RIAU lintasjatimnews – Kesibukan mengejar kesuksesan dunia sering kali membuat manusia lupa mensyukuri nikmat yang telah dimiliki. Jabatan, kekayaan, dan penghormatan menjadi sesuatu yang dikejar, sementara amanah, ketenangan hati, dan perhatian kepada keluarga terkadang terabaikan.
Pesan tersebut disampaikan Dr. (c) Rizki Abdullah, Lc., M.Pd., pendidik, pendakwah, dan akademisi, dalam refleksi bertajuk pentingnya menghargai waktu, mensyukuri kehidupan, serta berbakti kepada orang tua.
Menurutnya, manusia sering kali baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah orang tersebut tidak lagi berada di sisinya. Suara orang tua baru dirindukan ketika mereka telah tiada. Pengorbanan seorang ibu baru benar-benar dipahami ketika rambutnya memutih dan tubuhnya semakin melemah.
“Jangan menunggu kehilangan untuk memahami arti kehadiran. Jangan menunggu tua untuk memikirkan bekal akhirat. Dan jangan menunggu kematian orang yang kita cintai untuk menyadari betapa berharganya waktu bersama mereka,” pesan lulusan Universitas Jami’atul Imam Muhammad Su’ud,
Ia menjelaskan, kehidupan tidak pernah menjanjikan bahwa semua orang yang kita cintai akan selalu bersama. Ada kesempatan yang hanya datang sekali, waktu yang tidak dapat diputar kembali, dan perpisahan yang tidak pernah diketahui kapan akan terjadi.
Karena itu, manusia tidak seharusnya menunda berbuat baik, meminta maaf, mengunjungi orang tua, ataupun memperbaiki diri. Sebab, tidak seorang pun mengetahui apakah masih memiliki kesempatan untuk menjumpai hari esok.
Allah Swt berfirman “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan seorang mukmin merupakan perjalanan pengabdian kepada Allah yang harus dijalani hingga akhir hayat.
Merawat Orang Tua, Bukti Cinta dan Ketaatan
Rizki Abdullah menyoroti pentingnya bakti kepada orang tua, terutama ketika mereka memasuki usia senja. Menurutnya, anak-anak perlu memahami bahwa dahulu orang tua merawat, menggendong, dan mengorbankan banyak hal demi kebahagiaan anak-anaknya.
Kini, ketika waktu telah mengubah keadaan, giliran anak-anak yang menunjukkan kasih sayang melalui perhatian dan pengabdian.
Merawat orang tua bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt. Pengabdian itu tidak selalu harus diwujudkan dengan materi.
Terkadang, duduk di samping mereka, menggenggam tangan, mendengarkan keluhan, atau memastikan mereka tidak merasa sendirian memiliki makna yang sangat mendalam.
“Orang tua tidak selamanya membutuhkan jawaban atas segala persoalan mereka. Terkadang, mereka hanya membutuhkan kehadiran anak yang dicintainya,” ungkap
Sebagai pendidik, Rizki juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari tingginya gelar akademik, banyaknya pengetahuan, ataupun besarnya penghasilan.
Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang semakin mengenal Allah, semakin baik akhlaknya, semakin luas manfaatnya, dan semakin besar tanggung jawabnya.
Ia mempertanyakan makna ilmu yang tinggi apabila seseorang kehilangan kerendahan hati. Begitu pula gelar akademik yang panjang tidak akan memiliki makna utuh apabila pemiliknya tidak mampu menghormati orang tua.
Menurutnya, ilmu yang benar semestinya menuntun manusia kepada kebenaran, bukan sekadar kemenangan dalam perdebatan. Ilmu juga seharusnya menjadikan seseorang semakin takut kepada Allah, bukan semakin sibuk mencari pengakuan manusia.
Oleh sebab itu, pendidikan keluarga, agama, dan karakter harus berjalan beriringan. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi cerdas, tetapi juga generasi yang jujur, amanah, santun, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Jangan Biarkan Dunia Menghabiskan Waktu
Dalam kehidupan modern, media sosial sering menjadi ruang untuk menampilkan pencapaian, kekayaan, perjalanan, dan kebahagiaan. Namun, apa yang terlihat di hadapan manusia belum tentu menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.
Ada orang yang tampak bahagia, tetapi sedang menghadapi persoalan. Ada yang berkecukupan, tetapi kehilangan ketenangan. Sebaliknya, ada orang yang tidak dikenal banyak manusia, tetapi hidupnya penuh keberkahan karena keikhlasan dan kebaikan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat agar tidak terlalu sibuk membandingkan kehidupan dengan orang lain.
Setiap manusia memiliki ujian, tanggung jawab, dan perjalanan masing-masing. Hal terpenting bukan seberapa jauh seseorang melampaui orang lain, melainkan seberapa baik ia menjalankan amanah yang diberikan Allah Swt.
“Gunakan media sosial dengan bijak. Gunakan ilmu untuk memberikan manfaat. Gunakan jabatan untuk melayani. Gunakan harta untuk menolong. Dan gunakan waktu untuk memperbanyak amal saleh,” pesannya.
Memperbaiki Diri Sebelum Waktu Berpamitan
Menutup refleksinya, Rizki mengajak setiap orang memanfaatkan kesempatan hidup untuk melakukan kebaikan. Memperbaiki hubungan dengan Allah, berbakti kepada orang tua, menjaga keluarga, menuntut ilmu, membantu sesama, dan meninggalkan kebiasaan buruk.
Menurutnya, manusia mungkin tidak mampu mengubah seluruh dunia. Namun, setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan memberikan kebaikan kepada lingkungan terdekat.
Pada akhirnya, kehidupan bukan sekadar tentang apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang amanah yang ditunaikan, hati yang dijaga, manusia yang dibahagiakan, serta amal saleh yang dipersiapkan untuk kehidupan setelah kematian.
“Semoga Allah memberikan keberkahan pada umur kita, melembutkan hati kita, menjaga keluarga kita, mengampuni dosa kedua orang tua kita, serta menjadikan sisa kehidupan kita lebih baik daripada masa lalu kita,” pungkasnya.
Reporter: Fathurrahim Syuhadi









