LAMONGAN lintasjatimnews.com – Ramadhan momentum transformasi diri. Hal ini disampaikan KH Ahmad Hasan Al Banna SHI MIRKH Dosen STIT Muhammadiyah Paciran, Rabu (20/3/2024)
Kiai Ahmad Hasan Al Banna mengawali dengan mengajak merenungkan beberapa hal yang dapat membantu meraih transformasi diri yang diidamkan selama bulan suci Ramadhan.
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwarah Brondong ini, untuk menyambut momentum transformasi diri pada bulan Ramadhan 1445 Hijriyah ada beberapa hal yang harus dilakukan.
Pertama, Introspeksi Diri. Gunakan waktu Ramadhan ini untuk merenungkan perjalanan spiritual dan moral kita. Evaluasi kelemahan dan kelebihan, serta temukan cara untuk meningkatkan kualitas diri kita.
Kedua, Perkuat Ibadah. Tingkatkan kualitas ibadah kita, baik dalam shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an dan amalan-amalan lainnya. Jadikan Ramadhan sebagai peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt
Ketiga, Berbuat Baik. Manfaatkan kesempatan ini untuk melakukan lebih banyak kebaikan kepada sesama. Sumbangkan sedekah, bantu mereka yang membutuhkan, dan luangkan waktu untuk berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan.
Keempat, Mengendalikan Diri. Gunakan Ramadhan sebagai pelatihan untuk mengendalikan hawa nafsu dan kebiasaan buruk. Praktikkan kesabaran, kejujuran dan sikap positif dalam setiap tindakan kita.
Kelima, Renungan Al-Qur’an. Luangkan waktu setiap hari untuk membaca, memahami dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an. Setiap ayat memiliki hikmah dan petunjuk bagi kita dalam menjalani kehidupan.
Lanjutnya, dengan mengambil momentum bulan Ramadhan, mari kita bersama-sama berkomitmen untuk menjalani transformasi diri yang lebih baik.
“Semoga Allah Swt memberkahi usaha kita dan menjadikan kita hamba yang lebih bertaqwa dan bermanfaat bagi sesama,” ujar alumni Ponpes Darussalam Gontor ini.
Dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 183 disebutkan :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Dijelaskan alumni International Islamic University Malaysia (IIUM) ini, mengingatkan bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Tetapi juga sebagai sarana untuk mencapai takwa yang merupakan tujuan utama dari ibadah puasa.
“Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi tantangan dan godaan yang dapat menghalangi proses transformasi diri selama bulan Ramadhan,” ujar putra Kiai Afnan Anshori perintis ponpes Al Munawwarah Brondong ini.
Kandidat Doktor UIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Studi Islam ini memberikan beberapa contoh realita yang bisa menjadi titik tolak untuk kajian Ramadhan, diantarannya :
Pertama, Tantangan
Kesabaran. Dalam menjalani ibadah puasa, kita sering dihadapkan pada situasi-situasi yang menguji kesabaran, seperti kemacetan lalu lintas, ketidaknyamanan akibat cuaca panas, atau konflik dengan orang lain. Namun, Ramadhan memberikan kesempatan untuk melatih kesabaran dan mengendalikan emosi dalam menghadapi situasi-situasi tersebut.
Kedua, Tantangan Nafsu.
Selama bulan Ramadhan, kita dituntut untuk menahan diri dari makan dan minum sepanjang hari. Hal ini bisa menjadi ujian bagi nafsu dan kebiasaan buruk, seperti kebiasaan makan berlebihan atau merokok. Namun, dengan kesadaran akan tujuan puasa dan keinginan untuk mendapatkan ridha Allah Swt kita dapat mengatasi godaan-godaan tersebut dan memperbaiki kebiasaan.
Ketiga, Tantangan Waktu.
Dalam kehidupan modern yang sibuk, seringkali sulit untuk menemukan waktu untuk beribadah dan merenungkan diri. Namun, bulan Ramadhan memberikan kesempatan yang unik untuk memprioritaskan ibadah dan refleksi diri.
Dengan menyusun jadwal yang baik dan mengatur waktu dengan bijaksana, kita dapat memanfaatkan setiap momen dalam Ramadhan untuk melakukan transformasi diri.
Keempat, Tantangan Hubungan Sosial.
Selama bulan Ramadhan, kita juga dihadapkan pada tantangan dalam menjaga hubungan sosial dengan keluarga, teman dan masyarakat sekitar. Misalnya, kita mungkin harus menahan diri dari berbicara kasar atau bersikap tidak sabar dalam menghadapi konflik dengan orang lain.
Namun, jelas anggota Majelis Tarjih PWM Jawa Timur ini Ramadhan juga merupakan waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan yang rusak dan mempererat ikatan kebersamaan terhadap sesama.
Dengan menyadari realita dan mengambil langkah konkret untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
“Kita dapat menjalani Ramadhan sebagai momentum nyata untuk melakukan transformasi diri yang lebih baik,” pungkas Ahmad Hasan Al Banna yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan
Reporter Fathurrahim Syuhadi









