GRESIK lintasjatimnews – Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) yang tergabung dalam program Belajar Bersama Komunitas (BBK) 6 Literasi menghadirkan gebrakan baru dalam upaya mengedukasi masyarakat terkait pengelolaan sampah rumah tangga. Bertempat di Perpustakaan Desa Pantenan Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik yang di kelola oleh ibu Irma seorang ibu rumah tangga yang terus berkiprah dengan tekad ingin mencerdaskan penerus bangsa.
Tim mahasiswa ini memperkenalkan cara kreatif mendaur ulang popok bekas menjadi media tanam, Selasa (08/08/25).
Pada mulanya mahasiswa Unair yang sedang melakukan BBK sharing dengan Slamet Effendi S.E,S.H.,M.M.,C.P.M,
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tuban membahas limbah popok sekali pakai (Pampers) dengan ide beliaulah kemudian, mahasiswa Unair mengambangkan nya dan di praktekkan bersama masyarakat untuk peduli lingkungan melalui Program bertajuk “Sosialisasi Limbah Popok Bayi Menjadi Media Tanam” ini memiliki penanggung jawab yaitu oleh Anggi Okta Arisma serta Nabila Nurdin dan diikuti oleh wali murid serta anak anak dari TK Aisyiyah Pantenan Panceng Gresik
“Popok sekali pakai itu sulit terurai. Kami ingin mengubah sesuatu yang dianggap sampah menjadi sumber manfaat,” ujar Anggi.
Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai dampak limbah popok dan potensi gel SAP (Super Absorbent Polymer) di dalamnya yang dapat menyimpan air dalam jangka panjang. Edukasi berlangsung secara interaktif, dibantu perangkat LCD dan visual sederhana agar mudah dipahami.

Bagian paling menarik adalah praktik langsung membuat media tanam dari popok bekas. Ibu-ibu peserta, dengan semangat, mencuci popok yang telah dipakai (hanya terkena urin), lalu mengeringkannya dan mengambil gel SAP dari dalamnya. Gel ini kemudian dimasukkan ke dalam wadah bekas seperti gelas plastik, ditambah sedikit tanah dan ditanami bibit tanaman.
Billy, salah satu anggota tim BBK 6, menjelaskan bahwa penggunaan gel dari popok membantu tanaman tetap lembap meski disiram hanya sekali dalam beberapa hari. “Ini cocok banget buat ibu-ibu yang sibuk tapi tetap ingin berkebun,” tambahnya.
Nabila dan Fidela, yang mendampingi anak-anak selama kegiatan, mengungkapkan bahwa pendekatan langsung ke ibu dan anak dalam satu forum seperti ini sangat efektif dalam membangun kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Beberapa peserta bahkan menyatakan niat untuk mencoba kembali metode tanam ini di rumah. “Biasanya popok langsung dibuang. Sekarang malah bisa buat tanam bayam. Besok saya mau coba lagi,” ucap salah satu wali murid.
Program ini menandai langkah awal perubahan persepsi warga Desa Pantenan terhadap limbah rumah tangga. Berkat dedikasi BBK 6 Literasi UNAIR, semangat inovasi hijau kini mulai tumbuh dari rumah-rumah sederhana di Desa Pantenan ini.
Billy, salah satu anggota tim BBK 6, menjelaskan bahwa penggunaan gel dari popok membantu tanaman tetap lembap meski disiram hanya sekali dalam beberapa hari. “Ini cocok banget buat ibu-ibu yang sibuk tapi tetap ingin berkebun,” tambahnya.
Nabila dan Fidela, yang mendampingi anak-anak selama kegiatan, mengungkapkan bahwa pendekatan langsung ke ibu dan anak dalam satu forum seperti ini sangat efektif dalam membangun kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Tak hanya praktek menanam, kegiatan juga diisi dengan sesi ice breaking berupa pembuatan ecoprint dari daun-daunan kering yang mereka temukan di sekitar perpustakaan.
Reporter: Sri k








