LAMONGAN lintasjatimnews – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum bagi kalangan santri untuk memperkuat karakter, meningkatkan penguasaan teknologi digital, dan memperluas kontribusi bagi masyarakat. Santri tidak cukup hanya menjaga tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga perlu mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai akhlak mulia.
Hal itu disampaikan Dr. Hj. Nurotun Mumtahanah, S.Ag., M.Pd.I., dalam refleksinya menyambut Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober. Menurutnya, perkembangan internet, media sosial, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi generasi santri.
Melalui tema “Santri di Era Digital: Merawat Akhlak, Menguasai Teknologi, Menebar Manfaat”, ia mengajak santri menjadikan kemajuan teknologi sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan, dakwah, kreativitas, dan pengabdian kepada masyarakat.
Merawat Akhlak di Tengah Arus Digital
Nurotun Mumtahanah menegaskan, akhlak merupakan salah satu fondasi utama pendidikan pesantren. Nilai kejujuran, kesederhanaan, kedisiplinan, serta penghormatan kepada guru harus tetap melekat dalam diri santri, termasuk ketika beraktivitas di ruang digital.
Di tengah maraknya berita bohong, ujaran kebencian, dan perdebatan di media sosial, santri memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan komunikasi yang santun, menyejukkan, dan mencerahkan.
Prinsip tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya perlu menjadi kebiasaan. Dengan begitu, santri tidak mudah terprovokasi dan dapat ikut membangun ruang digital yang sehat, damai, serta beretika.
Menurutnya, kecakapan digital tidak hanya diukur dari kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga dari kebijaksanaan dalam memanfaatkannya.
“Santri harus mampu menjaga akhlak, baik ketika berinteraksi secara langsung maupun di dunia digital. Ilmu dan teknologi perlu diiringi tanggung jawab moral agar kehadirannya membawa kebaikan,” menjadi pesan utama refleksi tersebut.
Menguasai Teknologi, Menjawab Tantangan Zaman
Ia juga mengingatkan bahwa menjaga tradisi pesantren tidak berarti menutup diri terhadap kemajuan. Sebaliknya, santri perlu terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan identitas serta nilai-nilai keislaman.
Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses belajar, mengembangkan kreativitas, meningkatkan keterampilan, dan memperkaya wawasan. Begitu pula kecerdasan buatan yang dapat membantu memahami materi pembelajaran dan mengembangkan gagasan.
Namun, pemanfaatan AI harus dilakukan secara kritis, jujur, dan bertanggung jawab. Santri tetap perlu mengutamakan proses berpikir, memeriksa kebenaran informasi, serta menghindari ketergantungan yang dapat melemahkan kemampuan belajar mandiri.
Perpaduan ilmu agama, pengetahuan umum, dan keterampilan digital diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang mandiri, inovatif, serta siap menghadapi perubahan zaman.
Menebar Manfaat untuk Masyarakat
Lebih lanjut, Nurotun Mumtahanah menekankan bahwa penguasaan teknologi hendaknya tidak berhenti pada kepentingan pribadi. Santri perlu menjadikan kemampuan digital sebagai sarana pengabdian dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui media digital, santri dapat menyebarkan dakwah yang damai, menghasilkan konten edukatif, memperkenalkan budaya pesantren, mempromosikan usaha masyarakat, hingga mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan.
Semangat perjuangan yang diwariskan para pendahulu juga perlu diteruskan melalui bentuk pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Jika dahulu santri berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan dan pengembangan pendidikan, kini mereka dapat mengambil peran melalui literasi digital, inovasi, kewirausahaan, dan penyebaran informasi yang bermanfaat.
Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta karya yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Santri yang Relevan dengan Zaman
Menurut Nurotun Mumtahanah, Hari Santri Nasional 2026 bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen santri dalam menjaga nilai-nilai pesantren sekaligus menjawab tantangan masa depan.
Santri masa kini diharapkan memiliki keteguhan akhlak, keluasan wawasan, dan keterampilan memanfaatkan teknologi. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar kemajuan digital tidak menghilangkan karakter, etika, dan kepedulian sosial.
Pada akhirnya, teknologi akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila digunakan dengan ilmu, akhlak, dan tujuan yang mulia.
“Jadikan Hari Santri Nasional sebagai momentum untuk terus belajar, berinovasi, dan mengabdi. Dengan akhlak sebagai landasan, ilmu sebagai pedoman, dan teknologi sebagai sarana, santri dapat menjadi pelopor kebaikan bagi agama, bangsa, dan sesama,” demikian pesan refleksi tersebut.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 diharapkan semakin memperkuat peran santri dalam mewujudkan masyarakat yang berilmu, berkarakter, dan berkemajuan.
Selamat Hari Santri Nasional 2026. Merawat akhlak, menguasai teknologi, menebar manfaat.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








