Tanpa Guru, Kita Bukan Siapa-Siapa

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Tanpa guru, tidak akan ada profesi lain. Dokter, insinyur, hakim, pemimpin bangsa. Semuanya lahir dari sentuhan seorang guru.

Karena itu, pantaskah kita membiarkan guru hidup dalam kesulitan? Apakah wajar jasa yang membentuk masa depan bangsa dihargai dengan gaji yang tak layak?

Jika Indonesia sungguh ingin meraih cita-cita Indonesia Emas 2045, maka pendidikan harus menjadi prioritas utama. Dan pilar terpenting pendidikan adalah kesejahteraan guru. Tidak mungkin kita membangun generasi emas dengan mengabaikan para pengukir peradaban.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat derajat orang-orang berilmu sebagaimana firman-Nya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang berilmu. Dan guru adalah perantara ilmu itu sampai kepada umat.

Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya Allah, malaikat, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan ladang amal yang mulia. Namun, kemuliaan itu tidak seharusnya hanya menjadi simbol; ia mesti diwujudkan dalam kebijakan nyata yang menjamin kesejahteraan guru.

Begitu pula Ki Hajar Dewantara, menegaskan “Guru adalah teladan, pamong, dan penuntun dalam tumbuhnya budi pekerti anak-anak bangsa.” Pesan ini jelas, tanpa guru yang sejahtera, pendidikan bangsa akan rapuh.

Sejarah perjuangan bangsa juga menunjukkan betapa pendidikan dan guru memiliki peran penting. Mohammad Hatta pernah berkata: “Pendidikan adalah syarat mutlak untuk mempertahankan kemerdekaan.”

Artinya, guru adalah garda depan penjaga kemerdekaan melalui pencerdasan kehidupan bangsa, sesuai amanat UUD 1945.

Namun realitas hari ini, banyak guru swasta dan guru honorer dengan gaji yang tidak layak. Mereka mengajar dengan dedikasi tinggi, tetapi kesejahteraannya jauh dari cukup. Padahal, di pundak merekalah masa depan bangsa ini dititipkan.

Jika kita benar-benar ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, maka tidak ada jalan lain selain menempatkan pendidikan sebagai prioritas nasional dan kesejahteraan guru sebagai pilar utama. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati gurunya

Sebagaimana pepatah Arab mengatakan: “Barang siapa mengajarkan satu huruf kepadaku, maka ia telah menjadi guruku.”

Sudah saatnya negara tidak hanya menyebut guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, tetapi memberikan penghargaan nyata berupa kesejahteraan yang layak. Guru harus dipandang bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penggerak peradaban.

Mari kita renungkan: tanpa guru, kita bukan siapa-siapa. Dengan guru, bangsa ini bisa menjadi apa saja. Maka, jangan biarkan guru menjadi pahlawan yang justru terabaikan oleh negara.

Reporter Fathurrahim Syuhadi