80 Tahun Merdeka, Apakah Benar-Benar Kita Sudah Merdeka?

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Delapan puluh tahun sudah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan ini diperjuangkan dengan darah, air mata, dan pengorbanan jiwa oleh para pahlawan.

Namun, di usia yang matang ini, kita patut bertanya: Apakah kita benar-benar telah merdeka?

Kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga dari penjajahan mental, moral, dan ekonomi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka…” (QS. Hud: 113)

Ayat ini memberi pesan agar kita tidak kembali terikat oleh kekuatan yang menindas, meski bentuknya berbeda dari masa lalu. Penjajahan modern dapat hadir dalam wujud kemiskinan, kebodohan, korupsi, ketergantungan pada pihak asing, bahkan lemahnya moral bangsa.

Rasulullah Saw bersabda “Tidaklah seorang hamba menjadi benar-benar merdeka hingga ia bebas dari hawa nafsunya (HR. Ibnu Hibban)

Hadis ini menegaskan bahwa kemerdekaan hakiki dimulai dari dalam diri yakni kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu, menahan diri dari perbuatan zalim, dan menjunjung nilai kebenaran.

Jika kita jujur, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kemerdekaan ekonomi belum sepenuhnya kita raih ketika sebagian besar kekayaan alam dikelola oleh pihak asing.

Kemerdekaan moral pun belum utuh ketika perilaku korupsi, hoaks, dan perpecahan masih merajalela. Kemerdekaan sosial masih jauh dari sempurna jika masih ada kesenjangan antara kaya dan miskin yang kian menganga.

KH. Hasyim Asy’ari pernah mengingatkan, “Kemerdekaan adalah jembatan emas untuk membangun kemuliaan bangsa. Tetapi ia akan runtuh jika tidak diisi dengan iman, ilmu, dan persatuan.”

Pesan ini relevan hingga kini bahwa kemerdekaan hanyalah awal, dan pengisian kemerdekaan adalah pekerjaan yang tiada henti.

Sementara itu Proklamator Ir. Soekarno pernah mengatakan “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Pesan ini mengingatkan bahwa setelah merdeka, tantangan terbesar adalah melawan kebodohan, kemiskinan, dan kebejatan moral di dalam negeri sendiri.

Kemerdekaan yang telah diwariskan oleh para pejuang adalah amanah. Amanah ini menuntut kita untuk menjaga persatuan, membangun kemandirian ekonomi, meningkatkan mutu pendidikan, serta menegakkan hukum dan keadilan.

Sebab, sebuah bangsa yang merdeka secara fisik tetapi terjajah pikirannya, sejatinya belumlah merdeka.

Peringatan 80 tahun kemerdekaan harus menjadi momen refleksi nasional. Mari kita bertanya pada diri sendiri: apakah perilaku kita selama ini memajukan atau justru merusak cita-cita kemerdekaan?

Apakah kita sudah menjadi bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur seperti yang diimpikan para pendiri negeri?

Allah Swt berfirman “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11)

Artinya, kemerdekaan sejati hanya dapat tercapai jika setiap individu memperbaiki diri dan berkontribusi positif bagi bangsa. Mari kita isi kemerdekaan dengan kerja nyata, kejujuran, persatuan, dan keberanian menegakkan kebenaran.

Semoga di usia 80 tahun ini, Indonesia semakin mendekati makna kemerdekaan yang hakiki yakni merdeka lahir dan batin, di dunia dan di akhirat. Merdeka!

Reporter Fathurrahim Syuhadi