LAMONGAN lintasjatimnews – Pekan pertama Idul Fitri, 1447 H. Lintas Jatim News menghadirkan tulisan ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PD Muhammadiyah Lamongan Kamis (23/4/2026).
Berikut tulisannya,
Idul Fitri bukan sekadar momentum ritual tahunan yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadan. Lebih dari itu, Idul Fitri adalah titik balik spiritual—sebuah fase reboot diri menuju kesucian, kejernihan hati, dan komitmen baru dalam menjalani kehidupan. Dalam konteks pendidikan, khususnya pendidikan Muhammadiyah, Idul Fitri menghadirkan refleksi mendalam: sejauh mana lembaga pendidikan mampu melahirkan insan yang tidak hanya bersih secara spiritual, tetapi juga unggul dan berkemajuan di tengah derasnya arus transformasi digital.
Di era digital yang serba cepat, pendidikan menghadapi tantangan sekaligus peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi telah mengubah cara belajar, cara berpikir, bahkan cara manusia memaknai kehidupan. Dalam lanskap ini, pendidikan Muhammadiyah dituntut tidak sekadar adaptif, tetapi juga transformatif—mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan kecanggihan teknologi secara seimbang dan berkelanjutan.
Spirit Idul Fitri: Kembali ke Fitrah, Melangkah ke Masa Depan
Makna “kembali ke fitrah” dalam Idul Fitri tidak berhenti pada dimensi personal, tetapi juga kolektif. Bagi dunia pendidikan, fitrah itu adalah kesadaran akan misi utama: memanusiakan manusia. Pendidikan Muhammadiyah sejak awal berdiri telah membawa semangat tajdid (pembaruan), yakni menghadirkan sistem pendidikan yang mencerahkan, membebaskan, dan memajukan.
Dalam konteks kekinian, fitrah pendidikan Muhammadiyah harus dimaknai sebagai komitmen untuk melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal. Generasi yang tidak gagap teknologi, tetapi juga tidak tercerabut dari akar nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.
Pendidikan Unggul Berkemajuan di Era Digital
Konsep “unggul berkemajuan” bukan jargon kosong. Ia adalah visi strategis yang harus diwujudkan dalam praksis pendidikan sehari-hari. Keunggulan dalam era digital tidak lagi hanya diukur dari capaian akademik semata, tetapi juga dari kemampuan literasi digital, kreativitas, kolaborasi, dan karakter.
Sekolah dan madrasah Muhammadiyah perlu menjadi center of excellence yang mengintegrasikan teknologi digital dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan platform pembelajaran daring, kecerdasan buatan, hingga analitik data pendidikan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren.
Namun, keunggulan Muhammadiyah terletak pada diferensiasinya: pendidikan berbasis nilai. Di tengah maraknya disrupsi digital yang seringkali menggerus etika dan moral, pendidikan Muhammadiyah harus tampil sebagai penjaga sekaligus penggerak peradaban. Teknologi tidak boleh menjadi tujuan, melainkan alat untuk mencapai kemaslahatan.
Tantangan: Antara Disrupsi dan Degradasi Nilai
Kemajuan teknologi membawa konsekuensi serius. Informasi yang melimpah tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Generasi muda menghadapi risiko overload informasi, krisis identitas, hingga degradasi moral akibat paparan konten negatif.
Di sinilah peran strategis pendidikan Muhammadiyah diuji. Tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan digital, tetapi juga membangun digital ethics—etika bermedia yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Pendidikan harus mampu menanamkan kesadaran bahwa setiap aktivitas digital adalah bagian dari pertanggungjawaban moral dan spiritual.
Momentum Idul Fitri: Transformasi Diri dan Lembaga
Idul Fitri menjadi momentum ideal untuk melakukan refleksi dan transformasi, baik pada level individu pendidik maupun kelembagaan. Guru tidak lagi hanya menjadi sumber pengetahuan, tetapi fasilitator, inspirator, dan pembimbing moral di era digital. Sementara itu, lembaga pendidikan harus berani melakukan inovasi kurikulum yang responsif terhadap perkembangan zaman.
Pendidikan Muhammadiyah perlu memperkuat ekosistem digital yang sehat—mulai dari infrastruktur, kapasitas SDM, hingga budaya belajar yang adaptif. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia industri dan teknologi, menjadi keniscayaan untuk memastikan lulusan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Meneguhkan Arah: Dari Spiritual ke Digital, dari Digital ke Peradaban
Idul Fitri mengajarkan bahwa kemenangan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri dan memperbaiki kualitas hidup. Dalam konteks pendidikan, kemenangan itu adalah keberhasilan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Pendidikan Muhammadiyah harus terus melangkah maju, menjembatani nilai-nilai transendental dengan realitas digital. Dari spiritualitas Ramadan menuju produktivitas pasca-Idul Fitri, dari pemanfaatan teknologi menuju pembangunan peradaban.
Akhirnya, pendidikan Muhammadiyah yang unggul berkemajuan adalah pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Idul Fitri bukan akhir, melainkan awal dari komitmen baru: membangun generasi berkemajuan yang berakar pada nilai, berdaya saing global, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Selamat Idul Fitri 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyaamana, washiyamikum.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik tolak untuk terus memajukan pendidikan Muhammadiyah di era digital yang penuh peluang dan tantangan. Wujudkan Pendidikan Muhammadiyah Unggul Berkemajuan
Kontributor/Penulis: M. Said









