LAMONGAN lintasjatimnews – Bayangkan sebuah negeri tanpa guru. Tidak ada yang mengajarkan membaca, menulis, menghitung. Tidak ada yang menanamkan budi pekerti, kedisiplinan, dan cinta tanah air.
Negeri itu akan gelap, tanpa cahaya ilmu. Karena itu, pepatah mengatakan: “Guru adalah pelita dalam kegelapan.”
Tanpa guru, tidak akan pernah ada profesi lain. Dokter, insinyur, pejabat, bahkan seorang presiden, semua lahir dari didikan guru.
Pertanyaan mendasar lalu muncul: pantaskah kita membiarkan guru hidup dalam kesulitan? Apakah wajar jasa yang membentuk masa depan bangsa dihargai dengan gaji yang tidak layak?
Al-Qur’an menegaskan: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat ini menegaskan posisi mulia orang berilmu, dan guru adalah jembatan utama lahirnya generasi berilmu.
Rasulullah Saw pun bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Namun, realitas kita sering menyakitkan. Masih banyak guru yang berjuang dalam kesulitan, gaji kecil, fasilitas minim, dan penghargaan yang rendah. Pertanyaannya: apakah pantas pahlawan masa depan bangsa hidup seperti itu?
Bung Karno pun menegaskan, “Bangsa ini tidak akan besar jika tidak menghormati jasa guru.” Kini, Prof. Abdul Mu’ti menambahkan, “Kesejahteraan guru adalah prasyarat mutlak untuk pendidikan yang bermutu.”
Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, maka pendidikan harus menjadi prioritas utama. Dan pilar terkuatnya adalah kesejahteraan guru.
Bagaimana mungkin generasi unggul lahir bila gurunya sendiri masih dihantui rasa was-was untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari?
Menghormati guru bukan sekadar dengan ucapan terima kasih, tetapi dengan kebijakan nyata: gaji yang layak, perlindungan profesi, dan penghargaan atas dedikasi. Bila guru sejahtera, mereka bisa fokus mendidik. Bila guru dihargai, mereka akan mendidik dengan sepenuh hati.
Mari renungkan: tanpa guru, masa depan bangsa akan redup. Tetapi dengan guru yang dimuliakan, cahaya Indonesia Emas 2045 akan benar-benar bersinar terang.
Indonesia Emas 2045 yang sering didengungkan hanya akan menjadi mimpi kosong bila pilar utama pendidikan rapuh. Maka sudah saatnya negara menaruh perhatian serius pada kesejahteraan guru, bukan sekadar menjadikan mereka simbol “pahlawan tanpa tanda jasa.”
Kita membutuhkan kebijakan nyata : gaji layak, pelatihan berkualitas, serta perlindungan profesi.
Jika ingin masa depan bangsa gemilang, muliakanlah guru hari ini. Sebab di tangan merekalah lahir generasi penerus yang berakhlak, cerdas, dan berdaya saing.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









