Murni Novida Wardany, SPd :Refleksi Pendidikan, Lebih dari Sekadar Ijazah

Listen to this article

BATU lintasjatimnews – Pendidikan tidak semata-mata diukur dari selembar ijazah atau tinggi rendahnya jenjang sekolah yang ditempuh. Hal ini ditegaskan oleh Murni Novida Wardany, S.Pd., Wakil Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur.

Menurutnya, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Artinya, pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses pembelajaran yang menjadikan seseorang lebih tahu, lebih paham, dan lebih mampu dalam menjalani kehidupan.

“Pendidikan itu lebih ditekankan pada proses, bukan semata hasil akhir. Yang terpenting adalah bagaimana perubahan sikap seseorang, apakah menjadi lebih baik, tetap, atau justru lebih buruk,” ujar perempuan kelahiran Surabaya 44 tahun silam.

Ia juga mengutip pemikiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara, yang menyebut bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Lebih jauh, Murni menjelaskan bahwa proses pendidikan sejatinya telah dimulai sejak manusia masih dalam kandungan. Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, pada usia kandungan sekitar empat bulan, malaikat diperintahkan untuk meniupkan ruh sekaligus menetapkan takdir manusia. Pada fase ini, janin mulai belajar mengenali dan beradaptasi dengan lingkungannya.

“Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak terbatas di ruang kelas. Ia sudah dimulai sejak dalam kandungan dan berlangsung sepanjang hayat,” tambah ibu dari Mahija, Maharshi dan Maliqa.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung secara formal di sekolah, tetapi juga melalui jalur nonformal seperti kursus, pelatihan, pengajian, serta kegiatan organisasi. Bahkan, pengalaman hidup sehari-hari juga merupakan bagian dari proses pendidikan.

Dalam lingkup keluarga, pendidikan informal memegang peranan yang sangat penting. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua dan lingkungan terdekatnya. Oleh karena itu, keteladanan menjadi kunci utama dalam membentuk karakter anak.

“Memberikan contoh jauh lebih efektif daripada sekadar menggurui. Pendidikan itu menuntun, bukan memaksa,” tegas perempuan yang pernah menjadi guru selama sepuluh tahun di SMPM 08 Batu.

Ia juga menyoroti fenomena di masyarakat, di mana sebagian anak kurang termotivasi menempuh pendidikan formal karena melihat realita bahwa tidak semua lulusan pendidikan tinggi berhasil dalam kehidupan. Di sinilah peran orang tua dan guru sangat penting untuk memberikan pemahaman yang utuh bahwa pendidikan tetap memiliki nilai penting dalam membentuk masa depan.

Menariknya, guru SMP Negeri 03 Batu ini juga mengingatkan bahwa seseorang tidak bisa dinilai berpendidikan hanya dari latar belakang formalnya. Banyak individu yang hanya menempuh pendidikan dasar, namun memiliki sikap, cara pandang, dan tutur kata yang mencerminkan pribadi yang berpendidikan.

“Pendidikan sejatinya tercermin dari akhlak, cara berpikir, dan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari,” kata vonder TBM AdikMu ini.

Perempuan yang aktif mengikuti komunitas penulisan ini, mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali makna pendidikan yang sesungguhnya.

“Maka, sudah berpendidikankah kita?” pungkasnya.

Reporter Fathurrahim Syuhadi