SURABAYA lintasjatimnews – Dalam sejarah peradaban, kemajuan suatu bangsa selalu diiringi dengan kemajuan literasinya. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi keterampilan memahami, mengolah, dan mengaplikasikan pengetahuan untuk kemaslahatan.
Ungkapan “Satu buku bisa membuka ribuan mimpi” bukanlah kiasan kosong; ia adalah kenyataan yang telah dibuktikan oleh banyak tokoh besar dunia.
Al-Qur’an sendiri memulai wahyu pertamanya dengan perintah membaca: “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq” (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan) [QS. Al-‘Alaq: 1]. Ayat ini menegaskan bahwa membaca adalah pintu awal ilmu dan peradaban.
Nabi Muhammad Saw juga bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah). Kedua sumber utama ajaran Islam ini menempatkan literasi sebagai pondasi kehidupan yang berkualitas.
Buku adalah cahaya dalam kegelapan. Di dalamnya tersimpan ide, pengalaman, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Satu buku dapat menuntun seorang anak di desa terpencil untuk bercita-cita menjadi dokter, insinyur, atau ilmuwan. Dari lembaran demi lembaran, ia menemukan bahwa dunia jauh lebih luas daripada yang ia lihat sehari-hari.
Sayangnya, minat baca di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Data UNESCO menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah dibanding negara lain.
Ironisnya, di tengah kemudahan akses teknologi, buku masih belum menjadi teman akrab bagi sebagian besar masyarakat. Padahal, negara yang literasinya tinggi akan memiliki daya saing yang lebih kuat di tingkat global.
Para ulama klasik pun sangat menekankan pentingnya literasi. Imam Syafi’i, misalnya, pernah berpesan, “Ilmu itu ibarat cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”
Pesan ini mengandung makna bahwa literasi dan moralitas harus berjalan seiring, agar ilmu membawa manfaat, bukan mudarat.
Gerakan literasi bukan hanya tugas guru atau pustakawan, tetapi tanggung jawab bersama. Orang tua dapat memulainya dari rumah dengan membiasakan anak membaca buku sebelum tidur.
Sekolah dapat menghidupkan pojok baca atau klub literasi. Komunitas dapat mengadakan taman baca keliling atau program donasi buku ke daerah terpencil.
Satu buku yang dibaca bisa menyalakan cahaya dalam hati seseorang. Cahaya itu kemudian menumbuhkan mimpi, dan mimpi tersebut menjadi energi untuk berkarya dan mengabdi pada negeri.
Kita mungkin tidak bisa membangun perpustakaan besar di seluruh pelosok. Kita bisa memulai dari langkah kecil yakni membagikan buku, mengajak membaca, atau bahkan menulis buku sendiri.
Jika setiap orang mau menyalakan satu lilin literasi, maka negeri ini akan terang benderang oleh cahaya pengetahuan. Ingatlah, satu buku bukan sekadar kumpulan kertas bertinta. Ia adalah jendela ke masa depan, pintu menuju perubahan, dan kunci yang membuka ribuan mimpi.
Maka, mari kita terangi negeri dengan literasi. Mulailah hari ini, karena satu buku yang kita bagikan, bisa jadi adalah cahaya yang menuntun langkah generasi penerus menuju kejayaan bangsa.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









