LAMONGAN lintasjatimnews – Bagaimana cara mengajarkan nilai nasionalisme dan spiritualitas kepada anak-anak usia sekolah dasar tanpa kesan menggurui? Jawabannya terlihat jelas dalam peringatan Hari Santri Nasional yang digelar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 09 Labuhan (MI MULA), Kamis (22/10/2026).
Di bawah sinar matahari pagi, seluruh siswa-siswi dari kelas 1 hingga kelas 6 berdiri tertib dalam barisan bersama para guru. Halaman madrasah yang biasanya ramai oleh gelak tawa anak-anak, mendadak senyap dalam suasana yang sarat makna dan kekhidmatan.
Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober bukan sekadar ritual tahunan. Momen bersejarah ini adalah pengingat penting bagi bangsa Indonesia tentang perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan.
melalui momen ini, Kepala MIM 09 Labuhan, Ma’in, S.HI, membagikan pembelajaran karakter yang sangat berharga bagi masa depan para murid.
Mendidik Karakter Lewat Empat Pilar Utama
Dalam amanatnya sebagai pembina apel, Ma’in menekankan bahwa menjadi santri di era modern bukan berarti hanya belajar agama di dalam kelas, melainkan menerapkannya dalam tindakan nyata sehari-hari. Beliau merumuskan empat pilar karakter yang perlu ditanamkan sejak dini:
Pertama, Keseimbangan Antara Otak dan Hati (Kecerdasan & Akhlak)
Di tengah kejaran nilai akademik, anak-anak diingatkan untuk tidak melupakan fondasi spiritual dan etika.
“Anak-anakku, marilah kita membiasakan diri melaksanakan salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta menghormati orang tua dan guru. Jangan hanya menjadi anak yang pintar, tetapi jadilah anak yang memiliki akhlak yang baik,” tutur Ma’in.
Kedua, Etos Kerja dan Ketahanan Diri
Meneladani keuletan para santri terdahulu, para murid diajak untuk memiliki mental pantang menyerah. Belajar dengan jujur dan tidak gampang putus asa saat menemui kesulitan adalah kunci sukses meraih masa depan, baik sebagai dokter, guru, ulama, maupun pemimpin.
Ketiga, Empati dan Anti-Perundungan
Edukasi sosial menjadi sorotan penting. Kepala Madrasah mengingatkan bahwa keberhasilan diri tidak boleh membuat seseorang merasa superior.
“Anak yang baik adalah anak yang sopan, suka menolong, tidak mengejek teman, dan mau meminta maaf jika salah. Jika ada teman yang belum bisa, bantulah, bukan direndahkan.”
Keempat, Nasionalisme Praktis
Mencintai Indonesia tidak harus menunggu dewasa. Anak-anak diajarkan bahwa menaati aturan sekolah, menjaga kebersihan madrasah, dan menghargai perbedaan antar-teman adalah wujud nyata dari rasa cinta tanah air.
Pesan Inspiratif: Tidak Ada yang Terlalu Kecil untuk Bermanfaat
Salah satu poin paling menyentuh yang disampaikan dalam apel tersebut adalah ketika Ma’in mematahkan stereotip bahwa anak kecil belum bisa berkontribusi.
“Jangan pernah berpikir kalian masih kecil sehingga belum bisa memberikan manfaat bagi bangsa. Ketika kalian menjadi anak yang saleh dan salehah, rajin belajar, jujur, serta disiplin, kalian sudah membuat orang tua dan guru bangga—dan itu adalah bentuk manfaat nyata bagi negeri ini,” tegasnya.
Melalui kegiatan sederhana namun sarat makna ini, MIM 09 Labuhan berhasil menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu membutuhkan teori rumit. Dengan teladan, pengingat yang hangat, dan pembiasaan positif, nilai-nilai luhur kepahlawanan dapat ditanamkan ke dalam dada generasi penerus bangsa.
Apel pun ditutup dengan satu amanat mendalam yang layak dijadikan renungan bersama: “Jadilah generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, dan besar manfaatnya bagi sesama.” Tuturnya.
Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan









