungan pemerintah dalam bentuk BBM Bersubsidi, Kepala Dinas menegaskan bahwa subsidi merupakan instrumen afirmatif negara untuk menjaga daya saing nelayan kecil. Namun, beliau menekankan pentingnya aspek akuntabilitas dalam pemanfaatannya.
”BBM bersubsidi adalah amanah yang harus dikelola secara tepat sasaran, tepat guna, dan transparan. Efisiensi penggunaan energi menjadi kunci keberlanjutan usaha perikanan di masa depan,” tegasnya.
Mengakhiri rangkaian kegiatan, Suryono mengajak seluruh elemen nelayan untuk memperkuat modal sosial melalui gotong royong dan soliditas antar-kelompok. Persatuan nelayan dipandang sebagai kekuatan kolektif yang jauh lebih esensial dibandingkan penguasaan sarana fisik semata.
Dengan mengusung semangat “Laut Kita, Tanggung Jawab Kita”, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi optimis bahwa sinergi antara kebijakan publik yang tepat dan partisipasi aktif masyarakat akan mewujudkan nelayan yang produktif, peduli lingkungan, dan bermartabat demi masa depan Banyuwangi yang lebih hebat.
Reporter : Rio









