LAMONGAN lintasjatimnews — Saat Ramadan memasuki fase akhir, yaitu 10 hari yang terakhir ada malam-malam yang diyakini sebagai waktu paling istimewa dalam setahun. Di antara malam-malam tersebut, terdapat satu malam yang sangat dinanti, yakni Lailatul Qadar—malam yang disebut lebih baik daripada seribu bulan.
Dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Qadr, Allah SWT menegaskan bahwa nilai ibadah pada malam Lailatul Qadar setara dengan lebih dari 83 tahun. Hal ini menjadikan malam tersebut sebagai momentum spiritual yang luar biasa bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Nabi Muhammad SAW pun menganjurkan umatnya untuk menjemput atau mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil. Namun, di balik pencarian itu, terdapat pesan yang lebih mendalam: bukan sekadar menemukan malamnya, melainkan bagaimana dampaknya terhadap perubahan diri setelah Ramadan berakhir.
Ketulusan Lebih Utama dari Panjangnya Doa
Di tengah semangat meraih keberkahan Lailatul Qadar, kisah-kisah sederhana justru memberikan pelajaran berharga. Seperti seorang lelaki tua yang setiap malam datang ke masjid, menengadahkan tangan dengan doa yang singkat namun penuh harap.
“Ya Allah, umur saya sudah tua, dosa saya banyak. Jika malam ini Lailatul Qadar, jangan biarkan saya pulang tanpa ampunan-Mu,” ucapnya lirih.
Doa tersebut mungkin sederhana, namun memancarkan ketulusan yang mendalam. Pesan moralnya jelas: keikhlasan hati jauh lebih penting daripada panjangnya rangkaian kata dalam doa.
Kisah lain datang dari seorang tukang becak di sebuah kota kecil. Dengan segala keterbatasannya, ia memohon kepada Allah agar menjadi pribadi yang lebih baik. Sejak malam itu, perubahan nyata terlihat dalam hidupnya—lebih rajin beribadah, lebih jujur, dan lebih sabar dalam menghadapi kehidupan.
“Dia memang tidak kaya harta, tapi hatinya kaya,” ujar warga sekitar menggambarkan perubahan tersebut.
Indikator Keberkahan: Perubahan Diri
Lailatul Qadar bukan sekadar malam penuh ibadah, melainkan titik balik kehidupan. Tanda seseorang meraih keberkahan malam tersebut bukan hanya diukur dari lamanya ibadah, tetapi dari perubahan sikap setelah Ramadan.
Mulai dari menjaga shalat, mengendalikan emosi, hingga meningkatnya kepedulian sosial—semua itu menjadi indikator nyata bahwa nilai-nilai Ramadan telah meresap dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, Lailatul Qadar sejatinya adalah momentum transformasi spiritual—malam yang mengubah hati manusia menjadi lebih baik.
Di penghujung Ramadan, umat Muslim diingatkan untuk tidak menyia-nyiakan malam-malam berharga ini. Ibadah seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta memperbanyak doa menjadi amalan yang dianjurkan.
Salah satu doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk dibaca saat mencari Lailatul Qadar adalah:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni,”
yang berarti: Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai memberi maaf, maka maafkanlah aku.
Momentum ini menjadi kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk memohon ampunan dan memperbaiki diri. Sebab, bisa jadi Ramadan tahun ini adalah kesempatan terakhir yang dimiliki.
Pada akhirnya, Lailatul Qadar bukan hanya tentang satu malam istimewa, tetapi tentang bagaimana malam itu mampu meninggalkan jejak perubahan dalam perjalanan hidup seseorang. Semoga umat Muslim dapat meraih keberkahan tersebut dan menjadikan Ramadan sebagai titik awal menuju pribadi yang lebih baik.
Penulis: M. Said









