SURABAYA lintasjatimnews – Di antara 310 wisudawan dan wisudawati yang mengikuti Wisuda ke-49 Universitas Sunan Giri Surabaya (UNSURI), di Dyandra Convention Center Surabaya, sosok Ns. Yatno, S.Kep., M.H. memiliki kisah perjuangan tersendiri. Bukan semata-mata karena toga hitam Magister Hukum yang dikenakannya, melainkan karena perjalanan panjang dan penuh ujian untuk meraih gelar akademik tersebut.
Perjalanan akademik Yatno bukanlah perjalanan biasa. Di tengah kesibukannya menjalani profesi sebagai tenaga kesehatan yang identik dengan seragam putih dan pelayanan kepada pasien, ia menyimpan cita-cita untuk mendalami ilmu hukum. Baginya, pemahaman hukum menjadi kebutuhan penting, terutama dalam menghadapi berbagai persoalan hukum yang berkaitan dengan dunia kesehatan.
Namun, perjuangannya tidak selalu berjalan mulus. Ujian berat justru datang ketika memasuki Semester 3 Program Magister Hukum UNSURI Surabaya.
Seusai menunaikan salat Zuhur berjamaah, kedua kakinya tiba-tiba terasa berat untuk digerakkan. Kondisi tersebut membuatnya harus segera mendapatkan pemeriksaan medis di rumah sakit. Hasil CT Scan menunjukkan adanya sumbatan pembuluh darah di otak. Ia pun harus menghadapi kenyataan mengalami stroke.
Peristiwa itu menjadi titik ujian dalam perjalanan hidup sekaligus pendidikannya. Kondisi kesehatan yang menurun dan proses pemulihan pascastroke membuat aktivitas sehari-hari tidak lagi mudah. Kuliah yang sebelumnya dijalani dengan penuh semangat kini harus dilanjutkan di tengah keterbatasan fisik.
Pernah terlintas dalam pikirannya apakah mampu menyelesaikan pendidikan hingga memperoleh gelar Magister Hukum. Akan tetapi, niat awal yang kuat untuk menuntut ilmu membuatnya tidak menyerah.
“Saya sempat berpikir apakah saya bisa menyelesaikan kuliah ini. Tetapi saya ingat niat awal saya kuliah hukum. Saya ingin belajar hukum karena banyak tenaga kesehatan yang berurusan dengan persoalan hukum ketika menjalankan tugasnya. Begitu juga saya ingin memastikan hak-hak pasien terlindungi. Dari situ saya kuatkan lagi langkah, pelan-pelan,” ujar Yatno seusai prosesi wisuda.
Dengan tekad dan kesabaran, ia terus berusaha menyelesaikan studinya. Dukungan dan bimbingan Dekan Fakultas Hukum dan Sosial UNSURI, Dr. Rommy Hardyansah, M.H., CTL., CRA, serta seluruh civitas akademika yang memberikan perhatian dan dukungan menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikannya.
Yatno mengaku sangat bersyukur atas lingkungan akademik UNSURI yang memberikan toleransi, perhatian, dan dukungan selama dirinya menjalani ujian kesehatan tersebut. Baginya, dukungan itu bukan sekadar bantuan dalam menyelesaikan perkuliahan, tetapi juga menjadi kekuatan moral untuk terus melangkah.
“Saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada segenap civitas akademika UNSURI yang telah begitu toleran dan mendukung saya. Di tengah ujian dari Allah Swt yang saya jalani, mereka memberikan semangat dan kesempatan sehingga saya bisa mengikuti wisuda tahun ini,” ungkap Wakil Ketua PDM Lamongan ini.
Kini, toga dan gelar Magister Hukum yang disandangnya menjadi simbol keberhasilan melewati ujian kehidupan. Lebih dari sekadar pencapaian akademik, gelar tersebut membawa tanggung jawab untuk mengabdikan ilmu bagi masyarakat.
Yatno berharap ilmu hukum yang diperolehnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat advokasi hukum kesehatan, meningkatkan pemahaman tentang etika keperawatan, serta memberikan perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan maupun pasien, khususnya di Lamongan dan Jawa Timur.
Menurutnya, tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi profesional dalam memberikan pelayanan medis, tetapi juga perlu memahami aspek hukum yang mengatur profesinya. Di sisi lain, pasien harus mendapatkan perlindungan dan pemenuhan hak-haknya dalam setiap pelayanan kesehatan.
Kisah Yatno menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang kecerdasan dan kemampuan akademik. Pendidikan juga membutuhkan keteguhan hati, kesabaran, dan keberanian untuk bangkit ketika menghadapi kesulitan.
Wisuda ke-49 UNSURI Surabaya yang diikuti 310 wisudawan dan wisudawati Program Magister dan Sarjana Tahun Akademik 2025/2026 di Dyandra Convention Center Surabaya menjadi momentum berharga bagi Yatno.
Di antara ratusan toga yang dikenakan para wisudawan, toga Yatno menyimpan pesan mendalam: keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti bermimpi, dan ujian kehidupan bukan akhir dari perjuangan.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









